CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KUNJUNGAN PAMAN JIDAN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Mukti ingin berbagi cerita, tapi bingung ingin bercerita ke siapa?



“Made!” ucap Mukti tanpa sadar.



“Beneran sudah ketemu?” Akhirnya Mukti menghubungi Made dan melaporkan dia dan Abu sudah bertemu dengan mamanya dan Sonny.



“Sudah, tapi sedih deh. Kenapa  ya Mama tetap enggak maafin Papa? Bukan enggak maafin sih, aku ralat.”



“Maksudmu?” tanya Made sambil melihat putranya yang sedang disuapi makan oleh nenek sang anak atau ibunya Made.



“Mama maafin papa, dengan catatan mama minta waktu 1 tahun berpisah sementara dari papa. Mama bilang untuk cooling down. Lalu terserah Aksa mau ikut ke mama atau papa. Tapi aku yakinlah sejak kasus kemarin Aksa enggak akan  mungkin ikut papa,” jelas Mukti.



“Jadi sekarang anak-anak kebagi dua kubu dong?” tukas Made.



“Iya kubu mama dan kubu papa. Katanya mama mau tinggal di rumah mas Sonny yang di Jogja. Tapi kan enggak mungkin. Rumahnya mas Sonny kan jauh dari tengah kota. Tak mungkin kan Aksa di sekolah kan jauh dari sekolah besar?”



“Aku pernah datang waktu mau pulangin kunci ke Mas Sonny, rumah yang dia tinggali itu rumah besar walau minimalis berada di tengah kota dan dalam kawasan elite. Beda dengan yang aku tinggali. Rumah yang aku tinggali kan rumah besar di desa yang sepertinya buat investasi aja,” Made memberitahu fakta baru buat Mukti.



“Seriusan?” Mukti tak percaya akan info ini.



“Serius, Mas Sonny kasih alamat suruh datang ke rumahnya saat aku bilang mau pulangin kunci karena aku sudah kembali ke Bali. Terus aku makan malam bersama mamamu dan mas Sonny dua minggu lalu, sebelum kamu cari mereka. Jadi bukan aku sembunyiin keberadaan mereka. Mamamu bilang dia akan bawa Aksa ke Jember jadi aku berpikir mereka sudah enggak ada di Jogja lagi.”



“Oh gitu, kamu tau dong alamatnya?”



“Pasti tahu lah. Gimana aku bisa datang ke rumah itu kalau enggak tahu?” jawab Made.



“Bisa aku minta? Mungkin suatu saat aku butuh kesana,” pinta made.



“Janganlah, karena nanti kalau mas Sonny tahu kamu dapat alamat rumahnya dari aku, maka aku yang ketempuan. Padahal kan aku sangat berterima kasih karena dia kasih rumah free buat aku tempatin selama aku ngungsi.”

__ADS_1



“Aku enggak bisa menikam orang dari belakang seperti itu. Kamu sahabat sejatiku, tapi dia penolong aku jadi minta kamu ngertiin posisi aku,” kata Made.



“Oke aku bangga punya sahabat seperti kamu yang selalu teguh dalam berprinsip,” kata Mukti. Mukti tak akan mendesak Made. Karena dia tahu kalau Made sudah bilang tidak ya seterusnya akan tetap TIDAK.


\*\*\*



“Komang ada pamanmu,” Dewi seorang rekan kerja Komang memberitahu kalau Komang ada yang mencari.



“Baik Kak, habis ini aku ke belakang,” balas Komang. Dia baru akan mengantar pesanan konsumen.



“Assalamu’alaykum Paman,” sama Komang pada Jidan, adik ibunya. Jidan yang membawa Komang buar bekerja di cafe ini karena Jidan kenal dengan satpam cafe dan tahu saat itu cafe sedang butuh tenaga tambahan.



Jidan menunggu keponakannya di ruang belakang tempat para pegawai duduk beristirahat.



“Wa’alaykum salam, bagaimana khabarmu Nduk?” tanya Jidan pada keponakannya.



“Alhamdulillah baik Paman. Ada perlu apa Paman?” tanya Komang dengan medok Bali-nya dengan nada khawatir. Sejak bekerja disini 1,5 tahun lalu, baru 2 kali sang paman datang menyambanginya. Ini yang ke 3. komang memang harus to the poin karena di cafe ini tak boleh terlalu lama menerima tamu.




“Paman dengar dari siapa?” tanya Komang dengan lembutnya, tadi dia takut ada masalah di keluarga pamannya makanya sang paman datang ke tempat kerjanya ini.



