
“Tunggu. Sebelum bicara Mama dari tadi sudah pesan kopi dan snack di kantin. Mama mau antar dulu eh mau minta mereka antar sekarang. Karena dari tadi mereka sudah kasih kode pesanan sudah siap. Jadi kita pending dulu pembicaraan sampai mereka keluar lagi,” kata Ambar.
“Oke,” jawab Sonny.
Ambar memesan teh sereh jahe untuk sore itu cemilannya adalah risol mayones dan lumpia kampung. Entah mengapa lumpia ini disebut lumpia kampung. lumpia berisi bihun yang dimakan dengan sambal kacang.
“Wah Mama ngajakin aku perang nih,” kata Ayya.
“Kenapa?” jawab Mukti.
“Lihat saja Mama malah siapin risol mayones dan lumpia seperti ini buat Eyang. Aku susah payah larang Eyang makan gorengan,” ajuk Ayya pada Mukti.
“Mama bukan siapin buat Eyang. Mama siapin buat Mama sama Papa kok,” Ambar membalas protes gadis kecilnya.
“Wah ini benar-benar nih, mentang-mentang ada anak dan suaminya papa di sia-sia seperti ini,” jawab Angga.
“Benar-benar menantu yang jahat!”
Semua tertawa mendengar kelakar dari Angga
“Ini sama-sama menggoda ni Ma. Lumpianya entah kenapa disebut lumpia kampung ya Ma. Karena isinya hanya bihun kah? Tetapi walau harganya murah ini super enak. Lebih-lebih hangat-hangat gini dimakan pakai sambal kacang,” ucap Ayya. Dia ambil dua lumpia di piring kecil yang disiapkan dari kantin, dan dia beri sambal dan dia mulai makan sambil menyuapi Mukti.
“Kalau risolnya pasti mahal lah, karena isinya saja sosis, telur dan smoke beef serta mayonaise. Tapi harga bukan pembanding. Rasanya tetap sama-sama enak. Tak bisa dibandingkan.”
__ADS_1
“Kalau untuk harga ini tidak bisa Apple to Apple karena berbanding terbalik sangat jauh. Tapi kalau untuk rasa mereka 11 ~ 12,” jawab Sonny.
“Kamu tahu kenapa Mama minta dua jenis ini di kantin?” tanya Ambar.
“Pasti karena permintaan baby kan?” jawab Ayya cepat.
“Betul. Sejak dari Jogja tadi Mas sudah bilang sama Mama minta lumpia kampung. Kalau risoles nggak. Yang Mas minta lumpia kampung ini,” jelas Sonny.
“Ya sudah kalau begitu risolesnya khusus buat aku,” kata Mukti.
“Kalian ribut saja terus. Lihat eyang dari tadi nggak berhenti ngunyah,” jawab Ambar. Mereka kembali tergelak.
“Lah ngapain Eyang ngikutin kalian ribut. Mendingan menikmati makanan mumpung kalian nggak konsen,” kata Angga.
“Iya benar. Belum tentu yang murah itu nggak enak. Buktinya lumpia ini. Tetap saja nikmatnya sebanding dengan risol yang mahal.”
“Iya Ma, emang dan lebih mudah didapat risolnya.”
“Ya kalau pas lagi nggak nyari sih mudah didapat,” jawab Sonny.
“Tadi Mama langsung pesan sama Sri suruh buatin risol ini. Nggak usah nyari pokoknya harus bikin. Bahaya kalau sampai cucu Mama ngiler. Padahal Sri bilang yang ada saat itu hanya risol. Jadi risol ini adalah tambahan. Yang wajib ada lumpianya,” kata Ambar.
“Oalah Mama pesen?” jawab Ayya.
__ADS_1
“Kadang mereka nggak ada loh kulitnya,” lanjut Ayya.
“Kok kamu tahu Honey?”
“Kan waktu aku kabur aku kan kerja di situ Mas. Bagaimana sih?”
“Oh iya. Mama baru ingat. Waktu itu Mama pernah makan di sini ya Pa. Mama bilang kayaknya kenal deh hasil racikan siapa. Ternyata itu olahan kamu kan?” kata Ambar.
“Ah benar! Mama pernah ngomong begitu. Kok kayaknya nggak asing ya sama rasa masakan ini. Mama bilang begitu. Papa bilang alah namanya masakan sama saja. Mama bilang ya enggaklah pasti ada ciri khas tertentu yang nggak bisa disamain,” jelas Abu mengingat kejadian itu.
“Wow hebat. Mama bisa bedain masakan aku,” ucap Ayya.
“Iya bener Mamamu memang bilang begitu. Makanya Papa juga aneh. Tapi Papa sama Mama nggak ingat bahwa itu masakanmu. Kalau ingat kami berdua pasti langsung datangin kamu ke kantin.”
Mereka kemudian kembali tertawa.
“Ya sudah ayo kita mulai serius lagi,” kata Sonny.
“Nanti aku pulangnya kemaleman enggak dapat Prameks terakhir.”
“Mas naik kereta Prameks?” kata Mukti.
“Iyalah, biar nggak capek. Lebih enak naik Prameks. Mobil Mas parkir di stasiun Jogja. Tadi dari stasiun Solo ke sini naik taksi online. Beres kan?”
__ADS_1
“Okelah kalau begitu. Ayo kita masuk ke pembicaraan berikut. Ayo Pa, dimulai,” kata Sonny.