
“Mbak Komang itu ada yang nyari,” kata ibu Pinem
“Suruh masuk aja Bu,” jawab Ayya yang matanya tak lepas dari laptopnya.
“Tadi sudah saya suruh masuk tapi dia malu,”
“Memang dia siapa sih Bu? Bukan orang galeri?” tanya Ayya
“Bukan dia bukan orang sini, makanya saya suruh masuk dia malu,”
“Oh kirain anak galeri makanya saya bilang suruh masuk,” kata Ayya.
“Ya sudah saya sebentar lagi keluar. Tolong bikinkan minum ya Bu,” pinta Ayya.
Ayya pun keluar ke teras, dia ingin tahu siapa yang mencarinya.
“Lukas!” teriak Ayya kaget, karena yang datang adalah Lukas teman Carlo.
“Halo, apa kabar?” kata Lukas dengan senyum manisnya.
“Baik, baik banget, kenapa kamu ke sini nggak bilang-bilang untung aku sudah tiba di sini.”
“Aku juga nggak ada niat kok. Tiba di Bali tadi pagi ternyata syutingnya masih nanti malam. Jadi aku tadi tanya Carlo alamatmu karena aku sendirian di sini.”
“Keren ya studionya,” Lukas memperhatikan sekeliling dan memuji studio milik Mukti.
“Ayo aku kenalin kamu sama Pak Mukti, pemilik studio ini,” kata Ayya. Ayya tentu tak mau Mukti salah tangkap jadi lebih baik langsung dikenalkan.
__ADS_1
“Memang enggak ganggu?”
“Ya enggaklah, kalau nggak kenalan sama yang punya rumah kan nggak enak,” kata Ayya.
“Mas,” panggil Ayya. Mukti yang lagi serius tentu aja tidak mendengar.
“Mas,” kata Ayya kembali lagi.
“Iya, kenapa Yank?” jawab Mukti tanpa menoleh.
“Ini, ada tamu,” Ayya berupaya tenang.
“Halo siapa?” Mukti mengulurkan tangan dengan ramah.
“Teman di mana?” tanya Mukti menatap wajah Ayya.
“Oh, temennya Carlo,” jawab Mukti kalem.
“Iya Pak,” jawab Lukas.
“Ini sedang syuting atau bagaimana?” tanya Mukti.
“Saya semalam tiba-tiba dapat tugas harus berangkat ke Bali dengan tiket paling pagi. Saya pikir syuting dimulai jam 09.00 atau jam 10.00 ternyata nanti syuting jam 08.00 malam. Saya bingung akhirnya saya tanya Carlo alamatnya Komang. Paling tidak saya nggak bengong. Mau tidur aja di hotel juga nggak enak, ke pantai sendirian juga nggak bete.”
“Silakan aja lo. Saya lanjut kerja ya. Enggak apa apa kan?” kata Mukti.
“Iya Pak nggak apa-apa. Saya malah yang nggak enak ganggu Bapak kerja,” jawab Lukas.
__ADS_1
“Nggak, nggak ganggu. Tenang aja,” kata Mukti.
“Kamu mau duduk di sini ngeliatin orang kerja atau duduk di sana di lesehan karena aku mau kerja di sana di depan laptopku,” kata Ayya.
“Ya di sana aja lah ngikutin kamu,” jawab Lukas.
“Mas, aku ke dalam ya,” pamit Ayya.
“Ya,” jawab Mukti. Ayya menepuk lembut lengannya Mukti sebelum dia masuk ke dalam.
Bu Pinem menyediakan sirup dan jajan pasar untuk Lukas.
“Sebentar ya Lukas, aku harus ambilin salad dulu sudah jam 10.00. Waktunya pak Mukti makan buah. Kalau nggak dia nanti kurang serat,” kata Ayya .
Ayya pun mengambil salad 3 mangkok. 2 diletakkan di dekat Lukas dan satunya dia bawa ke tengah tempatnya Pak Mukti.
“Kamu makan aja buahmu atau makan kue aku nyuapin bayi gede dulu,” ujar Ayya.
“Disuapin?” kata Lukas.
“Kadang kalau lagi kerja kalau cuma ditaruh, sampai nanti malam pun itu makanan utuh. Jadi aku harus suapin supaya benar-benar ada asupan.”
“Aku mengerti kok, kalau kerja seniman memang seperti itu. Pelukis atau pemahat dia konsentrasi penuh, nggak kayak pemain film seperti aku, memang bergerak.”
“Terima kasih ya kamu mau ngertiin. Aku suapin pak Mukti dulu. Semoga aja dia nggak perlu disuapin.”
“Iya nggak apa-apa kok. Aku malah yang ganggu kamu lagi kerja.”
__ADS_1