CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
FLASH BACK 3


__ADS_3

Mukti melihat Made ada di cafe kemarin. Made bersama dengan perempuan berambut pendek yang juga wajahnya sangat kacau habis menangis.


Mukti tak tahu apa yang dikatakan Made terhadap perempuan tersebut yang pasti dia sudah mengatakan pada Made apa yang dia garis bawahi.


“Bapak nggak bisa begitu dong. Kami kan bukan bukan perempuan nakal. Kami juga nggak mau kok seperti ini. Bapak harus nikahi kami begitu kata perempuan yang bersama Made dengan tegas.


“Kamu pikir saya laki-laki nakal? Saya sama sekali belum pernah jajan! Saya nggak ada kewajiban menikahi kamu karena saya juga nggak mau kejadian tadi malam terjadi. Dan asal kamu tahu jangan karena kamu masih virgin lalu kamu merasa kamu rugi besar.”


“Kerugian saya 10 kali lipat dari kerugian kamu. Saya kehilangan calon pengantin saya. Saya kehilangan keluarga besar saya. Sedang kamu kalau kamu diam nggak ada yang tahu.”

__ADS_1


“Kejadian tadi cuma kamu yang tahu. Kalau kamu takut ketika akan menikah nanti, kamu bicara jujur pada calon sebelum serius. Kamu akui bahwa kamu sudah tidak virgin karena diperkosa. Itu beres,” bantah Mukti pada gadis yang bersama Made. Dia sangat kesal.


“Bahkan saya tidak tahu nama kalian siapa. Saya tidak pernah bicara dengan kalian sebelum kejadian. Lalu dengan enaknya kalian minta saya menikahi? Tadi di kamar saya sudah katakan kalau dia minta saya menikahi saya akan kabulkan. Saya akan urus administrasi saya akan urus semuanya tapi saat di depan penghulu saya akan bunuh diri. Karena tidak ada dalam kamus hidup saya menikah dengan perempuan lain selain Ayya tunangan saya. Kamu lihat saja apa yang akan keluarga saya buat bila kalian minta saya menikahi dia. Ini tidak main-main kalian bisa lihat,” kata Mukti geram dengan keras kepala mahasiswa yang bersama Made.


“Dan ingat, jangan pernah satu kali pun menghubungi saya atau menghubungi keluarga saya bila keluarga kalian tak ingin hancur. Satu kali saja kalian menghubungi kami, kamu ingat bukan kamu yang hancur tapi keluarga kamu.”


“Jadi kalau kalian hamil karena kejadian kemarin itu adalah kebodohan kalian,” kata Made.


“Harusnya kalian tahu langkah apa yang kalian harus diambil. Kalau soal menikah saya nggak tahu karena saya beda dengan pak Mukti. Tak ada perempuan dan keluarga besar yang saya sakiti. Yang pasti saya juga belum berpikir menikahi kamu walau kamu sengaja membiarkan ada bayi di perut kamu. Karena saya punya anak umur 5 tahun yang tidak mungkin saya berikan kepada perempuan yang tidak menyayangi anak saya. Tidak akan pernah saya berikan anak saya pada siapa pun. Jadi kalau ada seorang perempuan yang akan menikah dengan saya, itu karena dia jodoh anak saya. Bukan karena jodoh saya,” kata Made dengan jelas.

__ADS_1


“Lihatkan? Bukan kami yang tidak terima dengan kesialan kalian kehilangan keperawanan, kerugian kalian itu adalah buat diri kamu sendiri. Tapi buat kami kerugiannya lebih besar. Kami tidak mau main-main dengan pernikahan,” kata Mukti.


“Jadi mulai sekarang kita bahas langkah apa yang akan kita tempuh untuk permasalahan ini bukan mencari solusi dengan pernikahan. Sama sekali tidak ada bahasan itu lagi dalam pertemuan kita selanjutnya. Dan dalam setiap pertemuan saya tidak akan pernah mau berdua dengan siapa pun baik dengan kamu maupun kamu,” kata Mukti menunjuk dua perempuan tersebut.


“Nama saya Karenina dan dia Ellyiandri atau Andri. Jangan sebut kamu dan kamu tanpa nama,” protes Karenina yang lebih vokal daripada Andri.


“Saya tak mau tahu dan tidak butuh nama kalian,” kata Mukti tegas.


“De, kita harus cari Wayan,” kata Mukti pada Made. Saat itulah ponselnya Made berbunyi panggilan dari Wayan.

__ADS_1


__ADS_2