CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
LOKASI IMPIAN GADIS KECIL


__ADS_3

“Ya benar Bu, kami bukan hanya tuan dan sekretaris. Dia calon istri saya. lima minggu lagi kami menikah,” ucap Mukti.


“Oh pantas ke mana-mana berdua,” jawab Suwarni tersenyum.


“Kami tinggal satu rumah kok Bu. Sudah satu tahun,” kata Ayya dengan tersenyum manis menggemaskan.


“Benarkah? Apa tidak dilarang orang tua Ibu?” tanya Bu Suwarni dengan pandangan tak percaya dan matanya terbelalak.


“Apa kalau yang tinggal satu rumah pasti berbuat yang tidak dibolehkan oleh agama Bu? Apa sudah pasti orang yang tidak tinggal satu rumah itu selalu bersih?” Ayya balik menikam ibu tersebut dengan menekan kata TIDAK TINGGAL SATU RUMAH!


“Ibu sudah tahu kasusnya Karenina dan Ellyandri?” tanya Ayya.


“Minggu lalu sudah viral lo Bu. Mereka nggak satu rumah dengan pasangannya. Tapi jualan ke mana-mana kan Bu? Maaf loh itu mahasiswi Ibu,” kata Ayya. Bu Suwarni langsung merah wajahnya. Dia jadi ingat dua kasus mahasiswa yang sedang viral sejak minggu lalu karena ternyata mereka itu ayam kampus bahkan yang satunya mucikari.


“Saya berani seret Ibu sekarang juga ke dokter untuk periksa bahwa saya masih virgin,” kata Ayya menantang ibu Suwarni.


“Oh maaf, maaf saya tadi tidak ingin menuduh hal yang buruk seperti itu. Maaf.”


“Karena kata-kata Ibu tendensius ke sana Bu. Sehingga calon istri saya menjawab seperti itu. Kami bukan pasangan yang tidak bermoral seperti mahasiswi ibu itu. Katanya mahasiswi tapi tindakannya lebih buruk dari seorang penjaja, yang memang benar-benar terbuka menjajakan barangnya. Mereka penjaja yang berkamuflase sebagai mahasiswi,” jawab Mukti.


“Maaf, saya sudah ditunggu rombongan. Permisi,” kata Bu Suwarni. Dia tak berani meneruskan percakapan tersebut. Dia sudah salah sejak awal menanyakan hubungan Mukti dan Ayya.


“Mama tadi telepon aku Ma?” tanya Ayya saat mereka selesai makan tapi masih di cafe gelatto.


“Iya Sayang, tadi Mama telepon kamu,” balas Ambar.

__ADS_1


“‘Ada apa ya Ma?” tanya Ayya.


“Mama Vonny memutuskan pernikahan kalian sama seperti Mama kemarin. Lamaran di rumahmu di Badung, lalu akadnya di Denpasar di homestay kita dan resepsinya outdoor di pantai Uluwatu di halaman villa milik kita,” kata Ambar.


“Aku manut Ma. Kami tidak menentukan soal di mana tempat resepsi bahkan tanpa resepsi pun kami nggak apa-apa sih. Tapi aku sangat senang banget, karena Mama memilih tempat itu. Tempat yang aku impikan jadi tempat resepsiku sejak aku SMP,” jawab Ayya, yang membuat Mukti terbelalak. Dia lupa tanya impian kekasih hatinya berkaitan dengan pernikahan.


“Itu bukan pilihan Mama. Itu pilihan mamamu. Mama Vonny,” kata Ambar. Dia akan melaporkan pada Vonny kalau ternyata pilihan Vonny sesuai impian Ayya sejak kecil.


“Dan tante Laksmi juga setuju resepsinya dibuat di pantai Uluwatu.” jelas Ambar.


“Oke Ma, siap,” kata Ayya.


“Ya sudah Mama cuma mau bilang itu. Persiapannya yang dari Jakarta dan Solo sudah semakin lengkap,” ucap Ayya.


“Persiapan dari Jakarta apa Ma?” tanya Ayya.


“Seragam lamaran dari pihak aku kan cuma papa Wayan, Ma,” kata Ayya.


“Jangan cuma papa lah Honey, pakde Saino dan bude Saino masukkan di daftar keluargamu,” kata Mukti.


“Begitu pun Made dan Wayan masukkan di keluargamu beserta istri mereka atau masukin Pram juga untuk di acara lamaran jadi keluargamu tidak hanya papa Wayan.” Mukti tentu tak ingin Ayya merasa tak punya keluarga.


“Oke, noted!” kata Ayya. Dia setuju, terlebih pakde Saino dan bude Saino dimasukkan pada keluarga dari mempelai wanita.


“Sri juga masuk di keluargamu. Untuk perhitungan pakaian akad atau pakaian seragam resepsi,” kata Mama Ambar.

__ADS_1


“Lalu pakaian seragam untuk resepsi apa?”


“Untuk resepsi ada pakaian seragam orang tua, lalu pakaian seragam keluarga inti, seperti Aksa mas Sonny dan Adel. Dari pihak kamu tak ada keluarga inti karena kamu anak tunggal. Tapi ada keluarga besar. keluarga besar nanti itu masuknya sama seperti tante Laksmi Fahri Farhan dan sebagainya itu masuk di keluargamu,” kata Ambar.


“Untuk resepsi yang menemani papamu di acara adalah mama Vonny. Papa Ariel sudah kasih izin begitu pun tante Laksmi jadi semuanya sudah fix.


“Iya Ma aku manut. Semuanya aku manut, kami cuma rancang undangan dan souvenir kan? Karena mas Mukti nggak mau itu diambil alih oleh orang lain. mas Mukti maunya dia yang urus kalau masalah souvenir dan undangan.”


“Fotografer juga kami sudah siapin Ma,” kata Mukti. Mereka memang bicara berdekatan agar terdengar oleh Ambar. Sengaja tidak di speaker, tak enak terdengar oleh orang lain.


“Mama rasa cukup sampai situ dulu. Nanti kita sambung lagi bila ada yang teringat. Oh iya, kamu kirimkan ukuran sepatu, pakaian dalam dan make upa apa yang kamu gunakan pada mama Vonny.”


“Buat apa Ma?”


“Mamamu itu aneh, masa hantaran mempelai wanita dia yang mau belikan dan siapkan. Kalau tak dilarang papa Abu, bahkan semua biaya nikah kalian ingin dia yang cover, papa Abu dan papa Ariel sampai berdebat berkepanjangan, untung ada Dwi yang bertugas menengahi mereka,” jelas Ambar.


Ayya dan Mukti tak percaya. Vonny dan Ariel yang hanya mama sambung dan baru bertemu belum satu tahun sudah minta menanggung semua biaya, padahal maunya Mukti semua biaya dia yang tanggung. Dia akan mentransfer semua ke rekening mama Ambar secara diam-diam karena kalau bilang pasti mamanya juga tak akan mau.


“Oke Ma, kabari saja kalau ada yang perlu dibahas. Data ukuran tubuhku nanti aku telepon langsung ke mama Vonny. sekarang kami baru akan pulang.”


“Kalian belum di rumah?”


“Belum Ma. Baru selesai makan,” jawab Mukti.


Ayya dan Mukti pun langsung keluar dari cafe gelatto, saat itu tak sengaja Ayya ditubruk dan bajunya kotor kena es krim.

__ADS_1


“Maaf!” kata seorang perempuan cantik yang menumpahkan satu mangkok besar es krim coklat di baju Ayya.


__ADS_2