CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
AKU ENGGAK GANTENG KAYAK AKSA?


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Pada keluarga besarnya, jauh-jauh hari Ambar sudah bilang dress code lamaran hari ini adalah hijau lumut seperti baju seragam yang keluarga inti mereka pakai, jadi keluarganya dari Jember semua juga menggunakan baju hijau lumut walau tidak seragam. Setidaknya satu warna menandakan mereka kompak.



Nanti  di pernikahan Ambar pasti akan membuatkan seragam untuk keluarga besarnya begitu pun keluarga besar Adel, nanti akan ada seragam. Tapi kalau untuk lamaran hanya keluarga inti saja yang menggunakan seragam. Itu pun di keluarga Sjahrir hanya Sjahrir dan Vonny yang pakai. Karena Tete dan Nene tak hadir di acara lamaran. Mereka bilang akan datang ke Jakarta bila saat pernikahan saja. Tete dan nene trauma, sudah datang di lamaran malah pernikahan batal waktu kasus Jeffry dulu.



“Aku gelap enggak sih pakai baju kayak gini?” tanya Aksa tak percaya diri.



“Nggak kok tetap ganteng,” Jawab Komang Ayu memberi support agar Aksa percaya diri.



“Kalau buat Mbak Ayu aku tetap paling ganteng lah,” balas Aksa. Mereka masih di ruang tamu suite room yang disewa Abu.



“Kok sama pacarnya manggilnya Mbak,” Eyang Angga menggoda cucunya.



“Tenang Eyang, sekarang aku tetap memanggil Mbak dulu kalau di depan orang. Kalau berdua sih aku panggil dia sayank kok,” jawab Aksa sambil dengar cengir.



“Ada yang kurang Mas?” tanya Ayya pada Mukti. Biar bagaimana pun dia tetap asistennya Mukti. Jadi dia harus  bersikap profesional sebelum mengajukan resign secara resmi.



Tadi pagi Ayya sudah minta kopi khusus ke dapur hotel untuk dia buat sendiri dan dia sediakan bagi Mukti.



“Enggak. Enggak ada yang kurang. Oh iya terima kasih kopi spesialnya tadi pagi yang kamu buatkan dari dapur dan kau bawa sendiri,” Mukti mengapresiasi apa yang Ayya kerjakan karena memang Ayya tidak pesan kopi untuk diantar, tetapi dia buat sendiri dapur. Di kamar hotel hanya ada teh dan gula. Tak disediakan kopi.


__ADS_1


“Iya sama-sama,” jawab Ayya.



“Sudah pas belum?” tanya Mukti tentang penampilannya.



“Pas kok. Bagus,” kata Ayya jujur tentang penampilan bossnya yang memang sangat memukau.



“Kalau digulung pantas enggak?” Mukti minta pendapat bila dia menggulung lengan bajunya.



“Kenapa harus digulung?” Ayya memicingkan matanya memperhatikan kedua lengan kemeja Mukti yang dia rasa sudah pas.



“Kayaknya kok dipanjangin gini enggak enak banget,” keluh Mukti.



“Digulung tapi 7/8 aja ya, jangan sampai 1/2,” jawab Ayya memberi pendapat.




Ayya pun menggulung lengan baju Mukti dua kali lipatan saja. Angga dan Aksa saling pandang tanpa kata.



“Cukup segini aja ya jangan dinaikin lagi. Kalau tahu begini kemarin pesannya tangan pendek aja kayak Aksa, Farhan, dan Fahri,” Ayya menyudahi pekerjaannya menggulung lengan kemeja Mukti.



“Mana aku tah,u aku kan dipeseninnya cuma kasih ukuran, enggak tahu kalau harus tangan panjang,” Mukti tak mau disalahkan Ayya.



“Ya tapi jangan pasang muka cemberut gitu juga. Enggak pantes,” bisik Ayya lirih melihat wajah bossnya yang tak mau dia salahkan.


__ADS_1


“Lah kamu yang bikin aku kesel, kan aku bilang aku nggak tahu.”



“Ya sudah enggak usah cemberut. Nanti banyak orang jadi enggak bagus kesannya.”



“Kenapa? Maksud kamu aku enggak ganteng kayak Aksa kan?”



“Aku enggak bilang Aksa ganteng tiba-tiba kan? Aku bilang dia tetap ganteng seperti biasa. Aksa bilang dia paling ganteng kalau di depan aku. Emang aku salah?” jawab Ayya keqi. Dia langsung meninggalkan ruang tengah tempat Mukti berada. Mukti menatap kepergian Ayya dengan perasaan campur aduk.



‘*Selalu aja semua yang aku katakan depan dia salah. Tapi kalau pendapat orang lain bisa dia jawab dengan candaan*.’



Mukti menyesap kopinya sambil merasakan kenikmatan kopi tersebut. Sambil membayangkan wajah kesal pembuat kopi yang baru saja meninggalkan dirinya.



“Kamu kok punya kopi di sini?” tanya Pakde Pras yang tak bisa mengawali hari tanpa kopi. Tadi istrinya bilang nanti saja pakde ngopi di resto sekalian sarapan.



“Oh tadi Ayya, eh Ayu yang buatin,” balas Mukti.



“Wow spesial pastinya ya kalau dibuatin kopi, karena di ruang ini kan enggak ada kopi, hanya ada teh dan gula,” ucap pake Pras.



“Ayo semuanya langsung ke ruang makan abis itu kita langsung berangkat. Jadi bawa tas kalian yang mau dibawa untuk ke lokasi rumahnya Sjahrir,” kata Ambar. Pagi ini semua sarapan bersama di resto hotel tempat mereka menginap.



Jadwal acara di rumah Vonny pertemuan jam 10.00 sehingga begitu selesai lamaran akan diadakan makan siang. Tentu saja sebelum berangkat mereka harus sarapan dulu kan?


biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.

__ADS_1



__ADS_2