CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KEJUTAN MUKTI


__ADS_3

Ayya masuk ke kamarnya saat hendak mandi sehabis masak. Dia juga akan salat dzuhur dan bersiap untuk makan siang bersama seluruh keluarga.


Ayya kaget karena kamarnya sedikit berubah. Ada beberapa bingkai foto juga lukisan di dalam kamar tersebut. Benar-benar suatu kejutan manis.


Rupanya saat Ayya sibuk masak tadi Mukti masuk kamar Ayya diam-diam lalu dia pasang beberapa bingkai foto yang sudah ada foto dirinya dan Ayya. Dan ada satu lukisan besar yang Mukti pesan pada teman pelukis sudah berikut framenya. Tadi Mukti tinggal pasang. Sengaja yang buat di kamar Ayya adalah foto Ayya saat dia SMA yang Mukti bilang sangat cantik.


Sedang di kamar Mukti lukisannya adalah foto mereka berdua saat pernikahan Sonny dibuat full penuh seluruh badan dengan pakaian adat ketika resepsi. Sangat indah.


“Kok bisa ada foto saat aku SMA ini ya? ini kan PP aku di ponsel. Kapan Mas Mukti lihat? Dan kapan dia pesan ke pelukis?” Ayya benar-benar terkejut dengan surprise dari Mukti tersebut.


“Mas … Mas,” cari Ayya selesai mandi dan salat. Dia keluar kamar mencari sosok tunangannya.


“Mereka belum pada pulang dari masjid,” jawab Ambar.


“Memang kenapa kamu cari dia? Baru ditinggal sebentar saja koq kangen,” ucap Ambar lagi.


“Ayo ikut ke kamar aku Ma,” Ayya menarik tangan Ambar pelan dan mengajak ke kamarnya.


“Ya ampun. Surprise banget,” jawab Ambar melihat di kamar itu sudah ada foto-foto Ayya dan Mukti serta lukisannya Ayya. Karena setahu Ambar kamar itu masih kosong tak ada hiasan selain jam dinding.


“Rupanya sudah sejak tadi dipasang Ma. Aku nggak tahu sama sekali karena kan aku di dapur. Maka itu aku cari Mas Mukti, ternyata dia belum pulang. Aku pikir dia pasang barusan saja sesudah dia pulang dari masjid,” jelas Ayya.


“Mama juga nggak tahu. ‘Kan Mama tadi sama kamu di dapur,” kata Ambar. Dia memang benar-benar tak tahu perbuatan anaknya itu.


‘Kamu tuh emang romantis banget sih,’ kata Ambar dalam hatinya.

__ADS_1


“Wa’alaykum salam,” jawab Ambar dan Ayya saat mendengar eyang Angga dan Mukti masuk memberi salam pada seisi rumah.


Ayya langsung memberi salim pada Angga tentu saja dia belum memberi salim pada Mukti karena Mukti belum menjadi imamnya secara sah.


“Mas kamu kapan pesan lukisan itu?” kata Ayya saat Mukti mendekatinya dan mencium keningnya.


“Kenapa? Nggak suka ya?” Mukti memandang mata Ayya lekat. Ingin tahu apa reaksi kekasih hatinya.


“Suka, syuuukaaaaa banget,” kata Ayya dengan tersenyum manis dan memanjangkan kata suka.


“Itu kapan Mas punya foto tersebut?”


“Semua foto sendiri di ponselmu itu sudah banyak yang pindah ke ponsel Mas. Kalau yang dengan orang lain enggak,” jawab Mukti jujur.


“Ih rupanya ada pencuri,” Ayya mencubit perut Mukti.


“Kamu tu suka banget cubit Mas sih? Sakit tahu,” protes Mukti.


“Habis Mas juga bikin keqi.”


“Kalau keqi yang jangan dicubit.”


“Terus diapain?” tanya Ayya polos.


“Dicium aja,” balas Mukti membuat dia kembali dapat cubitan.

__ADS_1


“Mas suka banget ekspresi polos di foto itu. Jadi Mas pesan lukisannya yang itu. Kalau lukisan buat kamar Mas beda,” jawab Mukti.


“Mas pasang apa di kamar Mas? Aku mau tahu.”


“Ya sana ke kamar, emangnya ada yang ngelarang,” kata Mukti.


Ayya langsung masuk ke kamar Mukti. Begitu pintu dibuka terlihat lukisan besar dengan pigura berwarna gold. Dalam pigura terlihat lukisan Mukti dan Ayya dengan baju kebaya Ambon serta baniang yang mereka gunakan saat acara pernikahan Sonny dan Adelia. Tentu saja wajah mereka di lukisan juga sangat ceria.


“Wah keren banget. Aku mau juga foto itu dijadiin lukisan, tapi nggak gede sih. Buat di kamar aku yang di Bali,” kata Ayya.


“Yang di Bali sudah ada kok. Sudah dipasang di kamar kita masing-masing juga di ruang terbuka studio. Fotonya beda dengan ini, tapi lukisan kita berdua,” balas Mukti.


Pakai foto yang mana buat dilukis Mas?” tanya Ayya penasaran.


“Adalah. Sudah dipasang kok di studio. Nanti kamu lihat saat pulang.”


“Yaaah, masa harus lihat tiga bulan lagi baru tahu foto mana yang dipasang?” rajuk Ayya.


Mukti pun memberi ponselnya di situ ada lukisan saat baru dipasang pigura. Lalu saat sudah di pasang di kamar Mukti mau pun di kamar Ayya dan di ruang tengah studio.


Ayya tersenyum melihat itu karena foto yang dibuat lukisan adalah saat Mukti mencium pipinya untuk kamarnya. Dan foto Ayya mencium Mukti untuk di kamar Mukti dan yang paling menarik Mukti meminta foto dari samping saat mereka berpandangan dan beradu kening jadi lukisan untuk ruang terbuka studio mereka. Dan foto di ruang tengah itu menggunakan warna hitam putih!


“Kenapa milih foto itu buat kama kita masing-masing Mas?”


“Itu pertama kali aku bisa mencium pipimu sehingga harus dibuat sebagai lukisan. Dan itu terjadi sebelum kamu aku lamar secara resmi. Bukankah itu prestasi Lukito Harjomukti yang spectaculer?” jawab Mukti dengan senyum manis.

__ADS_1


“Ih amit-amit deh, semua semua pasti dihubungkan dengan moment sejarah,” ucap Ayya sambil duduk di ranjang memandang banyak foto yang dipajang di kamar tunangannya itu.


Ayya tahu buat Mukti selalu ada kisah yang harus dikenang dan biasanya langsung dia abadikan. Seperti PIN semua ATM Mukti yang berubah sesuai tanggal lamaran mereka.


__ADS_2