
Ambar tak percaya, di pojok cafe dia melihat Ayya yang melambai pada dirinya. Ayya berdiri menghampiri Ambar dan memeluk perempuan tersebut tentu sesudah dia memberi salim mencium tangan Ambar Ambar memeluk erat perempuan tersebut.
“Kamu ke mana saja Sayang? Nggak kangen Mama? Nggak kasihan Mama?” rajuk Ambar pada anak tersebut.
“Kangen pasti. Tapi kasihan enggak. Kenapa harus kasihan sama Mama? Mama sehat kok. Mama baik kok. Mama nggak perlu dikasihani, karena Mama harusnya disayangi,” kata Ayya.
“Kalau kamu sayang Mama seharusnya kamu nggak pergi begitu saja. Seharusnya kamu bicara sama Mama,” sesal Ambar.
“Mama bisa bayangin bagaimana rasanya kalau Mama yang jadi aku Ma?” tanya Ayya memandang wajah teduh Ambar.
“Hari Sabtu dia nggak pulang, hari Minggu siang aku telepon dia bilang ada di pameran padahal saat itu aku di pameran dan saat aku telepon HP-nya senyap bukan berisik seperti ada di pameran. Hari Senin kami nggak bicara. Hari Selasa siang aku dapat video itu Ma. Sejak hari Selasa siang dan sepanjang malam itu aku nggak tidur sama sekali. Akhirnya aku mutusin hari Rabu subuh aku mau pergi. Tapi aku pikir kalau aku pergi subuh pasti semua orang heboh dan kendaraannya sulit pasti gampang ketahuan.”
__ADS_1
“Aku kebetulan dengar Mama mau pergi ke bank hari itu sama eyang. Jadi aku memutuskan begitu Mama pergi itulah aku juga pergi sehingga aku bisa tenang mengirim video ke Mama. papa sama mas Sonny. Aku sengaja kirim setelah aku menjauh. Kalau aku masih di Solo pasti aku bisa ke kejar.”
“Lalu kamu ke mana Sayang?” kata Ambar. Mereka sudah duduk Ayya sudah memesan jus alpukat dan jus sirsak. Alpukat tentu untuk Ambar jus sirsak untuk Ayya sendiri.
“Ada lah Ma. Pokoknya aku tidak di Solo. Aku pergi. Aku sempat sampai Banyuwangi. Aku sempat ke pesarean ( makam ) nenek dan kakek di sana. Pokoknya pergilah Ma. Aku nggak ingin lagi tinggal di sini. Aku nggak bisa Ma,” kata Ayya.
“Tapi kejadiannya nggak seperti itu Yu. Kamu harus mengerti kejadiannya nggak seperti yang kamu lihat. Memang betul itu kejadian yang sebenarnya. Real dia making love betul. Tetapi penyebabnya bukan karena dia sama-sama suka. Tidak! Dia baru bertemu saat kejadian. Jadi kamu harus bedakan dua hal prinsip itu. Dia baru ketemu saat kejadian itu, karena dia dijebak dan bukan cuma Mukti yang dijebak tapi Wayan dan Made juga sama.”
“Ya itu kesalahan dia. Mama akui itu kesalahan dia. Sampai hari Senin saat dia pulang pun Mama mendesak dia, tetap nggak mau bilang apa yang terjadi. Karena dia ingin menyelesaikan semuanya sendiri. Kamu tahu dia habis dihajar sama Aksa saat hari Rabu malam.”
“Astagfirullah … dipukulin sama Aksa Ma?” tanya Ayya. Dia tak percaya hal itu terjadi.
__ADS_1
“Ya dia dipukul Aksa, karena Aksa marah kamu disakiti. Tapi Mukti sama sekali tak melawan. Dia menerima semuanya yang penting semua orang puas karena sudah memarahi dia. Dan waktu dia kami panggil ke kantor papa dia nggak berani bawa mobil karena kaget melihat ada video dari kamu. Dia sendiri nggak punya video itu.”
“Kok aneh Ma? Dia nggak punya video itu.” kata Ayya.
“Itu yang Mama sampai sekarang nggak mengerti. Begitu pun papa dan semuanya nggak ada yang tahu kenapa cuma kamu yang dikirimin video. Made, Mukti dan yang lainnya tidak ada.”
“Seharusnya kamu kasih nomor yang mengirimkan video itu ke Mama. Biar nanti dilacak oleh papa atau mas Sonny apa tujuan dia membuat kamu seperti ini,” kata Ambar.
“Aku pikir dia tahu Ma. Aku pikir mas Mukti tahu video itu,” ucap Ayya terbata.
“Mukti kaget mengetahui kamu punya video itu dan kamu pergi. Jadi dia sama sekali tidak punya video tersebut. Begitu dia tahu ada video dari papa karena yang ngirim ke Mukti adalah papa dia langsung tidak berani nyetir karena dia yakin dia pasti tidak akan konsentrasi. Kalau pun konsentrasi dia pasti sengaja menabrakan diri. Jadi dia sengaja tidak mau menyetir ke kantor papa.
__ADS_1