CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
HITUNG SAMPAI 5


__ADS_3

“Kalian jadi ke pasar Klewer?” tanya Mukti saat sedang sarapan.


“Jadi Mas. Mas mau titip apa?” tanya Ayya. Hari ini dia dan Sri akan jalan-jalan ke pasar Klewer tanpa Mukti. Karena Mukti akan ke pameran.


“Nggak Sayank, Mas nggak mau titip apa-apa,” kata Mukti.


“Nanti kabarin Mas ya,” pesan Mukti.


“Iya, aku pasti akan kabarin Mas,” jawab Ayya.


Ini adalah minggu kedua Mukti membuka pameran yang masih akan berjalan lima minggu lagi.


“Wah senangnya. Semua yang kita inginkan sudah dapat. Ayo kita pulang,” ajak Ayya. Ayya dan Sri pun segera pulang ke rumahnya.


“Kalian mborong apa?” tanya Ambar.


“Biasa Ma baju sehari-hari saja. Nggak ada hal yang penting kok,” balas Ayya.


“Dari tadi aku nggak bisa hubungi Mas Mukti. Kenapa ya Ma? Dia minta aku lapor, tapi sejak jam makan siang Mas Mukti enggak ada respon. Aku telepon enggak bisa,” lapor Ayya.


Percakapan terakhir secara langsung ketika Mukti berbisik dia sudah transfer uang belanja Ayya, ketika Mukti mencium saat akan masuk mobil. Lalu pembicaraan berikut saat Ayya akan berangkat ke pasar dan setiba di pasar. Tentu by call bukan chat. Sehabis itu saat di taksi menuju rumah Ayya tak bisa menghubungi Mukti.


“Masa sih nggak bisa dihubungi?” tanya Ambar.


Perempuan itu langsung mengambil ponselnya dan benar memang Mukti tak bisa dia hubungi.


“Coba kamu tanya sama Wayan dan Made apakah mereka tahu di mana Mukti,’ saran Ambar.


Ayya pun mencoba nomornya Made dan Wayan tapi kedua nomor itu juga tidak aktif.

__ADS_1


“Loh mereka bertiga kenapa ya Ma? Semuanya off lho. Nggak ada yang bisa dihubungi.”


“Mama nggak tahu lah. Mungkin memang mereka di luar jangkauan. Pergi bertiga dan lokasinya benar-benar nggak ada signal.


“Iya Ma. Bisa jadi begitu,” jawab Ayya lalu dia pun sibuk dengan Sri.


“Aku belum bisa hubungi Mas Mukti loh Ma.” kata Ayya padahal sudah jam delapan malam.


“Ya sudah kamu sekarang tidur dulu. Jangan sampai kamu jadi sakit,” jawab Ambar. Dia juga bingung tak seperti biasanya Mukti seperti ini. Saat sibuk persiapan saja selalu memberi khabar dan sellau pulang.


“Apa kalian ribut?” tanya Ambar.


“Mana pernah kami ribut Ma. Nggak ada acara berantem atau ribut kok,” kata Ayya lagi.


“Santai saja pasti hanya ada miss understanding. Nggak mungkin Mukti kenapa-napa. Kalau ada hal yang urgent pasti dia akan hubungi nomor Mama karena dia hafal nomor Mama tidak perlu pakai ponsel sendiri. Bisa pakai ponsel nomor lain,” jelas Ambar.


“Ma, aku takut kenapa-kenapa. Nomornya belum bisa aktif juga,” ucap Ayya ketika salat subuh.


Abu sekarang pun ikut khawatir karena kemarin siang Mukti tak bisa dihubungi oleh siapa pun.


Sekarang satu rumah semuanya khawatir tentang Mukti. Mereka mencoba menghubungi nomor-nomor yang mereka miliki tapi tak ada yang tahu di mana Mukti berada.


Aku kepameran saja deh Ma,” kata Ayya.


“Aku takut terjadi kenapa-napa. Paling tidak aku bisa melacak kemarin terakhir dia dengan siapa,” kata Ayya.


Ayya pun menyiapkan makan siang untuk Mukti siapa tahu, tunangannya belum makan. Sri membantu Ayya untuk memasukkan makanan. Ayya juga membawa jus seperti biasa.


“Aku berangkat ya Ma, Pa, Eyang. Aku pergi dulu,” pamit Ayya.

__ADS_1


“Kamu nggak mau diantar saja? Pak Parman kan nganggur,” tegur eyang Angga.


“Aku sudah pesan taksi online kok. Tenang saja Eyang,” jawab Ayya.


“Ya sudah. Hati-hati ya. Nanti kalau dapat kabar terakhir kasih tahu Mama,” kata Ambar. Dia pun juga cemas mengetahui anaknya belum ada kabar sama sekali.


“Iya Ma. Aku akan kabari. Tenang saja.” Jawab Ayya.  Ayya pun langsung bergegas ke tempat pameran.


Ayya terus mencoba menghubungi Mukti, Wayan atau Made. Tapi belum menyambung juga.


Ayya masuk ke ruang pameran, dia memperhatikan sekeliling. Teleponnya masih terus mencoba menghubungi Mukti. Saat itulah panggilannya tersambung.


“Iya Sayank,  kenapa?”


“Mas ada di mana?” tanya Ayya. Dia cukup lega Mukti menjawab panggilannya. Walau dongkol Mukti seakan tak bersalah sudah menghilang sejak kemarin siang malah tanya kenapa saat dia hubungi.


“Mas ada di pameran lah,” balas Mukti.


“Oh ya? Di sebelah mana Mas? aku di ruang pameran persis di bawah tempat pahatanmu,” kata Ayya jelas.


“Aku tunggu Mas di sini sekarang.”


“Eh, kamu … kamu …,” kata Mukti terbata.


“Iya, kenapa Mas? Mas nggak bisa ke sini sekarang juga? Katanya Mas ada di ruang pameran. Mas lagi di mana?” tanya Ayya curiga. Karena background-nya Mukti itu sangat senyap. Tidak seperti di ruang pameran yang sangat ramai seperti sekarang.


“Aku hitung sampai hitungan ke-5 kalau Mas nggak ke sini, aku pulang!” ancam Ayya.


Dan Ayya benar menghitung sampai 10 Mukti tidak ada. Ayya pun langsung pulang.

__ADS_1


__ADS_2