CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TOLOK UKUR DISEBUT JANTAN


__ADS_3

“Aku hari ini nggak makan siang di rumah ya Ma,” Aksa memberitahu Ambar rencana kegiatannya hari ini. Memang kalau hari Sabtu dan Minggu biasanya Aksa di rumah tapi kalau dia ada kegiatan pasti dia pamit lebih dulu. Tidak seperti anak-anak ABG sekarang yang keluar masuk rumah semaunya. Aksa tetap pamit. Dia ingat saat mau masuk SMA dulu dan saat itu papa dan mamanya hendak bercerai semua dia bahas dengan Sonny. Karena itu sekarang juga semua hal dia bahas dengan Sonny dan Abu dia tak ingin salah langkah.


“Ada urusan apa?” tanya Ambar.


“Sekolah sedang seleksi untuk tim futsal Ma. Walau aku tidak ikut futsal tapi aku jadi tim seleksinya,” ucap Aksa.


“Tapi makan malam di rumah kan?” tanya Abu


“Acaranya sih selesai jam 03.00 atau jam 04.00 sore Ma, Pa. Kan kami akan seleksi sejak jam 10.00 pagi. Harusnya sih maksimal jam 01.00 siangsudah selesai ya. Setidaknya jam 02.00. Jam 03.00 lah aku baru bisa pulang,” ucap Aksa. Dia sama dengan Sonny yang tak suka nongkrong. Kalau Mukti suka nongkrong, tapi bisa pilih teman dan tak mau terpenaruh hal buruk dari lingkungannya.


Dalam keluarga Lukito bila ada tamu semua harus berkumpul terlebih saat ini ada Sonny dan Adelia tentu tidak etis kalau tuan rumahnya pergi dan lagi kehangatan keluarga akan berkurang bila satu orang tak ikut berkumpul. Saat ini juga ada Mukti dan Ayya. Jadi kesempatan langka berkumpul full team. Semua itu memang tidak boleh dilewatkan.


Untuk itulah Aksa benar-benar mohon maaf pada papa dan mamanya karena kan kedatangan Sonny dan Adelia juga mendadak, jadi bukan salah kegiatan Aksa.

__ADS_1


“Ya oke. Yang penting makan malam kamu ada di rumah,” jawab Abu.


“Kalian anggap aku cemen?” kata Aksa dengan senyum smirk-nya.


“Apa untuk dibilang macho atau menunjukkan kejantanan seorang lelaki itu ditunjukkan dengan merokok dan minum? Kalau  aku bilang, yang seperti itu tuh malah banci! Itu malah cemen. Kakakku dua-duanya berprestasi dan mereka nggak cemen tuh walau mereka tak merokok apalagi minum. Padahal mereka punya banyak uang, untuk beli satu kontainer rokok atau satu krat minuman mereka bisa.” jawab Aksa sinis.


“Mereka punya uang untuk beli rokok dan minuman dengan uang hasil kerja mereka sendiri! Tapi mereka nggak buang untuk dibakar atau cuma beli minuman. Mereka berikan uang yang lebih untuk fakir miskin. Kalian yang cemen dan banci! Ngerokok dan minum masih pakai uang orang tua saja sudah merasa bangga,” kata Aksa.


Aksa tahu berkali-kali Sonny bilang hal yang kita lakukan sekarang penyesalannya itu nanti dan itu tidak bisa dihapus. Sejarah itu tidak bisa dihapus karena itu Sonny selalu wnti-wanti kalau tak ingin menyesal jangan pernah melakukan hal buruk.


Sonny dan Mukti pernah tinggal sendirian di luar negeri. Di negara yang bebas untuk minum, tidak sembunyi-sembunyi seperti di Indonesia. Bahkan di sana banyak yang pergaulan bebas soal hubungan perempuan dan lelaki. Tetapi kedua kakaknya tak pernah melakukan itu.


Aksa juga sudah mulai tahu Mukti pernah melakukan kesalahan dan kesalahan itu bukan niat awal dari Mukti tapi karena pengaruh obat dari eyang Menur pada Vio dan kehidupan bebas yang Mukti jalani itu tidak di negara barat sana tetapi di negara kecintaan dia. Bahkan ada saat Mukti ada di Bali. Jadi kita juga tidak bisa menyebutkan bahwa semua orang yang pernah tinggal di negara barat adalah selalu penganut kehidupan bebas.

__ADS_1


Di kampung pun, sekarang banyak yang menganut paham kehidupan bebas. anak-anak di kampung pun belum tentu usia belasan masih virgin. Jadi kita tidak bisa mengglobalisasi suatu hal menurut cara pandang orang umum. Semua kembali lagi tergantung personnya, tergantung pribadi masing-masing.


Aksa ingat cerita tentang kasus eyang Menur dulu sejak zaman dulu saja ibunya Mas Mukti sudah melakukan hal buruk yaitu hidup dengan hubungan bebas. Jadi paham itu bukan paham yang baru dan paham itu bukan dari dunia negara barat di mana pun hal seperti itu ada.


Itu sebabnya Aksa tak suka pandangan teman-temannya soal cemen dan macho kalau tolok ukurnya hanya dengan merokok atau minum saja.


Aksa bergelut dengan berkas peserta seleksi futsal. Dia tidak jago futsal tapi dia mengerti sedikit-sedikit. Dia direkrut oleh guru pembimbingnya untuk membantu penyeleksian tim futsal sekolah.


“Jadi rincian penilaiannya seperti itu ya Aksa, Bagas, Ahmad dan Martin,” kata sang guru pada siswa yang dia minta untuk membantu meringankan tugasnya.


“Iya Bu, saya mengerti kok,” jawab Aksa. Guru olah raga Aksa memang perempuan tapi untuk kemampuannya dia sama dengan guru olah raga laki-laki. Gender tidak membedakan kemampuan guru tersebut.


“Oke kita mulai ya. Ini sudah jam 10.00 tepat. Nanti waktu kita terbuang banyak kalau kita terlambat. Saya masih ada acara lain,” kata sang guru. Dia minta pada semua team kerjanya bersiap untuk memulai acara seleksi tim pemain futsal sekolah.

__ADS_1


__ADS_2