
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Yang marah duluan bukannya kamu ya? Kamu kan yang enggak terima alasan bahwa saya sedang telepon. Kamu yang nuduh saya bohong. Jelaskan ini nomor telepon saya di sini dan ini nomor kantor jadi saya bicara dengan nomor kantor makanya saat kamu hubungi nadanya nada masuk bukan nada sibuk,” kata Komang Ayu sedikit emosi.
“Iya tapi ….”
Saat itu telepon kembali berdering, dari Mbak Sita. “Iya Mbak Sita kenapa?”
“Orang Gianyar katanya tadi sudah minta tanda tanganmu?” tanya Sita.
“Sudah Mbak,” balas komang Ayu.
“Masih ada di sana enggak?”
“Enggak tuh, sudah pulang dia, sudah jalan ke karantina,” jelas Komang Ayu.
“Kok bisa ke karantina kan belum aku kasih kuitansinya?”
“Mungkin dia ke tempat Mbak Sita dulu baru ke karantina aku juga kurang jelas.”
“Coba kamu telepon lagi. Tanyain dia mau ke karantina atau ke tempatku biar nanti ketemu aja di tempat tertentu untuk memberikan kuitansinya.
“Iya Mbak saya langsung telepon orang cabang Gianyar,”
“Mbak Komang, laptopnya agak minggir dikit bisa biar kita atur makan,” kata Bu Pinem.
“Ya Bu, silakan,” kata Komang.
__ADS_1
“Kamu lihat kan sejak tadi saya telepon dengan nomor mana?”
“Iya maaf. Aku memang salah,” jawab Arjun.
“Lagian informanmu itu seharusnya ngomong yang jelas jangan asal lapor aja. Saya sejak dulu enggak pernah berbohong pada siapa pun. Kalau saya bilang saya sedang telepon ya sedang telepon. Saya enggak mau bicara bohong karena pasti nanti suatu saat akan ketahuan,” kata Komang Ayu.
“Saya paling benci tidak dipercayai. Saya yakin orang yang tidak mempercayai saya itu tidak bisa saya percayai,” cetus Ayya.
“Enggak gitu, aku bisa kok dipercayai,” sanggah Arjun.
“Buktinya kamu enggak percaya aku kan?” jawab Ayya.
“Ya aku kan minta maaf, makanya aku langsung terbang ke sini. Aku enggak mau kita ada masalah. Aku mau clear kan semuanya,” ucap Arjun.
“Kita enggak ada masalah kok. Jadi enggak perlu di-clear-kan. Sudah berapa kali aku bilang kalau mau telepon itu kasih tahu dulu, kamu enggak ngasih tahu tiba-tiba telepon. Jangan salahkan kalau tak bisa saya angkat karena memang saya sedang tidak free. Sejak tadi kamu lihat kan saya memang enggak bohong,” Ayya mengingatkan awal pertemuan lagi bahwa bila ingin ngobrol harus kasih tahu duku agar dia bisa menerima panggilan.
“Sebentar ya aku panggil pak Mukti untuk makan, kita makan siang bareng,” ujar Komang saat bu Pinem memberitahu kalau makanan telah siap. Tanpa menunggu jawaban dari Arjun, Ayya langsung berdiri untuk memanggil Mukti.
Sejak tadi Mukti sudah tidak konsentrasi bekerja matanya hanya selalu melihat Ayya yang sedang bekerja, tapi juga ada Arjun di sana. Mukti juga melihat bagaimana Arjun sangat memperhatikan wajahnya Ayu.
“Mas.”
“Mas,” panggil Ayya sedikit keras.
“Iya kenapa?” kata Mukti. Dia pura-pura sibuk dan tak mendengar dipanggil oleh Ayya.
“Makan siang dulu yuk,” ajak Ayya.
__ADS_1
“Belum lapar. Kamu kasih aku jus dan singkong. Ya aku makan dan aku minum. Masih kenyang lah,” tolak Mukti. Dia malas makan bersama Arjun.
“Pasti enggak akan ngomong begitu kalau tahu aku masak apa buat Mas,” jawab Ayya.
“Kamu masak buat aku?” tanya Mukti.
“Iya aku masak sebelum aku mulai bekerja.”
“Bukannya Bu Pinem yang masak?”
“Bu Pinem tetap masak, tapi ada masakan spesial buat Mas. Kalau enggak mau ya sudah aku makan berdua Arjun aja kalau memang Mas masih kenyang. Tapi nanti makan ya?” pinta Ayya.
Ayya tahu memang alasan Mukti adalah benar, habis minum jus satu botol dan makan singkong walau singkongnya belum habis satu kotak tapi cukup mengeyangkan buat Mukti.
“Eh aku makan kok, ayo!” kata Mukti. Tak mungkin dia membiarkan Ayya makan hanya berdua dengan Arjun saja.
“Kita salatnya nanti aja ya habis makan. Enggak enak ada Arjun,” bisik Ayya.
“Memang kenapa kalau ada dia. Kenapa enggak ajak dia salat sekalian,” jawab Mukti, juga sambil berisik mereka berjalan menuju pendopo.
“Males aja,” kata Ayya.
“Kan sama Bu Ikhlas juga?”
“Enggak Mas, aku malas. Ya sudah Mas aja yang salat aku enggak mau. Aku nanti salat di kamar.”
“Ya sudah, iya nanti salat bareng,” jawab Mukti.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok.
__ADS_1