
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kamu ngapain toh Nduk bawa lauk repot-repot?” Bude Ati tak enak menerima lauk serta buah yang Ayya bawakan. Bude Ati dan pakde Saino juga terbiasa memanggil Ayya. Karena mereka tahu Ayya sejak masih dalam kandungan.
“Enggak Bude ini memang sudah masak dari tadi, jadi kalau enggak aku bawa ke sini nanti enggak ada yang makan,” jawaban diplomatis Ayya seakan bukan menyiapkan khusus buat makan malam kali ini.
“Terus kamu kapan rencananya kembali ke tempat kerjamu?” Tanya Pakde Saino.
“Besok sore Pakde, diantar papa,” jawab Ayya dengan bahagia.
“Wah senang ya Nduk, diantar papa,” ucap Bude,
“Iya biar Papa tahu tempat kerjaku, jadi gampang kalau cari aku atau ngejemput aku,” kata Ayya.
“Oh iya No. Besok barangnya sudah mulai datang dan lusa mulai ada yang kerja seperti yang saya bilang kemarin,” Wayan memberitahu soal material yang sudah dia pesan.
“Saya pikir Bapak pakai arsitek terkenal sampai dia datang pakai mobil mewah kemarin,” kata pakde Saino. Dia tetap menyebut Wayan dengan panggilan BAPAK seperti saat masih bekerja sebagai sopir pria itu.
“Yang naik mobil mewah kemarin orang tanya alamat kok,” kata Wayan dengan gugup.
“Tapi dia sempat ngobrol lama karena iseng tanya-tanya,” Wayan menjelaskan mengapa kemarin pemilik mobil mewah cukup lama berada di rumahnya.
“Oh gitu, kirain memang teman lama Bapak. Karena saya lihat dia ngobrol lama di rumah Bapak kemarin malam. Saya mau ke situ enggak jadi. Kalau Bapak enggak ke sini nanya tukang ,saya juga enggak tahu,” Kata Pakde Saino.
Rupanya Wayan tanya pada Pakde Saino tukang bangunan di daerah situ karena dia orang baru dilingkungan ini.
‘*Siapa orang dengan mobil mewah yang datang kemarin malam*?’ pikir Ayya. Tak sadar dahinya sampai berkernyit memikirkan siapa tamu papanya itu.
__ADS_1
“Sudah ayo kita makan enggak usah mikirin pembangunan kios. Mudah-mudahan kios lancar sehingga semuanya berjalan sesuai dengan keinginan.” bude Ati mengajak semua makan malam bersama.
“Aaaamiiin,” kata Wayan.
“Sayang Sukma tak bisa melihat semua ini, bagaimana aku dan Ayya kembali berkumpul.”
“Dia pasti melihat apa yang Bapak lakukan,” kata pakde Saino.
“Iya aku yakin dia melihat semuanya dari alam keabadian,” jawab Wayan. Mereka pun menuju ruang makan untuk makan malam bersama.
“Pa aku antar sarapan buat Bude dulu ya,” pamit Ayya, pagi ini dia membuat bubur ayam buat Papa dan bude serta Pakde Saino.
“Ya,” jawab Wayan sambil mengelap motornya.
“Aku ini hanya asisten pribadi seorang pemahat aja,” jawab Ayya
“Yang kamu bilang nolongin kamu itu?” Wayan ingin tahu semua hal tentang putrinya yang sangat lama tak ada komunikasi terbuka dengan dirinya.
“Iya Pa, jadi waktu pas kejadian aku terima telepon bahwa Ibu meninggal, aku sangat putus asa. Karena waktu itu aku banyak berutang ke manajemen juga teman-temanku buat obat ibu saat dia butuh banyak biaya. Tentu aku enggak bisa pulang. Saat itu pemahat sedang ada di cafe, dia dan teman-temannya menolong aku membebaskan utang-utang ku.”
“Dan secara pribadi Mukti nama boss aku itu, menolongku membelikan tiket pesawat. Itu pertama kali aku naik pesawat Pa,” kata Ayya jujur.
“Ketika itu uang di kantong aku cuma ada Rp20.000. Aku tadinya mau jual hp-ku begitu tiba di Bali agar bisa pulang ke Badung. Ternyata dia tahu dan memberi aku uang. Aku juga diantar ke rumah karena bosku itu menyuruh sopirnya mengantar aku agar tak terlambat menguburkan ibu.”
