
“Aku lihat dari tadi pacarku kok sibuk sendiri sama Mas Mukti ya? Bahkan buat makan Saja Mas Mukti harus diambilkan sama pacar aku,” Aksa menghampiri Mukti dan Ayu. Dia ikut duduk di meja itu, dia tarik kursi dari keja sebelah yang kosong. Padahal tadi Mukti sudah menyingkirkan kursi dari meja mereka agar tak ada yang ikut duduk bersama mereka.
“Itu tugas rutin aku kok,” kata Ayu.
“Tugas rutin kan kalau urusan pekerjaan. Masa urusan ambil makan aja kamu harus kerjain sih?” protes Aksa dengan wajah cemberut.
“Jangan-jangan kamu punya rasa yang lebih ya sama Mas Mukti? Kalau seperti itu aku jadi cemburu nih,” goda Aksa.
“Ih enggak lah. Mana berani aku jatuh cinta sama majikanku sendiri?” jawab Komang Ayu dengan gamblang.
“Sama aku kok berani?” pancing Aksa.
“Kamu bukan majikanku kan?” Ayya balas bertanya.
“Oh iya ya, beda jauh ya.”
“Ya beda lah,” jawab Ayya.
__ADS_1
“Yank. Kok ngomongnya gitu sih?” protes Mukti. Dia sungguh tak suka bila bicara tentang status sosial.
“Tuh kan, Mas Mukti aja panggil kamu sayank,” protes Aksa lagi.
“Yank bukan sayang kali, yank itu dari kata peyang,” tepis Ayya.
“Kamu tuh selalu gitu deh Yank. Kalau depan orang sengaja ngeledek Mas,” kata Mukti.
Sejak itu Mukti diam tak bereaksi apa pun yang Aksa dan Ayu obrolkan.
Ayya merasa Mukti sedang marah berat pada dirinya. Kali ini Ayya tak mau menggubris. Dia pun bertindak semaunya. Ayu melihat ke arah Sri dia melambai tangannya agar Sri pindah ke meja itu juga. Daripada dia bete lihat Mukti yang lagi diam seribu bahasa.
“Kamu makan sini aja dekat aku,” pinta Ayya.
“Sekarang aku berani lah kalau kamu sudah ada yang lain seperti Aksa. Kalau tadi kamu cuma berdua aku takut ganggu kalian,” jawab Sri sambil menarik kursi.
“Ganggu siapa? Orang aku enggak merasa terganggu kok,” jawab Ayya sambil makan puding.
__ADS_1
“Kamu enggak merasa terganggu, tapi mas Mukti merasa,” jawab Aksa.
“Enggak juga, jangan suka berpikir negatif gitu lah,” bantah Ayya.
“Enggak negatif, tapi itu kenyataannya,” jelas Aksa.
“Terlihat jelas Mas Mukti itu kalau sudah sama kamu enggak mau diganggu oleh siapa pun. Termasuk oleh aku atau keluarga lainnya.”
“Enggak gitu juga kok. Kami kan tiap saat bisa bersama. Kalau sama keluarga kan enggak, jadi aku sama Mas Mukti pasti bisa mengatur waktu kok. Lagi pula antara kami kan enggak ada apa-apa. Aku enggak mau orang lain salah sangka seperti kasusnya Saras. Saras mengira aku dan Mas Mukti punya hubungan spesial sehingga dia berbuat jahat padaku.”
“Pasti banyak perempuan lain di luar sana yang suka sama Mas Mukti. Kemarin aku lihat ada satu temannya yang juga suka sama Mas Mukti. Tapi dia enggak ngomong.”
“WahMas ku banyak fansnya,” goda Aksa.
“Gadis itu cantik, dia juga sama pelukis seperti Saras. Namanya Lingga. Dia selalu ngorek-ngorek aku seberapa dekat dengan mas Mukti. Ya aku bilang aja aku enggak ada apa-apa. Sepertinya dia merasa terganggu dengan kehadiranku. Cuma dia tak berani frontal seperti Saras. Tapi aku yakin dia enggak suka sama aku.”
Mukti kaget saat mengetahui bahwa Lingga juga suka sama dia. Selama ini Mukti tak pernah menganggap semua teman yang mendekatinya adalah orang yang naksir dia. Selama ini Mukti tak pernah suka pada orang lain. Dulu hanya Vio fokus hidupnya. Mukti tak pernah ingin berbagi.
__ADS_1
Kesetiaan Mukti sama seperti seperti Ambar dan Abu yang tak pernah tergoda oleh perempuan lain atau lelaki lain. Mereka sejak SMA sama-sama setia itulah yang Mukti teladani.