
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Iya kenapa Pa?” tanya Mukti. Malam ini video call dimulai oleh Abu.
“Mukti barusan Om Ferry telepon Papa. Dia bilang ayahnya ingin datang ke Bali untuk menghadiri pameranmu karena dia ingin melihat perkembangan seni pahat masa kini. Lalu Om Ferry tanya-tanya tentang penginapan dan segala macamnya. Papa arahkan untuk menginap di Villa kita yang di Ubud dan kalian pakai sekarang. Nanti kamu berikan dia satu vila yang berisi dua kamar.”
“Papa sudah bilang sama Om Ferry itu free buat om Rustam. Nama papanya Om Ferry adalah kakek Rustam. Papa nggak bilang itu kakekmu kalau kamu tidak mau mengakuinya, tapi dia ingin melihat perkembangan patung atau pahat baru. Jadi dia akan datang. Tolong kamu terima dia dengan baik,” pesan dari Abu untuk Mukti malam ini.
“Baik Pa. Insya Allah aku akan berbuat yang terbaik sebagai tuan rumah. Tapi aku tidak akan mengatakan padanya bahwa aku adalah cucu kandungnya. Tidak akan pernah. Karena kakek aku hanya eyang Airlangga dan Eyang Sutiono. Jangan berharap ada nama lain pengganti mereka,” kata Mukti tegas.
__ADS_1
Ambar dan Angga yang mendengar itu tentu terharu.
“Papa ngerti, makanya tadi Papa bilang kan bahwa Om Ferry mencari penginapan dan papa kasih dia free. Tapi papa enggak bilang dia itu kakekmu kan? Papa cuma kasih tahu bahwa kakek Rustam akan datang, itu aja kok. Papa enggak nyuruh kamu mendekati dia secara personal. Tapi kalau kamu mau dekat sama dia secara sesama pemahat itu sangat baik, karena dia juga senior ilmu untuk pahatanmu,” kata Abu.
“Iya Pa. Terima kasih. Nanti aku, Made, Wayan dan Ketut akan menerima dia dengan baik,” janji Mukti.
”Ya hanya itu sih pesan Papa karena tadi Om Ferry bilang papanya akan menghadiri pameran anak Papa,” jelas Abu. Abu memang pernah memberitahu Ferry kalau Mukti putranya adalah pemahat.
“Yang Mamas tahu dia dulu tinggal di Bali, jadi enggak akan nyasar untuk sampai di lokasi Villa kita di Ubud. Tapi ada baiknya juga sih dijemput oleh orangnya aku,” Sonny malah menawarkan anak buahnya saja yang menjemput karena pasti anak buah Mukti sibuk dengan program pamerannya.
__ADS_1
“Biar nanti anak rental aja yang jemput Pa. Kasih tau aja nomor ponselnya dan tanggal kedatangannya biar anak rental yang jemput,” kata Sonny.
“Nah itu lebih baik,” kata Ambar.
“Perlakukan mereka dengan baik. Walau kita tidak mau mengakui dia sebagai kakek nya Mukti, tapi enggak apa-apa perlakukan dia sebagai pemahat senior. Mereka tak salah tidak tahu keberadaan Mukti karena Witri menyembunyikannya dari Ferry,” kata Ambar lagi.
“Benar Ma. Aku juga enggak nyalahin om Ferry koq,” Mukti bahkan menyebut ayah kandungnya dengan sebutan OM.
“Kalau aku mau, bisa saja aku kasih tahu keberadaanku. Tapi nanti akan ada banyak hati terluka. Hati istri dan anak-anak om Ferry. Cukup sudah kelahiranku membuat Papa dan Mama juga mas Sonny dan Aksa terluka. Jangan ada hati lain lagi yang jadi korban,” Mukti sadar akan luka yang disebabkan kehadirannya di keluarga Lukito.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok
__ADS_1