
“Kamu itu nggak pernah kekurangan ide ya?” kata Adelia. Malam ini dia sedang makan soto mie buatan Ayya.
“Padahal di Bali aku belum pernah loh dibikinin soto mie seperti ini,” cetus Mukti.
“Baru ingat Mas. Pas kemarin lihat kios soto mie bogor. Jadi langsung aku pengen bikin deh.”
“Jozz. Wah maknyus ini,” kata Sonny.
“Walau menu ini bukan masakan yang sedang aku inginkan atau ngidam tapi ini memang enak.” lanjut Sonny.
Tentu saja Aksa juga sependapat. Mereka makan soto mie puas-puas.
“Beneran Papa jadi males pergi-pergi kalau ada kamu Yu,” kata Abu jujur.
“Tadi siang Papa puas banget makan rujak cingurnya, sekarang malah ketemu soto mie bogor. Benar-benar memanjakan lidah dan perut,” ucap Abu.
“Iya, lebih-lebih yang pedas seperti ini,” kata Sonny.
“Tadi aku nyobain rujak cingur yang pedas dan nggak pedas beda banget rasanya. Pokoknya joss kalau pedas.”
“Kalau dibikin pedas semua ya kasihan eyang lah,” jawab Ayya.
“Ayu, besok kita enggak boleh terlalu siang ya. Habis makan siang kita jalan,” ucap Sonny setelah sejak tadi bicara tentang masakan.
“Solo ~ Jogja itu dekat, cuma kan jalannya harus pelan-pelan namanya bawa bumil,” ujar Sonny.
__ADS_1
“Aku siap. Habis makan siang ready koq. Jadi menu makan malamnya nanti biar Mama tinggal hidangin. Mau di bikinkan apa Ma makan siang sama makan malam untuk besok?” kata Ayya pada Ambar.
“Bagaimana kalau makan siangnya sayur asem betawi saja, sama pepes peda,” kata Abu.
“Wah cucok itu Pa,” kata Adelia pada Abu yang memberi ide menu makan siang.
“Oke berarti deal ya makan siangnya sayur asem saja, tambah sambel dan lalapan,” kata Ayya.
“Kan sama pepes peda Yank,” ucap Mukti.
“Iya, pakai pepes peda.”
“Makan malamnya mau dimasakin apa Ma?”
“Yang ada di kulkas aja di olah. Biar kulkas bisa isi bahan yang baru,” jawab Ambar.
Ayya benar-benar memanjakan keluarga Lukito dengan keahliannya memasak.
Pagi ini hari Minggu dia bikin bubur ayam lengkap dengan kerupuk, sambal kacang serta suwiran ayam, juga irisan cakwe dan kedelai putih pastinya. Ayya melengkapi dengan sate usus ayam dan ati rempela.
Yang jadi kejutan adalah pagi ini Ayya membuatkan martabak telur serta acar kesukaan Aksa
“Pacarkuuuuu. Kamu bikinkan aku apa pakai acar?” seru Aksa melihat satu mangkuk acar segar.
“Tadi malam aku mau bikinin martabak telur, tapi kayaknya sudah kekenyangan sama soto mie bogor, jadi aku keluarin ini pagi-pagi saja,” kata Ayya.
__ADS_1
Tentu saja semua senang dengan menu yang terhidang itu. Apalagi Aksa yang paling suka martabak telur dengan acar.
“Bagaimana Mukti nggak tambah buncit kalau kayak begini,” goda Angga.
“Aku tuh buncit bukan karena dimasakin sih. Aku buncit karena nggak pernah olahraga,” Mukti nge-les.
“Oh jadi aku nggak diakuin ngurus Mas dengan benar nih? Oke kalau begitu,” kata Ayya.
“Eh nggak gitu Yank. Iya … iya Yank. Memang buncitnya karena kamu masaknya enak terus,” kata Mukti. Dia tentu tak mau kekasihnya ngambeg.
Semua tertawa melihat pola tingkah Mukti yang bucin dan takut kehilangan Ayya.
“Jadi kamu beli cakwe itu buat bikin bubur ayam?” kata Ambar.
“Ya kalau lagi rajin bikin sendiri cakwuenya. Tapi kan kadang males karena harus dibiarkan lama dulu. Lebih praktis langsung beli jadi seperti ini saja. Pagi tinggal diiris,” jawab Ayya.
“Kadang kalau di rumah aku suka bikin ayamnya itu aku iris kecil-kecil langsung masukin di bubur Ma. Jadi tidak disuwir di atasnya. Memang untuk estetikanya agak kurang. Karena tidak ada suwiran ayam. Tapi untuk rasa lebih enak,” jelas Ayya.
“Iya namanya bubur ayam, biasanya ayamnya adalah ayam suwir seperti ini kan?” kata Adelia.
“Kalau untuk estetika memang di suwir seperti ini. Tapi bubur ini kerasa banget kan ayamnya?” kata Ayya.
“Iya sih gurih ayamnya kerasa,” jawab Ambar.
“Aku bikin kaldu ayam dari banyak ceker yang aku cincang Ma. Kaldu itu yang buat bikin buburnya, jadi benar-benar kaldu ayamnya itu asli bukan pakai perasa kaldu,” kata Ayya lagi.
__ADS_1
“Jadi memang beda kalau kita mau bikin buat sendiri.”
“Oke besok kapan-kapan Mama kalau bikin juga akan seperti ini. Cakwenya juga akan tinggal beli saja,” kata Ambar.