CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PASANGAN KASMARAN


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Semua sudah beres Yu?” tanya Ambar.



“Sampun Ibu eh Ma, saya letakkan di meja makan aja semuanya,” jawab Komang Ayu. Kadang dia masih saja salah menyebut nama panggilan penghuni rumah ini. Terutama pada Mukti.



Ambar memang minta disiapkan makan untuk dua orang yang dari Jogja yang mengirim barang, ditambah dua tenaga yang dibawa oleh Pakde Parman untuk membantu menurunkan barang-barang yang rupanya sangat banyak, satu mobil bak penuh.



“Sonny dan Mukti belum pulang?” tanya Ambar.



“Saya malah enggak lihat Bu. Enggak perhatikan mereka sudah pulang atau belum. Dari tadi saya di belakang sama sekali enggak lihat mobil di halaman atau lihat mereka masuk rumah,” jawab Komang Ayu yang terus saja salah.



‘*Ada apa dengan Ayu? Dia sampai salah berkali-kali sebut aku dengan panggilan ibu juga menyebut dirinya dengan kata saya*,’ Ambar yang peka tentu menangkap kegalauan Ayya.



“Yo wis lah, pasti mereka juga sudah bersiap untuk packing buat besok.”



“Mas Mukti tadi enggak bilang apa yang harus dibawa.”



“Yang penting seragam keluarga kita aja sudah siap belum?” tanya Ambar.



“Seragam kita sudah Ma. Tadi aku sudah siapin semuanya. Aku jadiin satu koper punya de Aksa Mas Mukti, punya Mama, papa, eyang,” jawab Komang Ayu.



“Bajumu?” tanya Ambar.



“Baju saya ada di koper saya aja. Takutnya kalau di koper yang barengan nanti pas di kamar Jakarta bingung nyarinya,” jawab Komang Ayu.



“Tapi jangan sampai enggak ke bawa, karena kamu bagian dari kita.”



“Bagaimana baju tante Laksmi, Om Dwi serta Farhan dan Fahri?”



“Ada juga di koper pakaian seragam Ma, saya jadiin satu pokoknya semuanya.”



“Oke sip kalau gitu, Mama takut lupa,” Ambar tenang semua sudah rapi disiapkan Ayu.



“Enggak Ma. Aku jadiin satu. Sengaja biar enggak kececer lebih-lebih Mas Mukti yang pelupa, sama Aksa yang teledor,” jawab Komang Ayu, dia memberi penilaian jujur pada mama kedua orang yang telah dia sebut tadi.



“Nah itu, dua orang itu memang harus diperhatikan dengan lebih daripada yang lain.” jawab Ambar tak marah karena memang demikianlah kenyataannya dua orang itu.

__ADS_1



“Kalau baju Mas Sonny, karena beda enggak dimasukin di koper itu Ma.”



“Kenapa kok enggak ada di koper itu?”



“Aku takut mas Sonny pengen masukin  di tas dia sendiri,” Komang Ayu memberi alasan mengapa baju milik Sonny tak dia gabung dengan milik yang lain. Baju yang lain dari penjahit ada namanya jadi tak akan tertukar dalam koper. Walau sama, Komang Ayu berani jadikan satu.



“Masukin di koper aja sekalian, enggak apa-apa. Kalau di pisah nanti malah mas Sonny akan bingung,” balas Ambar.



Baju Sonny memang berbeda dengan baju seragam keluarga karena baju Sonny nanti akan kembar dengan Adelia.



“Iya Ma. Nanti aku pindahin, tanggung sebentar ya Ma. Ngerampungin ini dulu,” balas Komang Ayu.



“Ya enggak apa apa asal kamu jangan lupa, bisa digorok kalau baju itu ketinggalan,” Ambar langsung tertawa sehabis bicara seperti ini.



“Nanti mohon Mama tanyain aku lagi, takut-takut klau aku lupa Ma.” Komang Ayu menanggapinya serius.



“Ya, nanti Mama tanya lagi ya,” kata Ambar.



“Bude, makanan sudah siap, panggil aja semuanya,” Komang Ayu meminta bu Parman memanggil suaminya dan 4 orang yang angkat-angkat barang.




“Mama. Mama cek dulu koper seragam deh Ma, aku takut ada yang kurang. Barusan baju Mas Sonny sudah aku masukkan ke sana,” Komang Ayu meminta Amabr sama-sama ngecek seragam.



