CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ENGGAK CURANG, CUMA SEDIKIT LICIK


__ADS_3

“Mas makan salad dulu,” kata Ayya.


“Nanti aja Yank,” jawab Mukti yang sedang konsentrasi penuh.


“Nggak gitu, kalau nggak dimakan sekarang kapan makannya? kalau nanti-nanti aja pasti nggak dimakan,” protes Ayya. Mukti masih tak menoleh.


“Aaaa … Aku suapin,” kata Ayya kesal, dia sodorkan satu sendok buah ke depan mulut kekasihnya, maka Mukti pun tak menolak dia membuka mulut sambil memandang wajah kesal Ayya.


“Kamu bukannya lagi ada tamu? Kamu kenapa suapin Mas? Kesal?” Mukti mengirim pertanyaan beruntun.


“Iya nggak apa-apa dia kan memang tidak niat datang, kebetulan ada tamu ya nggak apa-apa aku tetap suapin dulu. Aku kesal karena Mas tahu sekarang memang jadwal makan serat, Mas malah nunda.” jawab Ayya. Dia mengatakan kesal bukan karena terpaksa nyuapin saat ada tamu.


“Mas nggak apa apa kok. Kalau pun yang datang Carlo juga Mas nggak apa-apa. Mas lagi tanggung. Semua yang di otak harus segera di tuangkan agar enggak lupa Yank,” ungkap Mukti.


“Ya harus nggak apa-apa lah. Kalau Mas ngamuk atau cemburu nggak genah itu yang aku nggak suka. Artinya hubungan kita masih seperti sebelumnya tidak ada kejelasan. Padahal sejak kemarin kan hubungan kita sudah jelas di depan papa Wayan udah pasti diterima dan sebelumnya di depan mama Ambar juga papa Abu kita sudah jelas. Kalau Mas masih nggak punya rasa percaya diri, masih ngamuk-ngamuk masih cemburuan itu yang aneh.”


“Kalau soal ide, kan aku sudah bilang, langsung buat NOTE di ponsel biar tu ide enggak jadi bang Toyib, pergi enggak pulang-pulang,” jawab Ayya.

__ADS_1


“Wah iya, Mas lupa, simpan ide di sana aja ya? Trus soal Lukas atau siapa pun, dari tadi Mas kan nggak apa-apa. Karena Mas sudah yakin kamu punya Mas,” kata Mukti dengan senyum manis.


“Ya memang harus seperti itu. Hubungan orang dewasa itu saling percaya, kalau nggak saling percaya ya nggak usah diterusin. Buat apa kita berhubungan tapi selamanya sakit hati terus karena tak percaya pada pasangan sendiri,” kata Ayya.


“Orang yang tidak percaya pada orang lain, karena dia tidak bisa dipercaya!”


“Kok kamu pinter banget sih? Kok kamu bijak gitu sih?” kata Mukti sambil mencium pipi Ayya sekilas.


“Ih baru tahu kalau tunangannya itu bijak? Baru tahu kalau tunangannya itu pintar?” jawab Ayya. Sekarang dia harus siap sedia kalau bolak balik dikecup kening atau pipinya oleh BOSS BESAR. Nama itu masih Ayya pakai di ponselnya sebagai ID nya Mukti.


“Cie … sudah berani sebut kamu tuh tunangan aku,” goda Mukti.


“Ha ha ha ya enggak cuma sebutan dong, tapi beneran dari hati,” Mukti makin gemas dengan perilaku Ayya.


“Ya udah, makanya jangan dibilang gitu. Kan bikin malu,” ujar Ayya.


Ayya pun menyuap salatnya ke mulut sendiri, dia makan, baru kemudian dia berikan lagi kepada Mukti. Jadi akhirnya semangkok itu mereka makan berdua. Tentu saja dari jauh Lukas melihat itu.

__ADS_1


‘Kayaknya hubungan yang aneh antara bos dan sekretarisnya. Masa mereka makan sepiring berdua sih,’ kata Lukas.


‘Tapi mungkin itu sudah biasa bagi seorang seniman,’ batin Lukas lagi.


Setelah saladnya ludes, Ayya pun kembali kepada Lukas.


“Lukas kuenya dimakan atau saladnya. Kamu nggak suka salad ya? Atau belum waktunya makan salad? Kalau aku sih makan salad nggak pakai jam. Kapan aja aku pengin aku makan,” kata Ayya. Dia pun mengambil salad yang memang jatahnya dia.


“Kamu hobi makan salad apa kelaparan sih?” tanya Lukas.


“Kenapa memangnya? tanya Ayya.


“Bukannya tadi waktu nyuapin pak Mukti kamu udah ikut makan salad ya?”


“Habis kesel, pak Mukti makannya lama. Jadi aku bantuin aja biar cepet abis,” kata Ayya. Lukas pun tertawa.


“Ternyata kamu tuh curang ya.”

__ADS_1


“Nggak curang sih, licik dikit,” balas Ayya. Tentu saja itu tambah membuat Lukas terbahak.


__ADS_2