CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
LEBIH LELUASA MELUK


__ADS_3

“Ternyata enakan naik motor ya Yank,” kata Mukti.


“Kenapa Mas? jawab Ayya yang tak mengerti maksud omongan tunangannya tersebut. Mereka leluasa bicara karena helm mereka ada intercom helm. Tak perlu mereka teriak atau tak dengar pembicaraan orang di depan atau di belakangnya.


“Ya ada yang lebih leluasa meluk aku kan?” goda Mukti


“Ih sukanya kayak gitu deh,” jawab Ayya sambil mencubit paha tunangannya.


“Kalau aku bereaksi terhadap cubitanmu kita bisa nabrak lho Yank,” Mukti mengambil tangan kanan Ayya dan kembali meletakkannya di perutnya. Sekarang kedua tangan Ayya dia pegang lembut.


“Makanya nggak usah usil seperti itu,” jawab Ayya lagi.


Ayya memang memeluk erat pinggang tunangannya karena sejak tadi Mukti sengaja bawa motornya itu dibelok-belokkan atau kadang dia sengaja ngerem mendadak walau tak ada halangan di depan dan mereka juga tak ngebut.


Modusnya Mukti kan?


“Wah enak ini Mas. Aku bisa kok buatnya. Ini gampang banget,” kata Ayya saat merasakan sate buntel yang baru kali ini dia makan. Rupanya yang dibuat adalah daging kambing cincang yang dibungkus dengan lemak kambing. Kalau tak ada lemak bisa diganti dengan alumunium foil dan dibakar.

__ADS_1



“Aku ajak makan lalu tiba-tiba kamu bilang bisa bikin, gampang banget. Tapi tadi kamu bilang ke mama kalau aku nyuruh kamu masakin,” protes Mukti sambil menyuapi Ayya dengan sedikit tongseng yang mereka pesan.


“Bukannya tadi Mas yang bilang kepengen makan puas? Itu sama saja nyuruh aku bikin kan?” balas Ayya.


“Ha ha ha iya sih. Biar aku tuh puas makannya tak terbatas Yank. Lihat saja, kayak begini kan kalau makan di rumah pasti enak banget,” balas Mukti dengan malu karena niatnya bisa terbaca jelas.


“Iya nanti kita sampai di di Bali kita bikin ya?” Ayya menjanjikan akan membuatkan. Dia mengambil tissue dan mengelap sudut bibir Mukti yang kebetulan ada kecap.


“Pas kita di sini saja. Kita bikin sate ini. Ngapain nunggu di balik ke Bali? Kelamaan banget Yank.”


“Nanti pas kamu nggak sibuk kamu bikin. Kan kalau hari Sabtu dan Minggu juga ada Sri. Jadi biar kamu ada teman buat masaknya,” ujar Mukti.


“Wah aku lupa ada Sri loh Mas. Kalau begitu besok Sri nggak usah datang dulu lah. Nggak enak besok kan waktunya kumpul keluarga sama Mas Sonny dan kak Adel,” Ayya langsung mengambil ponsel miliknya di slingbag.


“Kenapa Sri nggak boleh datang dulu?” Mukti tentu heran karena Sri adalah sahabat terbaik Ayya.

__ADS_1


“Nggak enak lah Mas. Aku pasti ingin ngobrol lama sama Sri, tapi di satu sisi ada kak Adel. Aku nggak mungkin gabungin mereka jadi satu frame. Pasti beda. Jadi biarin Sri tunda saja. Minggu depan baru ketemu, karena kan kita juga nggak tahu bahwa kak Adel mau datang,” balas Ayya. Dia telah selesai menulis pesan untuk Sri dan kembali makan.


Ayya memang langsung menghubungi Sri dan menceritakan bahwa tak enak besok waktunya kumpul keluarga. Dia takut tidak bisa menemani Sri saat mereka semua sedang kumpul. Untungnya Sri pun mengerti.


‘Nggak apa-apa. Bener kamu harus bilang sama aku seperti itu. Daripada aku besok mengganggu waktu kalian.’


‘Maaf ya Sri, aku juga baru tahu kak Adel mau datang barusan. Jadi aku langsung kasih tahu kamu biar kita bisa puas ngobrol. Karena kalau ada kak Adel aku takut kamu harus aku tinggal terus. Jadi kita malah nggak enak.’


‘Dan nanti hari Senin mungkin aku ingin mencicipi menu yang ada di kantinmu. Kita ketemu nanti hari Senin siang ya?’


“Yank, gimana kalau hari Minggu kita ikut Mas Sonny saja pulang ke Jogja? Nanti kita di sana satu atau dua hari. Kamu jangan janjian dengan Sri hari Senin atau Selasa ya?” kata Mukti memotong chat Ayya seakan tahu kalau kekasihnya pasti janjian dengan Sri untuk menukar waktu.


“Oh boleh Mas,” Ayya menjawab dengan senang karena ajan diajak ke Jogja.


“Nanti aku bilang Sri deh,” balas Ayya,


‘Maaf mungkin bukan hari Senin besok deh. Nanti aku kabari lagi. Ini Mas Mukti bilang kemungkinan kami akan ikut ke Jogja. Jadi mungkin sesudah kami pulang dari Jogja ya baru aku kabari kamu lagi,’ Ayya meralat pesannya tadi yang belum Sri baca.

__ADS_1


‘Siap Bu bos. Aku pokoknya nunggu kabar dari kamu saja. Yang penting kamu sudah kasih tahu aku, kalau kamu sudah ada di Solo dan Jogja.’


‘Iya sip. Aku pasti akan kabari kamu kok. Karena kan memang jauh-jauh hari aku sudah bilang aku pasti akan ketemu kamu setiap akhir minggu. Bila aku nggak ada acara dan aku juga kepengen belanja di pasar Klewer sama kamu. Aku dari Bali nggak bawa banyak baju.’ tulis Ayya.


__ADS_2