CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAK AKAN CABUT KASUS


__ADS_3

“Apa kamu punya niat mencabut pelaporan?” tanya Putut pada Ayya.


“Tidak akan Pak. Saya tidak akan pernah mencabut pelaporan karena nanti berimbas pada Bu Ambar dan Pak Abu,” jawab Komang Ayu.


“Baik. Ayo kita masuk ke ruang sidang karena saya sudah yakin pak Mukti juga tidak akan mungkin mencabut laporan,” kata Putut lagi.


Di ruang sidang saat Komang Ayu dan Mukti duduk mereka melihat Saras masuk bersama dengan pengacara dan dikuti dengan kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Saras pernah menemui Mukti, tapi Mukti tak mau mencabut dan bilang silakan berurusan dengan pengacaranya. Buat Mukti perbuatan Saras sudah tindakan kriminal. Itu tak bisa dimaafkan begitu saja. Bukan karena korbannya adalah Ayya, tapi memang siapa pun korbannya perbuatan Saras tetap tidak baik.


Orang tua Saras sangat prihatin karena kelanjutan hidup Saras akan sangat suram. Sekarang saja seluruh keluarga besar sudah menjauhi mereka.


Mereka sadar itu adalah konsekuensi dari kejahatan yang Saras buat. Walau mungkin dia tidak berpikir akibatnya, tapi memang itu bukan tindakan spontan karena dilakukan berulang. Kedua orang tua Saras menyadari anaknya memang sejak kecil tak mau kalah. Bila kalah dia akan melakukan kecurangan agar bisa menang.

__ADS_1


Sekarang semua teman-teman Saras dari SD hingga kuliah juga teman-teman seniman tak ada yang mau mendekat lagi pada perempuan tersebut. Semua sudah menjauh.


Walau Saras belum ditahan di dalam penjara, tetapi Saras sudah menjadi tahanan kota, Saras tidak boleh meninggalkan kota dan tiap minggu harus lapor ke kantor polisi.


Kegiatan Saras sekarang tak ada lain selain melukis di dalam studionya saja. Saras tak berani keluar kemana pun karena setiap keluar pasti dia dicemooh.


Bahkan beberapa karyawannya di studio juga minta keluar karena mereka dikecam keluarganya jangan mau bekerja pada orang yang tidak stabil emosinya atau labil pemikirannya seperti Saras. Mereka takut keluarganya yang bekerja di studio Saras akan kena dampak perilaku Saras yang tidak wajar tersebut.


Satu persatu semua pegawai mundur, siapa yang akan berani mengambil resiko bila Saras marah lalu akan membuat kelakuan yang sama dengan perlakuan pada Komang Ayu.


Saras sangat menyesal mengapa dia mengikuti hawa nafsu untuk mencelakai Komang Ayu yang dia anggap saingan beratnya. Sejak dulu dia tahu Lingga juga menyukai Mukti. Keduanya sama-sama pelukis. Itu sebabnya Saras menyerang lebih dulu agar tak didahului Lingga.


Saras tentu kaget ternyata ada yang lebih dekat dengan Mukti selain Lingga. Itu alasan utama mengapa Saras sangat membenci Komang Ayu.

__ADS_1


Semua tentu ingin tahu bagaimana nasib Saras. Tak ada saksi yang meringankan Saras, karena memang tak ada teman yang mau menjadi sekutunya. Semua saksi memberatkan bahkan pengacara Saras juga masih bingung mencari saksi yang meringankan kliennya.


“Kita makan siang dulu yuk,” ajak Mukti pada semua teman juga Pak Putut.


“Maaf bukan saya menolak rezeki,” kata Putut cepat.


“Tapi saya masih ada agenda lain. Jadi saya langsung pulang saja.”  Putut melanjutkan jawabannya tadi.


“Baik Pak Putut. Terima kasih, kami makan siang dulu sebelum berpisah karena kami juga harus bersiap untuk berangkat ke Jakarta.”


Besok rombongan Solo akan berangkat ke Jakarta kemungkinan Mukti akan berangkat dari Bali beberapa hari sebelum pernikahannya Sonny dan Adelia.


__ADS_1



![](contribute/fiction/6969677/episode-images/1691191529078.jpg)


__ADS_2