
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kamu seakrab itu dengan mamanya pak Mukti?” Arjun tak percaya mendengar Komang Ayu berbincang dengan mama pak Mukti seperti itu.
“Aku akrab banget sama seluruh keluarga besarnya Mas Mukti tanpa terkecuali,” kata Komang Ayu.
“Mereka enggak menganggap aku orang miskin yang patut dijauhi,” Arjun seperti tertusuk hatinya karena orang tuanya tentu akan sedikit menghambat perjalanan cintanya. Orang tuanya maunya Arjun dapat perempuan yang sederajat bukan perempuan miskin seperti Komang Ayu. Dan level pendidikan Komang Ayu juga tak sepadan seperti Arjun.
Itu kekalahan telak Arjun dari Mukti. Kalau soal harta Arjun tak takut bersaing. Dia pikir Mukti hanya pemahat biasa bukan dari keluarga kaya seperti dirinya. Padahal kalau harta hasil perolehan tangan sendiri Mukti lebih mumpuni. Sampai saat ini Arjun kaya karena harta orang tua.
Kalau harta orang tua, tentu kekayaan Ambarwati Soetiono pemilik perusahaan di Surabaya dan Lukito Prabunegara atau Abu pemilik PT WASKITA PRABUNEGARA dan banyak villa tak kalah oleh kekayaan Ketut Putrawanca orang tua Arjuna Ghifari
\*‘Aku enggak akan mundur walaupun kamu sudah diterima oleh keluarganya pak Mukti. Aku akan perjuangkan cintaku walau berat karena kamu selalu dekat dengan pak Mukti. Tapi aku aku akan berupaya sekuat mungkin menggagalkan percintaan kamu dengan pak Mukti,’ \*tekad Arjun dalam hatinya. Sebagai anak tunggal dia yakin bisa menekan orang tuanya untuk menerima Komang Ayu menjadi menantu mereka.
“Bagaimana bila besok kamu aku ajak ke rumahku?” tanya Arjun.
“Mau ngapain?” tanya Ayya.
“Biar kamu kenal sama orang tuaku, biar kamu juga tahu bahwa keluargaku menerima kamu,” jawab Arjun dengan penuh percaya dirinya.
__ADS_1
“Aku enggak peduli keluargamu mau terima aku atau enggak karena aku tuh bukan siapa-siapa kamu jawab Komang Ayu tegas.
“Kamu kan tahu aku serius sama kamu, aku mau melamar kamu ke papa kamu,” Arjun mengingatkan Komang Ayu keseriusannya.
“Kamu bisa kok melamar aku ke papa aku. Tapi kan belum tentu diterima. Kalau soal perkenalan ya silakan aja. Aku enggak larang,” kata Komang Ayu.
“Tapi soal diterima lamarannya itu yang belum tentu karena yang menentukan adalah aku. Dan seperti yang tadi aku bilang aku tidak mau cari calon suami yang keluarganya tidak suka sama aku. Jelas-jelas sejak dulu aja aku sudah dengar bahwa ibumu melabrak Luna karena pacarmu itu dari keturunan yang bukan ningrat dan juga miskin.” Ayya memaparkan kenyataan yang pernah terjadi.
“Aku tak pernah pacaran dengan Luna,” bantah Arjun.
“Aku dekat dengan Luna karena aku sering membantunya secara finansial saja ke dia sejak SMP. Uang jajanku bahkan uang tabungan aku beri ke dia karena dia punya banyak adik. Aku suka dengan kehangatan keluarganya dan aku membantu mereka,” Arjun memaparkan semuanya.
Mama Arjun marah ketika tak sengaja melihat buku tabungan Arjun yang sering diambil dan sudah sangat menipis. Ketika di desak Arjun bilang untuk membantu Luna.
“Jadi orang tua seperti itu yang akan kamu kenalkan untukku yang orang miskin ini?” tanya Komang Ayu.
“Tapi waktu itu kamu bilang aku boleh datang ke rumahmu,” protes Arjun.
__ADS_1
“Sampai saat ini aku tegaskan, aku enggak larang. Kamu boleh datang ke rumahku. Aku enggak larang. Bahkan kamu datang langsung bersama orang tuamu juga aku enggak larang. Tapi soal menerima lamaranmu, itu yang aku belum bisa aku jawab. Silakan saja orang tuamu datang ke rumahku. Aku pastikan ibumu pasti tidak bisa menerima kondisi keluargaku.”
“Jadi enggak usah terlalu berharap banyak dan juga enggak perlu kamu dengerin orang lapor bawa aku pacaran dengan si A si B atau si C atau bahkan dengan mas Mukti. Itu urusan pribadiku mau aku pacaran dengan siapa pun. Kamu enggak bisa marah karena kamu bukan apa-apa aku,” tegas Ayya.
“Aku enggak ingin hubungan kita berakhir seperti ini.”
“Memang kita punya hubungan apa? Sejak dulu kita berteman kan. Sejak SMA aku enggak pernah menjanjikan sesuatu yang di luar itu. Waktu kita bertemu pertama kali di Solo kamu bilang mau datang ke rumahku, aku bilang silakan aja. Tapi aku enggak bilang mau menerima lamaranmu.”
“Tolong garis bawahi itu. Sekali lagi aku ulangi, kamu dan orang tuamu boleh datang ke rumahku kapan aja dengan niat apa pun. Tapi garis bawahi bahwa soal menerima lamaranmu itu adalah hatiku dan aku tidak mau menerima seorang lelaki yang keluarganya tidak menerimaku dengan baik,” kata Komang Ayu lagi.
“Baik aku akan ingat itu,” kata Arjun.
“Tapi aku minta jangan putus hubungan komunikasi kita, aku akan berupaya membuat Ibuku menerima kamu dengan tulus seperti orang tuanya Pak Mukti.” pinta Arjun.
“Penerimaan seseorang itu dari hati, kalau hatinya tidak menerima tetap aja hanya manis di bibir dan itu sangat berbeda jauh.” kata Komang Ayu. Dia melihat banyak di kehidupan nyata atau di sinetron yang ibu mertua hanya baik sat anak lelakinya ada. Dibelakang anak lelaki, mertua itu sangat kejam pada menantunya. Ayya tentu tak ingin bernasib seperti itu.
“Yang penting aku minta kamu jangan memutus komunikasi kita, sekarang aku pamit dulu,” kata Arjun.
“Silakan,” jawab Ayya.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.