
“Kamu sangat beruntung Mbar punya menantu seperti Ayu,” Kata bude Pram.
Budi Pras juga memuji platting yang sangat profesional itu.
“Cuma bagus di penampilan koq Bude, soal rasa belum tentu. Bisa jadi rasanya enggak enak,” Ayya merendah.
“Kalau masakan pacarku pasti enak,” kata Aksa yang sudah selesai mandi mereka memang pulang sebelum maghrib tadi.
“Wah rupanya ada yang bayar hutang ke mama nih,” goda Mukti.
“Gara-gara Mas kirim foto ke mama aku, mama dan eyang Angga jadi penasaran. Maka sekarang aku obati rasa penasaran mereka,” jawab Ayya.
“Sudah ayo kita makan,” kata Ariel.
“Aku jadi lapar lihat menu seperti ini,” ucap pemilik rumah.
“Wah kamu beneran hebat Yank, ini lebih enak dari yang kemarin kita makan,” kata Mukti tanpa sadar kata-kata YANK nya dia ucap di depan semua orang.
“Sop konronya sangat sedap,” pujian tulus keluar dari mulut Ariel. Ariel dan Vonny yang biasa makan masakan Makasar juga memuji masakan Ayya sangat enak.
Vonny sendiri belum makan sop konro, karena dia memilih iga bakar dengan sayuran pelengkap tentu tanpa nasi karena dilengkapi dengan french fries.
“ini iga bakarnya maknyus banget Yu, Tante suka banget. Dan sepertinya ini yang terenak dari iga bakar yang pernah Tante makan.” puji Vonny tulus.
__ADS_1
“Enak lagi kalau iga kambing bakar. Size daging memang lebih kecil, tapi sensasi rasa kambingnya khas. Hanya kan tidak semua suka atau bisa makan daging kambing,” jawab Ayya.
Yang baru tahu kemampuan Ayya makin terkagum-kagum terhadap gadis sederhana itu. Begitu pun para sepupunya Mukti anak dan menantu Pakde Bram dan pakde Pras.
“Habis nikah Mukti bisa kayak bola,” canda eyang Soetiono.
“Kok kayak bola Yah?” tanya Pakde Pras.
“Makan enak terus bagaimana enggak kayak bola? Tinggal digelindingin aja nanti,” jawab eyang Soetiono diteruskan dengan terkekeh.
Mereka pun semua tertawa bahagia, Mukti berharap semua itu akan cepat terjadi.
Ayya hanya menunduk tersipu malu. Dia makin tak mengerti bagaimana harus mundur dari arena ini, Ayya tetap tidak ingin semua menjadi kacau.
“Malas Mas,” jawab Ayya sambil mengaduk sekoteng miliknya. Tadi orang dapur bikin sekoteng untuk minuman malam ini, hanya Mukti tak mau sekoteng. Dia minta dibuatkan air jahe bakar gula merah saja.
“Kamu enggak pergi, tapi sibuk di dapur,” protes Mukti.
“Enggak sibuk juga sih, tapi malah senang memasak daripada pergi-pergi. Capek tapi hatinya enggak senang buat apa? Mending capek tapi senang seperti saat memasak di dapur,” jawab Ayya.
“Setidaknya kan refreshing, kamu bisa lihat Jakarta dari atas atau ke dunia fantasi tadi,” jawab Mukti mengemukakan argumentasinya.
“Kebetulan aku enggak suka semua itu Mas. Jadi mohon maaf. Jangan paksa aku. Aku memilih duduk di pantai saat hening, atau merendam kaki di gemericik air jernih di kampung daripada ke lokasi wisata yang hiruk pikuk. Dunia kita memang beda,” jawab Ayya.
__ADS_1
“Mas juga sukanya seperti kamu koq. Tempat yang hening itu bisa memunculkan inspirasi. Mas hanya mengantar adik-adik saja. Kalau besok ke Taman Mini bagaimana?”
“Aku kalau merasa sudah pernah satu kali, sudah cukup. Ngapain lagi ngulang ke sana gitu loh. Kebetulan waktu baru datang dari desa dulu pernah pergi sama teman-teman satu kerjaan di cafe. Jadi ya sudah. Sudah tahu tempatnya kayak apa cukup buat aku,” Ayya memberitahu alasannya tak suka mendatangi tempat ramai berulang. Karena tak menarik di matanya.
“Baiklah,” kata Mukti. Dia tak bisa memaksa.
“By the way terima kasih ya sepatunya. Kalau aku harus bayar kayanya aku langsung enggak gajian tuh dipotong dua pasang sepatu itu.”
“Beli 10 pasang sepatu model kayak gitu gajian mu tetap enggak pengaruh kok,” jawab Mukti.
“Namanya enggak profesional kalau seperti itu.”
“Kan beda. Itu buat calon istri, gajian kan buat yang kerja,” balas Mukti.
“Aku kan kerja.”
“Siapa bilang?”
“Tahu ah,” jawab Ayya kesal.
“Kok tahu ah. Kamu itu calon istriku!” tegas Mukti.
“Kayanya aku mau tegasin sekarang deh, sehabis pameran di Solo aku resign ya. Tabunganku cukup buat aku dan papa berdikari sendiri. Aku resign sesudah pameran saja.”
__ADS_1