CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BEKAS BIBIRNYA


__ADS_3

Ayya tak bisa tidur, dia malah jadi gelisah gara-gara perlakuan Mukti tadi. Benar Mukti sudah beberapa kali mencium keningnya atau pernah juga mencium pipinya. Bahkan sekarang Mukti sering memeluknya entah dari samping atau hanya melingkarkan tangan di pinggangnya. Ayya merasa itu hal biasa, tak ada yang spesial. