CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PANIK


__ADS_3

“Ayo kita tidur,” ajak Mukti. Mereka pun masuk ke kamar. Ayya tak takut tidur bersama Mukti karena mereka sudah berkomitmen tak akan melakukan hal yang dilarang agama walau mereka tidur dalam satu ranjang. Ayya percaya penuh pada Mukti sehingga dia tak ketakutan dan Ayya juga yakin kepada dirinya bahwa dia bisa mencegah Mukti  melakukan hal buruk. Jadi tak ada keraguan sama sekali terhadap tunangannya.


Saat itu Ayya sebenarnya sudah mulai merasakan badannya menggigil tapi dia belum bicara pada Mukti dia tahu kalau lapor pasti Mukti tambah cemas. Ayya langsung mengambil selimut dan menutupi tubuhnya.


“Ini lampunya dimatikan kan Yank?” kata Mukti.


“Bukannya kita sama-sama tahu ya kalau kita itu tidur dalam gelap,” jawab Ayya mulai menggigil.

__ADS_1


“Takut kamu nggak percaya saja tidur dalam gelap sama aku,” balas Mukti.


“Kalau buat melakukan perbuatan buruk itu nggak perlu gelap Mas. Biar terang sekalipun perbuatan buruk bisa saja kok dilakukan. Kenapa harus melakukan perbuatan buruk di tempat gelap. Mas sudah janji waktu di Solo bawa Mas akan menjaga aku sampai kita menikah nanti. Waktu Mas dengar papa Wayan tanya aku hamil apa enggak. Jadi aku percaya dengan janji itu karena janji itu Mas lakukan di dalam hati dan didengar sama Allah. Itu saja sih. Terserah kalau Mas mau melanggar, tapi akan aku upayakan mencegahnya.”


”Terima kasih sudah percaya aku ya Yank. Aku memang bukan manusia bersih. Tapi aku tak pernah mau menambah kesalahanku dengan melakukan hal buruk lagi. Kamu tahu sejak awal kita kenalan aku bawa kamu ke persidangan di situ aku cerita semuanya kan? Padahal waktu itu kamu belum tahu perasaanku. Aku mau kamu dengar semua tentang aku itu dari mulutku sendiri bukan dari orang lain,” kata Mukti.


“Kita sudah diskusi panjang soal tujuan kita mulai malam ini tidur bersama. Semua itu demi menghapus traumaku, bukan untuk berbuat maksiat!”

__ADS_1


“Kalau kita belum pernah tidur bersama, kalau aku belum terbiasa nyaman tidur dalam dekapanmu, lalu malam pertama sesudah akad kita tidur bersama dan aku masih trauma, tentu itu tak kita inginkan.”


“Kita mencegah hal buruk dengan terapi ala kita pelan-pelan. Biarkan saja omongan orang. Kita tahu apa yang kita lakukan. Aku tak ingin pingsan di malam pertama. Tapi kalau kita terutama aku, sudah yakin kita bisa menjaganya ya sudah.” kata Ayya.


“Waktu itu aku memang benar pernah bilang Mas sudah terbiasa dengan orang lain karena aku masih ragu dengan diriku, apa aku bisa jaga diri tapi sejak kejadian tragedi cafe itu aku berpikir sebaiknya memang kita membiasakan diri aku tak bisa membayangkan tiba-tiba kita melakukan tidur bersama saat di malam pengantin aku pasti masih punya bayangan trauma video tersebut. Itu sebabnya aku setuju kita tidur bersama sebelum menikah. Tentu tidur bersama versi kita beda dengan tidur bersama versi orang lain,” kata Ayya.


Ayya memang berupaya menepis bayangan buruk film di video ponselnya. Itu sebabnya dia ingin menepis dengan berupaya terbiasa dengan Mukti. Bukan untuk melakukan hal-hal lain, makanya tadi sore juga dia bisa bicara tegas pada Bu Suwarni karena belum tentu yang tidak serumah itu bersih. Dan tidak semua yang tinggal serumah atau sekamar pasti kotor. Semua tergantung personalnya.

__ADS_1


Mukti memeluk Ayya, saat itulah dia baru sadar tubuh Ayya mulai panas. Mukti panik.


__ADS_2