CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TRAUMA DIAJAK MAKAN


__ADS_3

“Kamu ke mana sih Sayank? Kok sejak itu nggak pernah bisa lagi Mas hubungi?” kata Mukti yang baru saja melakukan panggilan ke nomornya Ayya.


Padahal sehabis Mukti penutup panggilan itu Ayya mengaktifkan nomor lamanya. Tapi itulah jodoh. Dia belum berjodoh menghubungi Ayya lagi.


Mukti kembali menatap ruang pameran yang dia rasa sepi, tak ada lagi cahaya kehidupan.


Sesekali dia tersenyum dan menjawab sapaan orang. Tapi kalau untuk senyum lebih dulu atau bicara dengan siapa pun Mukti sudah tak lagi dia lakukan. Dia hanya melakukan reaksi. Hanya merespon. Tak melakukan aksi lebih dulu.


“Kita makan dulu, yuk. Sudah jam makan siang nih,” ajak Wayan.


“Aku trauma makan berdua kamu. Serius aku pun trauma makan di cafe. Mohon maaf aku sulit buat menghilangkan rasa gelap itu,” kata Mukti jujur.

__ADS_1


“Enggak apa-apa, santai saja Bro. Aku mengerti kok. Bagaimana kalau kita makan di warung Padang atau kita beli saja nyuruh orang?” tanya Wayan.


“Aku bawa makanan dari rumah. Tiap hari aku bawa sendiri karena takut dan tak ada yang antar seperti ketika ada Ayya. Mama ngertiin itu. Sebenarnya bisa saja orang di rumah suruh antar. Tapi aku tak mau. Jadi ya aku yang bawa sendiri. Mama tak membolehkan aku keluar rumah tanpa bawa bekal. Takut aku kelaparan.”


“Ya sudah kamu makan bekalmu. Aku beli makanan dari cafe suruh diantar ke sini,” kata Wayan.


Wayan pun menyuruh petugas di situ untuk membelikan makanan buat dirinya.


“Traumanya semakin parah. Tadi siang gue ajak dia makan, dia langsung nolak. Dia bilang trauma diajak makan sama gue dan elo. Dan dia juga trauma makan di cafe. Gue enggak ngerti lagi apa yang harus gue bikin biar dia terbebas dari traumanya,” kata Wayan saat minim kopi sore bersama Made. Ayya yang pulang kerja sengaja mampir ke ruang pameran jadi makin merasa kasihan pada Mukti.


“Sekarang dia di mana?”

__ADS_1


“Sudah pulang. Dia lupa bawa obat. Sepertinya ada yang telepon dia sudah minum obat atau belum. Jadi dia pulang. Sepertinya mas Sonny. Dia bilang Mas soalnya. Kalau ke kak Adel dia kan akan bilang kak.”


“Kita enggak bisa diam. Kita harus cari sampai dapat rekaman asli video CCTV yang dipotong. Mas Sonny belum dapat. Yang di kasih ke Mas Sonny yang sudah dipotong. Bikin Mas Sonny marah.”


“Sekelas mas Sonny aja enggak dapat, lebih-lebih kita kan?”


“Kita pasti bisa cari. Mulai besok kita cari berdua tanpa Mukti. Liat cafe itu nanti dia bisa pingsan karena traumanya menjadi,” jawab Made.


Ayya berjalan gontai ke kamar kostnya. Dia makin merasa kasihan pada Mukti yang sampai depresi seperti itu. Dia juga kasihan terhadap Ambar yang pasti sedih anaknya seperti itu.


Ayya salut pada attensi seluruh keluarga Lukito. Terlihat dari attensi mas Sonny yang memperhatikan apakah Mukti sudah minim obat atau belum.

__ADS_1


‘Aku harus bertindak. Aku enggak boleh egoist tapi aku enggak bisa hilangkan bayangan video itu!’ Ayya kaget ketika terantuk batu kecil. Untunya tak membuat dia jatuh. Dia pun melanjutkan jalan menuju halte bus kembali ke kamar kostnya.


__ADS_2