CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ENGGAK ADA MANIS-MANISNYA


__ADS_3

“Kenapa enggak diangkat?” tanya Sri melihat Komang hanya memperhatikan ponsel bagusnya berdering dengan nama penghubung BOZZ BESAR.


“Aku pikir tadi cuma miscall, biasanya dia kalau miscall itu minta aku hampiri dia. Karena sekarang posisi kami enggak di rumah, pastikan dia akan kirim pesan di mana aku harus temuin dia,” jelas Ayya.


“Ya sudah sih angkat. Buktinya itu bukan cuma miscall dan dan sudah dua kali berdering,” Sri mengerti. Tapi ini kan bukan missed call.


“Iya Mas,” Ayya pun mengangkat sambungan telepon dari Mukti


“Kenapa lama angkatnya?”


“Aku pikir tadi cuma missedcall dan aku nungguin pesan masuk seperti biasa,” jelas Ayya.


“Kamu di mana?”


“Dari tadi di kamar kok, enggak ke mana-mana,” jawab Ayya.


“Siap-siap sebentar lagi waktunya dandan,” pesan Mukti.


“Iya mama sudah telepon jam 05.00 sore ditunggu di ruang rias. Tadi mama bilang begitu,” sahut Ayya.


“Sebelum ke ruang rias ke kamar Mas dulu,” perintah Mukti.


“Kamar berapa?” tanya Ayya.


 ”1107.”

__ADS_1


“Baik, nanti aku ke sana. Mau dibawain apa? Pakaiannya kan udah ada di kamarnya 1011,” kata Ayya. Kamar rias laki-laki 1011 kamar rias perempuan 1013.


“Enggak, enggak perlu dibawain apa-apa,” jelas Mukti.


“Ya nanti aku ke sana dulu, sebelum masuk ke lantai 10,” janji Ayya.


Kamar tidur Ayya ada di lantai 8 dengan nomor 0805.


“Kenapa lagi?” tanya Sri.


“Suruh temuin dia sebelum aku rias,” jawab Komang Ayu.


“Nanti kamu temenin aku ya ke kamar dia,” pinta Komang Ayu.


“Enggak ah. Enggak enak.” tolak Sri.


“Ayo Sri, kita ke lantai 11 dulu. Ingat ini pakaian kamu. Kamu nanti dandan sendiri dan saya sudah itu kamu hubungi aku aku keluar mungkin habis maghrib karena yang didandanin banyak atau kamu bisa nungguin di ruang rias juga,” Komang Ayu memberitahu pakaian yang akan Sri gunakan untuk acara pesta malam nanti. Dia siapkan diatas ranjang.


“Enggak ah aku di kamar aja tidur-tiduran atau lihat-lihat media sosial ku,” kata Sri.


“Sekarang temenin aku dulu,” rengek Komang Ayu.


“Mas, aku sudah di depan kamar,” Ayya sengaja tidak mengirim pesan. Takut lama terbaca. Dia langsung menghubungi Mukti saat mendekati kamar 1107.


Mukti keluar membawa satu box snack basah yang dia siapkan buat Ayya.

__ADS_1


“Habiskan ini sebelum kamu dandan,” perintah Mukti. Kasih attensi enggak ada manis-manisnya. Super kaku.


“Tadi mama bilang mama punya roti dan snack basah. Ini enggak usah lah Mas. Buat Mas aja. Mas juga harus banyak makan sebelum di rias kan?” tolak Ayya.


“Ambil dan habiskan enggak usah bantah. Awas kalau sampai enggak habis. Kamu nanti di pesta akan sulit makan. Kamu malah ngurusin orang lain dan ingat sehabis selesai dandan temuin aku enggak boleh jalan sama siapa pun,” ancam Mukti walau tak membentak.


“Iya,” jawab Ayya pelan sambil menerima kotak kue.


Sri hanya menunggu di ujung lorong dia tak mau mengganggu pembicaraan Mukti dan Komang, terlebih setelah mendengar cerita bagaimana Mukti sangat mencintai Komang.


“Aku langsung turun ya Mas,” pamit Ayya.


“Ingat kalau selesai dandan kabarin Mas.”


“Kalau Mas duluan ya Mas telepon aku aja, kan perempuan dandannya lebih lama. Lagian banyak orang yang didandanin. Aku takut nanti belum siap Mas marah-marah,” kata Ayya mengantisipasi kemarahan Mukti.


“Ya ampun Komang, sampai sebegitunya pak Mukti menyiapkan satu kotak kue buat kamu makan sebelum dandan.”


“Dia pasti tahu mamanya sudah siapkan snack buat semua sebelum rias. Mamanya tadi telepon kamu bilang ada roti dan banyak snack. Pasti mamanya juga bilang ke para lelaki yang di rias kan? Kenapa Pak Mukti sampai nyiapin khusus buat kamu pribadi?”


“Entahlah, aku juga bingung tapi dia sudah ancam aku harus habisin. Kamu bantu aku habisin ya.” pinta Ayya.


“Enggak mau. Aku mending ngambil kue lain nanti di kamar rias daripada jatahmu. Itu kan untuk kamu pribadi dari pak Mukti. Nanti aku kesalahan,” tolak Sri.


“Atau kamu bawa aja ini ke kamar, nanti buat makan kita di kamar.  Aku makan kue yang dari mama aja,” jawab Komang Ayu.

__ADS_1


“Enggak ah jangan sampai kayak begitu. Nanti ada yang lihat aku bawa kue dari pak Mukti bisa ribut lagi. Lebih baik aku nanti ambil yang dari Bu Ambar aja buat bawa ke kamar kita. Kali aja kita malam-malam ngerumpi kelaperan,” jawab Sri.



__ADS_2