
“Jadi jelas ya Bapak, saya tak mungkin mencabut laporan itu. Saya tak mau calon istri saya dikalahkan oleh permintaan Bapak yang tidak logik. Calon istri saya tidak bersalah, lalu disakiti oleh putriBapak. Kalau memang Sekar waras tentu dia tidak akan membalas pada Komang Ayu. Dan kalau Sekar waras seharusnya yang marah adalah Lingga bukan Sekar saya sama sekali belum pernah bertemu Sekar. Saya sama sekali tidak kenal Sekar. Mengapa Sekar melakukan seperti itu? Sekar bertindak menjadi pahlawan bagi Lingga. Apa saya menindas Lingga? Apa tindakan saya tidak menyapa Lingga itu pantas dibalaskan sedemikian rupa oleh Sekar sang pahlawan kesiangan? Silakan Bapak berpikir ulang siapa yang waras di sini. silakan Bapak adu argumentasi dengan pengacara saya karena bukan level saya berhadapan dengan orang yang tidak berakal. Bukan level saya berhadapan dengan orang tidak waras! Siapa pun yang melawan orang gila dia lebih gila dari orang gila tersebut.” kata Mukti dengan sangat jelas.
Ajik dan biyangnya Lingga masih diam terpaku. Mereka baru sadar ternyata mereka sama sekali tak kenal dengan putri mereka mereka baru tahu bahwa Lingga itu sering mabuk. Mereka baru tahu Lingga itu tidak manis dan polos seperti kalau di rumah dan mereka juga baru tahu ternyata selama ini Lingga mencari calon suami yang super kaya agar dia bisa bermalas-malasan tanpa kerja. Padahal dengan suami biasa-biasa saja tanpa kerja tetap saja cukup. Hanya karena gaya hidup Lingga yang senang bermabuk-mabukan dia butuh dana sangat besar. Sekali minum di club butuh uang sangat banyak. Dia mengkonsumsi minuman yang mahal bukan minuman ecek-ecek seperti di warung remang pinggir jalan.
‘Untung sejak awal aku memang tidak berniat membantu Lingga. sekarang terbuktikan feeling aku. Aku harus banting setir memperhatikan Anggi adiknya Lingga agar tidak salah langkah seperti Lingga,’ pikir ajik Lingga.
“Kalau begitu terima kasih atas waktu yang diberikan pada saya. Salam untuk Mbak Komang yang sedang sakit. Semoga dia cepat sembuh. Kami permisi dulu,” demikian maminya Sekar mohon diri. Dia tak bisa berkata apa-apa karena memang betul seperti yang Mukti katakan, apa urusannya Sekar dengan Komang Ayu dan mengapa juga dia membalas dendam pada Mukti wong dia tidak kenal. Hanya karena dia sepupunya Lingga bukan seharusnya dia ikut marah kalau Lingga kecewa. Maminya sekarang menyadari Sekar itu walaupun sudah lulus kuliah tapi masih grasa grusu seperti anak kecil. Tak berpikir panjang akibat dari tindakannya. Mungkin dia merasa menyiram es itu tidak bahaya, paling hanya menyebabkan demam seperti yang sekarang dialami oleh Komang Ayu. Dia tak berpikir bahwa itu adalah tindak pidana.
Dengan gontai kedua orang tua Lingga dan dua orang tua Sekar pamit. Wayan dan Made yang tadi mengantarkan mereka ke sini tak mau pulang bareng. Mereka katakan masih ingin berbincang dengan Mukti.
__ADS_1
Setelah kedua orang tua Sekar dan Lingga pulang, Mukti mengajak dua sahabatnya masuk untuk berbincang di ruang terbuka bagian tengah. Tempat ruang kerja Mukti juga ruang makan dan ruang serbaguna karena memang semua berpusat di ruang tengah itu.
“Pak Mukti, pak Made ini ada teh atau kopi panas silakan tuang sendiri-sendiri dan ini tadi Mbak Ayu bilang silakan dibawa pulang yang ada di thin wall besar ini,” kata Bu Pinem.
Bu Pinem menyiapkan kopi dan teh dalam thermos kecil dan juga toples gula. Dia menyiapkan satu piring srawut yang dikemas dengan daun pisang untuk ukuran sekali makan. Sedang yang srawut yang di thin wall untuk dibawa pulang Made dan Wayan.
Bu Ikhlas mengantarkan teh sore pada para pegawai, dia juga menyiapkan teh untuk 4 tukang yang bekerja di dalam juga bungkusan srawut dibungkus dengan daun pisang untuk para tukang itu.
“Ya dia pasti tahulah kalian nggak akan pulang bareng orang tua Sekar dan Lingga,” kata Mukti..
__ADS_1
“Ini terima kasih banget,” Made menunjukkan thin wall besar tempat srawut untuknya.
“Aku tahu harganya tidak seberapa, tapi atensinya itu tak terbayarkan,” kata Made.
“Itulah Komang Ayu,” kata Wayan.
“Ya dia memang selalu penuh kasih pada semua orang. Aku nggak mengerti orang sebaik itu kenapa selalu jadi korban perempuan-perempuan jahat di luar sana? Padahal dia sama sekali tak pernah melukai orang-orang tersebut.”
“Semoga setelah pernikahan kalian, dia tidak mengalami nasib buruk lagi,” kata Wayan.
__ADS_1
“Aaamiin,” jawab Mukti dan Made bersamaan.