
Ayya dan Mukti langsung menuju lobby ruangan resepsi setelah selesai melakukan sesi foto. Mukti langsung minta dikirim foto tadi ke ponselnya sebelum di cetak.
Ayya baru sadar, foto tadi akan dilihat semua keluarga besar karena di buat dengan kamera panitia. Bukan dengan ponsel. Tapi tak mungkin kan Ayya minta pada fotografer resmi itu untuk menghapus semua foto tadi.
‘Ah, penyesalan memang datang belakangan,’ pikir Ayya sambil berupaya tersenyum karena banyak orang yang menyapanya.
Beberapa keluarga yang jauh mulai berdatangan. Mukti yang berdiri di dekat meja penerima tamu menyambut mereka. Dia dan Ayya memang menjadi pagar bagus dan pagar ayu dari pihak mempelai laki-laki.
“Mas itu bukannya Pak Made ya?”
“Wow dia datang lebih dulu loh. Padahal jadwal pengantin keluar masih satu jam lagi. Ayo kita temuin,” ajak Mukti.
Made dan kedua orang tuanya serta anaknya datang lebih dahulu.
“Itu anak yang Mas ceritain?” bisik Ayya.
__ADS_1
“Ya betul itu anak mantan istrinya Made. Tapi Made yang menang hak asuh walau secara biologis bukan ayah kandungnya. Tapi karena dia lahir saat Made dan Pricilla terikat dalam pernikahan ya dia menang. Pengacaranya itu adalah yang memenangkan kasus perkaranya Sonny juga melawan Vio juga.”
“Pasti Pak Tonny juga datang, nanti Mas kenalin kamu sama pengacara terkenal tersebut,” jawab Mukti.
“Wah kalian memang pasangan serasi,” kata Made memuji penampilan Mukti dan Ayya malam itu.
“Sudah cepat dihalalin aja biar aku ikut jadi panitia,” Mukti hanya tersenyum bahagia diledek oleh Made. Sedang Ayya hanya menggoda anaknya Made.
Ayya dan ibunya Made pun ngobrol akrab dengan bahasa Bali.
“Mas …,” Panggil Ayya. Mukti tak mendengar karena sedang asyik bicara dengan Made dan pak Putut.
“Mas,” kata Ayya lebih keras.
“Ya Sayank,” jawab Mukti sambil menengok ke arah Ayya.
__ADS_1
“Ada Arjun. Demi Allah aku enggak mengundang dia. Kalau Mas mau marah silakan Mas marah. Aku langsung masuk kamar saja. Aku enggak tahu. Itu ada Arjun,” bisik Ayya. Dia menunjuk dengan dagu.
Mukti pucat pasi mendengar kata-kata Ayya. Tak mungkin dia marah pada Ayya dan membuat gadis manis pujaan hatinya masuk kamar. Bisa-bisa dia disunat habis oleh Ambar dan Abu bila Ayya sampai benar-benar melakukan hal itu.
“Kalau bukan kamu yang undang ya sudah. Tenang aja,” jawab Mukti menahan gejolak amarahnya. Dia kecup selintas pipi Ayya. Perbuatan itu dilihat ibunya Made, Made serta pak Putut.
“Kemarin waktu Carlo ada di akad nikah Mas marah. Mas curiga aku yang kasih undangan. Pasti sekarang juga Mas akan mulai ngamuk lagi dikiranya aku yang undang. Mas tahu aku enggak pegang 1 undangan pun. Sri datang tanpa undangan tapi aku izin bawa dia,” tegas Ayya.
“Sumpah aku enggak tahu apa-apa soal undangan.”
“Iya Mas tahu. Kemarin waktu Carlo Mas salah menduga. Maafin Mas ya. Dan soal Arjun Mas yakin bukan kamu yang undang,” Mukti tahu Ayya sama sekali tak punya undangan satu lembar pun karena semua undangan di urus Sonny dan Adel langsung berkaitan dengan barcode.
Semua yang ingin mengundang tinggal kasih list ke Sonny atau Adelia nanti mereka yang urus secara langsung.
Saat bersamaan Mukti melihat Carlo dan beberapa artis serta manajemennya masuk ke ruang resepsi. Mukti tambah ketar-ketir dia harus membuat penjagaan penuh pada Ayya.
__ADS_1