CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
STATUS YANG DIPERTANYAKAN


__ADS_3

“Mau bikin apa itu Yank?” tanya Mukti ketika melihat Ayya mengambil slice beef,  daging yang sangat tipis untuk ditimbang.


“Aku pengen bikin sukiyaki atau yakiniku. Sudah lama banget nggak bikin itu,” jawab Ayya sambil memasukkan potongan tipis daging ke sterofoam.


“Jangan lupa nanti ingatin aku ambil paprika ya Mas. Paprika macam-macam warna biar masakannya cantik, kalau bawang bombay di pasar banyak. Paling itu saja si paprika karena di pasar agak sulit dapat paprika selain yang merah,” ucap Ayya.


“Kol merah Yank. Jangan lupa itu. Kamu kan suka salad sayur,” Mukti mengingatkan Ayya.


“Iya kol merah nggak ada di pasar. Bukan nggak, ada tapi sangat jarang di pasar tradisional. Sepertinya kalau untuk saus saladnya lengkap.”


“Krim kejunya Yank,” ucap Mukti lali menyebut apa yang terlintas dalam benaknya.


“Mas lihat ponse please. Tadi aku sudah kirim list-nya loh. Yang sudah dibeli kamu coret,” pinta Ayya.


“Aku nggak pegang handphone,” elak Mukti. Padahal tinggal dia ambil di sakunya.


“Nih pegang handphone aku,” putus Ayya kesal. Mereka terus belanja mencari apa yang telah ada dalam daftar belanjaan yang sudah Ayya buat tadi.


“Yank, ada panggilan dari papa,” ucap Mukti.


“Ya jawablah,” kata Ayya, dia sedang mengamati sabun mandi untuknya juga untuk Mukti dan sabun cukur Mukti.


“Tapi kan nggak enak ngobrol lagi belanja seperti ini,” ucap Mukti.

__ADS_1


“Ya Mas bilang dulu kita lagi belanja. Nanti kita telepon lagi,” balas Ayya. Mukti pun mengangkat telepon dari nomor papa.


‘Wa’ alaykum salam Ma,” jawab Mukti. Ternyata yang bicara malah mama Ambar bukan papa Abu. Ayya kira tadi papa yang Mukti sebut adalah papa Wayan makanya Mukti agak ragu mengangkat. Ternyata papa Abu.


“Aku pikir tadi papa Wayan yang telepon, makanya Mas ragu mengangkat,” kata Ayya setelah Mukti menutup telepon.


“Nggak Yank. Mama yang mau bicara. Mas bilang kita lagi belanja untuk isi kulkas kosong, mama mengerti. Nanti kita ngobrol sama mama kalau kita sudah sempat. Mama kira, kita langsung ke Badung.”


Ayya dan Mukti kembali meneruskan belanja.


“Mas jangan lupa undangan untuk papa Ferry Hermawan dan kakek Rustam.


“Bukan papa Ferry, Honey. Dia Om Ferry! Walaupun dia ayah kandungku, tapi aku menyebutnya Om Ferry. Jangan sampai orang mendengar aku menyebutnya papa Ferry. Bukan karena aku takut atau tak mau mengakuinya. Tapi aku tak mau kebahagiaannya terganggu oleh kehadiranku. Begitu pun kakek Rustam, biar mereka tak tahu siapa aku sebenarnya.” kata Mukti. Saat ini mereka sedang makan di gerai gelatto.


Ayya juga memesan es krim alpukat mix durian sedang Mukti hanya minum coke tanpa es.


“Pak Mukti,” sapa seorang ibu setengah baya yang terlihat cantik.


“Wah ibu sedang di Bali?” Mukti menjawab sapaan perempuan itu dengan ramah


Ayya pun menyalami ibu tersebut, dia ingat perempuan ini adalah ibu Suwarni dosen dari Jogja yang merekomendasikan empat orang mahasiswanya pada Mukti, tapi dioper oleh Ayya ke Made.


“Bapak sudah kembali ke sini?” tanya Bu Suwarni.

__ADS_1


“Baru tadi pagi kami pulang Bu,” kata Ayya.


“Ibu apa kabar dan sedang apa di sini?” Ayya memberi pertanyaan lanjutan.


“Kami dari universitas sedang kunjungan wisata saja Bu Komang,” kata Bu Suwarni.


“Tadinya saya ingin menghubungi Ibu, tapi saya takut Ibu masih di Solo sehingga tidak jadi menghubungi,” jelas bu Suwarni.


“Padahal tidak apa-apa menghubungi saya. Kalau dibutuhkan, saya bisa kasih rekomendasi apa yang Ibu ingin tanya,” jawab Ayya.


“Tidak perlu, karena kami rombongan. Sehingga saya tak perlu bantuan dari orang luar. Kebetulan kami juga ada panitia yang mengatur. Saya hanya ikut saja,” kata Bu Suwarni.


“Mari Bu, makan bersama kami,” ajak Mukti.


“Tidak Pak Mukti. Kami sudah selesai makan. Itu rombongan saya sudah mau keluar. Kami memang tadi makan di sini bersama-sama. Kami hanya 11 orang dari Jogja,” tolak bu Suwarni dengan sopan.


“Oh baik Bu. Sampai bertemu lagi. Semoga senang berwisata di Bali,” ucap Komang Ayu tak kalah manis dan sopan.


“Iya Bu Komang terima kasih,” jawab ibu Suwarni sambil memberi salam dan dia hendak berlalu tapi dia langsung balik badan dulu.


“Maaf saya jadi penasaran. Apa pak Mukti dan ibu Komang ini bukan hanya sekadar sekretaris dan bossnya?” tanya Bu Suwarni.


“Maaf kalau pertanyaan saya tidak sopan.”

__ADS_1


__ADS_2