
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ini habiskan ya,” perintah Ayya. Dia memberikan satu botol juice dalam kemasan air mineral 600 ml.
Mukti melihat botol sebesar air mineral yang biasa di beli berisi juice dengan senyum di matanya, tidak diperlihatkan di bibirnya.
“Kamu yang bikin?”
“Bukan! Menik tadi yang bikin.”
Mukti tertawa terbahak-bahak sampai terdengar oleh bu Ikhsan yang bingung Mukti bisa seceria itu. Tentu itu kejadian langka buat semua pegawai Mukti. Mukti itu ramah dan lembut, tapi tak ceria.
“Kamu sekarang ngerjain aku kan?” ucap Mukti setelah puas tertawa.
“Lagian nanya. Emang selama ini ada yang bikinin?”
“Iya sih, enggak ada,” jawab Mukti.
“Ya sudah, itu harus habis sebelum waktu salat Ashar. Nanti aku ke sini lagi mengabarkan waktu salat ashar.
“Baik nyonya,” kata Mukti.
Ayya langsung pergi meninggalkan Mukti.
“Sudah satu minggu kok papa belum ada kabar soal usaha ya?” kata Ayya. Dia pun langsung menelpon papanya sambil duduk di teras belakang.
“Iya Ya?” tanya Wayan.
“Papa sehat?”
“Sehat Nak. Papa, bude Ati dan pakde Saino semua sehat,” jawab Wayan.
“Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku sudah sehat Pa. Kemarin juga sudah kontrol ke dokter lagi. Aku juga sudah buat visum untuk pemeriksaan polisi karena keluarga besar pak Mukti membuat laporan pidana ke polisi.”
“Kamu enggak apa apa bila terseret kasus?”
“Enggak Pa. Aku kan korban. Dan lagi kasus ini dibantu pengacara. Jadi papa tenang saja.”
__ADS_1
“Syukurlah.”
“Pa apa tokonya belum selesai pembangunannya fisiknya?”
“Sudah kok. Sudah selesai dan dua hari lalu juga Papa sudah belanja isi barang dan sudah mulai ada transaksi tadi pagi saat Papa mulai atur barang di toko.” jelas Wayan.
“Ya ampun. Kenapa Papa enggak bilang aku? Modalnya bagaimana Pa? Aku minta nomor rekening Papa,” kata Ayya.
“Enggak usah. Uang Papa masih cukup,” tolak Wayan.
“Enggak bisa Pa. Pokoknya aku minta nomor rekening,” desak Ayya.
“Besok saja lah, kalau kamu ke sini baru kamu berikan. Sekarang uangnya masih cukup.”
“Papa sudah bikin pembukuan?”
“Sudah Nak. Kalau untuk urusan buku kamu tahu kan Papa terbiasa saat di toko besar dulu. Jadi Insya Allah Papa sudah buat pembukuan pembelian dan pengeluaran juga. Semua bon Papa simpan rapi,” kata Wayan.
“Alat untuk memberi harga sudah punya belum Pa?”
“Wah Papa masih pakai manual tulis stiker yang dijual di toko buku itu aja. Papa tulis satu persatu tiap barang.”
“Mesin kasir buat apa?” kata Wayan.
“Lalu butuh apa lagi dong?”
“Enggak ada yang dibutuhkan. Saat ini semuanya cukup,” jawab Wayan lagi.
“Minggu depan aku kembali ke Jakarta karena mas Sonny mau menikah.
“Oh ya sudah hati-hati.”
“Tapi mungkin sebelumnya aku akan kembali ke Badung dulu Pa. Karena pak Muktinya mau ada urusan ke Badung. Nanti aku mampir ke tempat Papa atau Papa ke galery ya Pa?” pinta Ayya.
“Akan Papa usahakan. Kam hati-hati selalu ya,” kata Wayan.
‘*Kok bisa sih papa mulai usaha tanpa bilang aku*?’ Sesal Ayya. Gadis ini masih penasaran kenapa papanya masih banyak uang sesudah membangun toko. Walaupun toko kecil tapi pasti modalnya besar. Sedang saat datang ke Badung papanya sedang tak punya uang sama sekali.
__ADS_1
Mukti meminum habis juice yang dibuatkan oleh Ayya, kalau enggak habis dia bisa kesalahan dan tadi sudah diancam kalau tak habis tak jadi salat berjamaah.
“Iya Ma?” kata Mukti menerima telepon dari Ambar.
“Mama dengar kamu sudah ada di studio? Tadi Mama telepon ke Mbok Darmi,” kalau sudah di studio Ambar akan terus memantau putranya.
“Ya Ma sudah 2 hari kami di studio,” jawab Mukti sangat lembut. Ambar adalah perempuan yang sangat Mukti cintai.
“Apa kamu langsung berproduksi?”
“Iya Ma, untuk pameran Solo barang sangat kurang. Kalau asal barang tentu banyak. Tapi kan aku mau yang berkualitas tinggi,” jawab Mukti.
“Kamu sudah makan?”
“Sekarang kan ada satpam Ma. Jadi Insya Allah makan enggak usah Mama kontrol lagi. Mama tenang aja bahkan satpamnya siapin juice. Kalau enggak habis satu botol yang dia siapin, aku enggak akan salat bareng dia. Tadi dia sudah ancaman aku begitu Ma.”
“Baguslah kalau kamu punya satpam. Kalau enggak digituin kamu tuh bahaya,” jawab Ambar sambil tersenyum. Dia senang ternyata sekarang Ayu bisa menghandle Mukti. Bahkan sampai mengancam untuk tidak salat berjamaah.
Memang biasanya Ambar yang mengingatkan Mukti untuk makan siang dan makan malam kalau berada di studio.
”Iya Ma tenang aja. Kalau soal makan sudah ada Ayya, eh Ayu. Jadi akan ke kontrol kok. Dan dia mengharuskan aku minum juice. Kalau enggak minum juice katanya aku cepat lelah dan sakit padahal aku butuh stamina prima buat pameran di Solo nanti.”
“Itu kan yang selalu Mama bilang. Perhatikan asupan makanmu. Selama ini kamu tidak perhatikan hal itu,” Ambar paling cerewet pada Mukti kalau soal asupan. Karena dua putranya yang lain tak punya jam kerja atau belajar seperti Mukti
“Iya Ma. Makanya sekarang aku dikontrol satpam.”
“Nanti Mama akan bilang soal suplemen buat kamu. Mama akan bilang Ayu untuk belikan obat sebelumnya Mama akan minta datanya dari Adel,”
Mukti sudah tak berkutik kalau mama, Adel dan Ayu berkolaborasi.
“Kemana Ayu-nya?”
“Di belakang Ma, dia sibuk dengan proyek kebunnya,” jawab Mukti. Tadi dia melihat Ayya sedang bicara di telepon pada Wayan papanya.
“Kebun apa?”
“Itu halaman belakang yang gersang dia tanami dengan rumput. Hari pertama dia sudah tidak betah melihat tanaman eh halaman kosong tanpa rumput.”
Ambar tertawa terbahak-bahak, memang dia juga pernah satu kali ke studio dan melihat halaman tersebut sangat gersang.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok.