CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
DILARIKAN KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

“Aku pamit sebentar ya, aku takut Ayya kenapa-kenapa,” kata Mukti pada dua sahabatnya.


Made menuangkan kopi ke dalam cangkirnya dan dia tambahkan creamer serta gula.


Wayan pun sama menuangkan kopi tanpa diberi gula atau creamer.


Mereka mulai makan srawut yang disediakan oleh bu Pinem tadi.


Mukti memasuki kamar di belakang, dia lihat Ayya berselimut padahal AC tidak dinyalakan.


“Apa dia demam lagi?” desah Mukti.


Mukti memegang kening Ayya dan ternyata sangat panas. Mukti menepuk pipi Ayya agar bangun untuk minum air putih yang banyak juga minum obat turun panas.


“Yank, bangun dulu. Minum yuk,” ajak Mukti. Tapi Ayya bergeming. Tak ada reaksi apa pun.


“Yank, bangun! Minum dulu,” kata Mukti. Ayya masih tetap diam.


Mukti langsung berlari ke ruang tengah. “Made atau Wayan siapa yang bawa mobil siapkan mobilmu, kita bawa Ayya  ke rumah sakit dia pingsan!” seru Mukti panik.

__ADS_1


Mukti benar-benar histeris. Dia masukkan dompetnya ke saku celana dia juga mengambil dompet Ayya. Ponsel miliknya sudah ada di saku.


“Mbak Ayu kenapa Pak?” tanya Bu Ikhlas ketika melihat Mukti menggendong gadis tersebut keluar kamar.


“Mungkin dia pingsan sejak tadi, kita nggak ada yang tahu. Kalau saya tidak lihat barusan aku juga nggak tahu, mungkin bisa sampai malam nanti.” jawab Mukti.


“Ya ampun,” kata Bu Pinem yang baru melihat Ayya diangkat Mukti. Mereka langsung membuka pintu lebar-lebar dan membawa Ayya naik mobilnya Made.


“Jangan ada yang bilang mama dulu. Nanti biar aku yang bilang,” kata Mukti. Dia takut Ambar langsung terbang begitu tahu Ayya dibawa ke rumah sakit.


Tapi namanya feeling Ambar itu tak pernah bisa dibohongi. Belum sampai rumah sakit telepon genggam Mukti berdering dengan caller id-nya Ambar!


“Bagaimana kondisi Ayya? Kok Mama takut ya? Kok Mama jadi wa-was sejak tadi?”


Mukti tak mau bohong karena itu bisa fatal buat dirinya juga.


“Mama tenang saja ya. Mama tenang. Barusan ada orang tuanya Sekar dan Lingga datang dan Ayya temui mereka. Habis itu Ayya masuk kamar. Aku, Wayan dan Made masih menemui kedua pasang orang tua mereka. Saat masuk dan mereka sudah pulang aku lihat Ayya pingsan Ma dan sekarang kami sedang menuju rumah sakit. Aku di mobilnya Made,” jelas Mukti.


“Apa?” teriak Ambar panik.

__ADS_1


“Mama tenang saja dan nggak usah sibuk cari tiket ke sini. Ayya nggak apa-apa. Nanti begitu habis pemeriksaan dokter aku akan langsung calling Mama. Mama tenang ya,” kata Mukti selanjutnya.


“Sekarang aku tutup telepon dulu ya Ma. Ini kami sudah masuk ke parkiran rumah sakit. Nanti aku sambung lagi.” Mukti tak bisa bayangkan bila mamanya telepon, kondisi Ayya pinsang dan mereka masih di rumah. Mungkin kepalanya akan diulek untuk bumbu rujak serut oelh Ambar. Untungnya dia sigap membawa anak emas Ambar ke rumah sakit.


Made memarkir mobilnya di teras IGD. Wayan langsung lari minta brankar pada perawat.


Mukti langsung menggendong Ayya dan dompet Ayya dia serahkan kepada Wayan agar tidak terjatuh.


“Apa yang terjadi?” tanya suster untuk mencatat kondisi pasien yang baru masuk.


“Semalam dia demam tinggi dan barusan pingsan,” jawab Mukti cepat.


“Baik kami akan periksa pasiennya,  Bapak silakan daftar ke bagian administrasi,” jelas perawat tersebut.


Mukti mengambil dompet Ayya, dia mengambil kartu identitas Ayya serta kartu rumah sakit yang memang Ayya miliki di rumah sakit ini.


“Keluarga nona Komang Ayu,” panggil suster, memanggil orang yang membawa Ayya.


“Saya,” jawab Mukti. Dia langsung berlari ke arah suster.

__ADS_1


“Dokter ingin bicara dengan Bapak,” jawab suster. Dia mempersilakan Mukti untuk menemui dokter yang memeriksa Ayya.


__ADS_2