“Itu celananya belum ada semua loh Ma. Aku enggak tahu Mama kasih mereka seragam apa. Kalau punya Mama sudah ada atas bawah,” kata Komang Ayu.



“Wah untung kamu bilangnya sekarang. Mama sampai lupa mereka harus menggunakan celana bahan kain warna hitam!”



“Sebentar Mama carikan celana papa sama eyang, nanti kamu minta sama Mukti ada celana bahan kain warna hitam, juga punya Aksa kalau mereka sudah pulang.”



“Iya Ma. Nanti Mama ingetin lagi ya. Mama ingetin ke mereka dan suruh kasih ke aku,” jawab Komang Ayu.



“Laksmi jangan lupa Dwi sama anak-anak bawain celana warna hitam kalau bisa sih dari bahan kain. Tapi kalau enggak ada ya enggak apa-apa,” Ambar langsung menghubungi Laksmi.



“Astaga untung ngomongnya sekarang, aku masih bisa cari,” jawab Laksmi.



“Memang kenapa Mbak sampai lupa?”


__ADS_1


“Iya barusan Ayu sekretarisnya Mukti ngasih tahu bahwa setelan seragam itu belum aku siapin.”



“Jadi semua pakai seragam?”



“Iya yang waktu itu aku bilang buat kita, itu seragam keluarga kita.”



“Aku pikir cuma buat aku,” kata Laksmi.



“Enggak lah buat Fahri dan Farhan juga Dwi ada cuma aku lupa bawahannya itu celana bahan kain warna hitam,”



“Aku cari sekarang Mbak. Mumpung masih keburu, kalau pun enggak dapat hari ini besok pun masih bisa. Karena besok aku kan berangkatnya setelah anak-anak pulang sekolah. Aku meluncur sekarang lah dari kantor,” kata  Laksmi.



“Cuma aku enggak tahu ya Mbak. Untuk anak-anak itu ada enggak celana bahan kain warna hitam, biasanya seumuran mereka adanya jeans.



“Ya enggak apa apa lah kalau untuk mereka jeans aja biar lebih santai. Soalnya Aksa juga enggak punya celana dari bahan kain warna hitam, mungkin dia juga pakai jeans.”



“Ini Aksa baru keluar bersama Ayu, karena Ayu juga belum siap. Dia kira bawahnya enggak seragam jadi tadinya dia mau pakai rok polos putih. Semoga Aksa mau dipaksa Ayu beli celana kain.”



“Tadi dia sih enggak mau pakai celana bahan kain tapi pas diajak Ayu dia mau. Kalau dia enggak pakai celana bahan kain biar nanti kalau Aksa pakai jeans dengan adik-adiknya.”



“Ya wis. Nanti pokoknya yang buat Farhan dan Fahri aja aku pastikan jeans aja lah Mbak. Jadi bisa dipakai next time kalau celana bahan kan mereka enggak akan mau pakai lagi.



“Ya begitu aja, yang penting Dwi jangan pakai jeans.”



“Enggak Mbak, Mas Dwi ada kok celana bahan hitam. Enggak perlu beli baru.”



“Ya wis Aku cuma mau ngomong itu.  Barusan Ayu sekretaris nya Mukti  ingetin seragam bawahnya belum ada Takutnya nanti kamu enggak tahu jadi aku langsung telepon,”



“Oke siap Mbak, aku langsung berangkat,” jawab Laksmi. Dia pun segera bersiap untuk ke mall dan mengabari Dwi kalau dia akan pergi dari kantor mencari seragam untuk hari Sabtu pagi di Jakarta.



“Serius Ma?”



“Seriuslah. Katanya sekalian mereka juga mau makan bakso berdua jadi barusan telepon enggak ikut makan malam di rumah,” jawab Ambar ketika Sonny bertanya siapa yang menghubungi Ambar.



“Wajarlah, namanya juga pasangan kasmaran,” celetuk Angga membuat hati Mukti yang mendengar sangat panas. Aksa pergi bersama Ayya sejak sore dan barusan telepon mamanya memberitahu kalau mereka tak ikut makan malam di rumah karena akan kencan!



Siapa yang pro mas Mukti nih, atau pro Aksa? Kasih kopi manis buat eyang dan komen manis yaaaaaa.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.

__ADS_1



__ADS_2