“Dia memberikan banyak uang untuk sampai selesai pemakaman, semua uangnya aku berikan pada Bude karena waktu itu aku juga dikasih uang duka sama bosku selain uang ongkos jadi semua aku serahkan ke Bude sampai acara 40 hari pengajiannya ibu.”
__ADS_1
“Tapi di hari ketiga aku sudah kabur lagi ke galeri pak Mukti Pa. Yang aku ceritakan dulu itu aku mau diperkosa yang kedua kalinya jadi aku kabur dari rumah.”
“Saat itu dia mau berangkat ke Jakarta, jadi aku dibawa ke Jakarta tanpa bawa baju dan aku cuma bawa sandal jepit aja. Aku kembali dikasih uang buat beli pakaian maupun buat pegangan aku. Sejak saat itulah aku jadi asisten pribadinya.”
“Itu sebabnya aku enggak bisa kalau harus berhenti kerja buru-buru. Aku masih punya utang budi. Bukan utang uang karena dia tetap membayar aku dengan gaji, aku punya utang budi Pa. Enggak enak dia sudah banyak menolong aku.”
“Jadi Papa sabar ya, jangan minta cepet-cepet aku keluar. Setidaknya 3 bulan lagi lah baru bisa keluar dan hidup bersama Papa dan semoga aja saat itu toko kita sudah berjalan lancar jadi kita enggak kekurangan lagi. Uang tabungan aku nanti bisa buat tambahan modal,” jelas Ayya \[ada Wayan.
“Soal uang enggak usah kamu pikirin, Papa masih ada sedikit. Kemarin Papa juga sudah hidupkan nomor motor lagi. Sehingga motor tidak apa-apa di pakai keluar kampung. Kamu tahu kan dulu motor itu sama sekali tak bisa dibawa keluar, karena nomor pajaknya mati. Papa juga sudah service sehingga jalannya sudah lumayan lancar,” kata Wayan.
“Iya Pa, enggak apa-apa kita terima aja kondisi ini semuanya. Yang penting kita bersama, jangan terpisah lagi. Cukup sudah penderitaan aku sejak dulu bersama ibu. Pasti ibu juga ingin kita berdua bahagia,” Ayya menghibur sang papa agar menerima semua yang ada sekarang daripada hidup mewah dengan Dewi dulu.
“Iya Ya, kita harus bahagia bersama. Mungkin nanti ditambah bersama suami dan anak-anakmu.”
“Apa Papa enggak ingin menikah lagi? Silakan aja kalau Papa ingin mencari pengganti ibu atau Bu Dewi,” Ayya tak mau mengekang papanya.
“Ibumu tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun, kalau sejak dulu saat menikah dan diinjak-injak Dewi Papa mau cari perempuan lain tentu Papa cari perempuan yang mau dengan lelaki kaya seperti kondisi Papa saat itu. Tidak malah mencintai ibumu yang belum tamat SMA.
“Cinta Papa kepada mantan-mantan pacar Papa di kampus tidak ada yang seperti cinta Papa pada anak kecil yang ada di rumah yaitu ibumu.”
“Cinta Papa pada ibumu sangat tulus dan ibumu juga mengerti hanya dia yang bisa membuat Papa tersenyum bahagia. Papa tak pernah melakukan hubungan suami istri dengan siapa pun kecuali dengan Dewi saat kami baru awal menikah. Itu pun hanya jarang-jarang karena Dewi ternyata punya pacar lain walau kami sudah menikah.”
“Hanya kepada ibumu saja cinta dan hasrat Papa. Tak akan mungkin ada lagi perempuan lain. Cukup kehidupan Papa dulu, sekarang kehidupan Papa untuk kamu dan anak-anakmu kelak,” Wayan memaparkan apa yang dia inginkan sekarang.
Ayya tak percaya cinta Papanya teramat besar pada ibunya dan cinta sang ibu juga sangat besar, sampai dia tak membolehkan papanya pindah agama bila hanya untuk menikahinya. Sukma ingin Wayan memeluk agama yang dianut dari hatinya bukan karena ikut Sukma.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.
__ADS_1