CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MASAKAN SPECIAL BUAT MAS


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Ayo Arjun, kita makan dulu. Agak geser ke sini karena makanannya ada di area sini,” kata Komang. Memang meja yang ada di pendopo adalah meja kayu panjang tapi tentu pendek karena buat lesehan.



“Wah jadi merepotkan,” kata Arjun.



“Enggak kok memang semua tamu di sini seperti itu, sebentar lagi juga ada para pegawai mereka tetap harus makan di sini,” kata Ayya. Mukti sedang mencuci tangan.



“Kamu masak apa buat aku?” tanya Mukti.



“Katanya kamu spesial masak buat Mas.”



‘*Mas*?’ Arjun mengernyitkan alis mendengar Mukti meyebut dirinya MAS dan Komang Ayu tak kaget. Artinya panggilan itu memang sudah biasa di gunakan.



‘*Bukannya tadi dia bilang ke orang-orang BAPAK ya*?’



”Lihat dong,” kata Ayya membuka tutup mangkok tempat gule kepala kakap.



“Wow thank you ya Yank. Kamu bikinin Mas gule kepala kakap,” Mukti sangat senang. Mukti langsung membuat foto satu mangkok gule itu.



‘*Yank*?’ Arjun kembali kaget lagi dengan kosa kata yang dia dengar kali ini.



Arjun melihat Komang mengambilkan nasi buat Mukti juga gulai kepala kakap dan sayur capcay yang disediakan oleh penjaga atau pegawainya Mukti tadi.



“Cukup Yank, sayurnya cukup,” kata Mukti.



“Pasti begitu kalau soal sayur,” jawab Komang Ayu menuruti permintaan Mukti untuk menyudahi ditambah sayurannya.



“Arjun, ayo ambil lo jangan malu-malu,” kata Komang Ayu.



“Iya, ini juga mau ambil kok. Nanti malah aku malu-maluin, tenang aja.”



Ayya pun mengambil sedikit nasi dan satu kepala kakap untuk dirinya sendiri. Mukti tersenyum melihat Ayya juga mengambil satu kepala buat dirinya tanpa malu.



“Kamu sengaja beli kepala kakap banyak-banyak?” tanya Mukti.



“Enggak tadi beli 4 kepala aja. Rupanya bukan kiloan di sini tapi dihitung piece lalu ditimbang,” jawab Ayya.



“Memang biasanya dihitung kiloan?”


__ADS_1


“Kalau di Jakarta seperti itu dihitung kiloan, tapi entahlah bukan aku bagian belanja. Aku sering titip belikan satu saja bila sudah kepengin,” jawab Ayya.



“Arjun, kamu suka kepala. Ini ambil aja,” tawar Komang Ayu.



“Enggak saya pakai ayam aja sama capcay. Kebetulan saya tidak suka kepala ayam atau kepala ikan,” kata Arjun. Mukti dan Ayya berpandangan lalu tersenyum karena dua yang disebut itu adalah makanan kesukaan Ayya.



“Aku lupa kamu anak sultan, tak doyan makanan rakyat ya,” sindir Ayya.



“Bukan begitu, tapi memang tak pernah ada kepala ayam, ceker atau kepala ikan dalam menu makanan sejak kecil jadi tak terbiasa saja,” jawab Arjun



“Maaf saya enggak nemani lama-lama ya. Saya kalau sudah bekerja itu enggak bisa ditinggal lama-lama,” kata Mukti setelah mereka selesai makan.



“Iya Pak, silakan,” jawab Arjun.



Mukti langsung meninggalkan Arjun, sementara Komang sedang membawa bekas makan ke belakang. Tak lama bu Iklas datang membantu membereskan.



“Jadi jelas ya Jun. Aku tuh enggak pernah marah ke kamu, tapi aku enggak suka aja cara kamu memata-mataiku.”



“Aku tuh enggak mata-matain kamu. Kebetulan Indra dan Bayu kemarin lihat kamu sedang makan malam dengan Pak Mukti dan mereka lapor ke aku.”



“Lalu aku salah makan berdua dengan bosku?”




“Maksud kamu?”



“Perlakuan kamu pada Pak Mukti itu bukan tingkah seorang pegawai pada bosnya, kamu ngambilin nasi dan lauknya seperti seorang istri pada suaminya. dan panggilan dia itu ke kamu YANK lho. Kamu juga masakin dia spesial,” cecar Arjun tak suka.



Ayya sadar sejak tadi Mukti memanggilnya YANK berkali-kali. Tapi masak dia mau larang atau tegur Mukti di depan tamunya?



“Memang kami sangat dekat sih, bahkan mamanya juga adalah mamaku,” kata Komang Ayu.



“Maksudmu?”



“Aku adalah anak mamanya. Sebagai anak perempuan satu-satunya atau mungkin sebagai calon menantu. Lebih bagus begitu kan? Langsung dekat dengan mertua daripada cari pasangan yang orang tuanya enggak suka sama kita karena beda kasta. Lebih baik yang sudah langsung menerima seperti orang tuanya Mas Mukti,” jawab Ayya. Dia bicara hati-hati. Kalau Mukti dengar bisa bahaya. Bisa marah atau GE-ER.



“Nah itu satu lagi, kamu manggil dia MAS bukan PAK,” ucap Arjun memotong ucapan Ayya.



“Kalau berdua aku memang manggil dia mas, karena dia enggak mau aku panggil pak. Tapi kalau di depan pegawai dan semua orang aku manggil pak.”



Saat itu ponsel Komang Ayu bergetar di meja. Arjun melihat nama yang memanggil tulisannya hanya MAMA.


__ADS_1


“Sebentar ya, aku angkat telepon sebentar,” Komang Ayu minta izin pada Arjun.



“Iya. Assalamu’alaykum Ma,” kata Ayu lembut.



“ ….”



“Mama tahu dari mana?”



“ ….”



“Wah mas Mukti pamer ke Mama ya?”



“ ….”



“Iya Ma. Tadi malam itu aku sama Mas Mukti rebutan makan kepala ikan bakar. Jadi aku pikir daripada kami rebutan, tadi aku minta bu Pinem untuk belanja kepala kakap. Lalu aku masak. Syukurlah kalau mas Mukti hasil masakanmu Ma.”



“ ….”



“Iya Ma, nanti pas pulang dari Jakarta kalau aku mampir Solo aku masakin buat Mama sama eyang.”



“ ….”



“Aku juga mau buat kepala ayam crispy buat aku dan Aksa kalau enggak ada Kak Adel. Karena katanya Kak Adel juga suka kalau kepala ayam. Mas Sonny sama Mas Mukti kan enggak maniak kaya kami,”



“ …”



“Wah Mama malah belum tahu kesukaan Kak Adel?  Tadi malam eh tadi pagi Mas Mukti bilang sama aku bahwa Kak Adel juga suka banget sama kepala ayam sama seperti aku dan Aksa.”



“ ….”



“Oh iya, wah berarti tambah lagi kompetitor untuk penyuka kepala ayam.”



“ ….”



“Iya Ma, nanti aku bilangin sama Mas Mukti dia sudah langsung ke tempat kerjanya Ma. Kami baru selesai makan.”



“ ….”



“Ya Ma. Wa’alaykum salam.”


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.

__ADS_1



__ADS_2