‘Mengapa paman tak tanya pada sang informan saja khabar tentang ibu?’ pikir Komang.



“Ada kerabat bibi yang pulang ke Banyuwangi dan dia bilang dia habis bertemu dengan Saino yang bercerita bahwa ibumu sakit,” sahut Jidan. Jidan tentu khawatir terhadap kakak sulungnya. Setelah kedua orang tua mereka telang meninggal dunia.



“Sudah lebih enam bulan ini ibu sakit. Tapi saya tak bisa pulang atau berhenti bekerja karena butuh dana buat berobat ibu. Saat ini saya hanya bisa kasih uang semua tabungan saya. Dulu kan saya cuma kirim separuh gaji untuk ibu dan separuh saya tahan buat makan dan bayar kost saya di sini.”



“Kalau sekarang semuanya saya serahkan, saya cuma ambil buat bayar uang kost aja.” jawab Komang lirih.



“Lalu buat makan kamu gimana” tanya sang paman. Dia juga bukan orang berlebih. Hanya bekerja sebagai administrasi sebuah kantor dengan beban anak 3 tentu berat. Bahkan istrinya membantu jual gado-gado di rumah sebagai tambahan biaya hidup mereka.



“Untuk makan masih bisa saya tanggulangi koq Paman. Kan di sini dapat jatah makan. Nah itulah yang saya buat untuk makan dua atau tiga kali seharian,” jawab Komang lagi sambil tersenyum.

__ADS_1



“Kamu sampai seperti itu?” Jidan tak percaya sampai seperti itu pengorbanan Komang untuk sang ibunda.



“Karena hanya Ibu yang saya punya. Enggak mungkin kan saya jual diri atau jadi perempuan simpanan. Saya tidak mau seperti itu. Cukup ibu yang terperosok oleh cinta sehingga membuat dia tersiksa tak bisa bersama papa.”



“Paman tahu bagaimana dengan cinta ibu dan papamu,” walau masih kecil ketika kejadian itu Jidan tahu betapa besarnya cinta Sukma pada Wayan.



“Apa papamu tak ada khabar?” tanya sang paman.



“Paman kan tahu papa cinta mati pada ibu. Sama seperti ibu yang tak mau berpaling pada lelaki lain walau papa telah mengikhlaskan ibu mencari jodoh lain.”



“Sekarang papa sedang menjerat lehernya sendiri.”



“Maksudmu bagaimana?” Jidan bingung dengan jawaban keponakannya.  Papa sedang menabung satu sen demi satu sen untuk membayar semua uang milik Bu Dewi. Papa bisa cerai asal mengembalikan semua uang yang Bu Dewi minta yaitu sebesar modal usaha ditambah semua keuntungan toko selam ini. Jadi papa harus membayar sebesar 3 kali dari modal awal.” jelas Komang getir.



“Astaghfirullahaladzim,” Jidan tak percaya akan berita yang keluar dari mulut keponakannya.



“Sampai sebegitunya?” tanya Jidan bingung.



“Iya paman. Itu sebabnya akhir-akhir ini Papa nggak bisa ngasih uang satu rupiah pun pada ibu. Dia ingin segera terbebas dari bu Dewi.”



“Bahkan sekarang Papa tinggal di toko agar tidak keluar uang bensin. Mobil  juga sudah Papa jual. Papa sekarang pakai motor butut yang dipakai Ibu zaman aku kecil dulu.”



“Astagfirullah. Memang cinta papamu padahal ibumu terlalu besar sehingga dia mau berkorban seperti itu. Kalau dia mau kan dia tenang aja jadi suami Dewi walau tak bersatu dengan ibumu. Dengan Dewi harta akan tetap berlimpah tanpa kekurangan apa pun.”



“Dulu papa bertahan karena butuh biaya besar untuk kakek dan nenek. Walau dia tersiksa tak bisa bertemu ibu dan hanya sesekali bisa ke Badung. Sekarang papa tak perlu memikirkan orang lain, sekarang waktunya papa berjuang untuk dirinya sendiri.”



“Sekarang Papa berjuang biar bisa bebas dari bu Dewi agar bisa tinggal bersama ibu.”



“Paman tahu, memang sejak dulu cinta papa dan ibumu tak tergoyahkan.” Jidan sangat kagum akan cinta terlarang antara Sukma dan Wayan.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN  yok


__ADS_1


__ADS_2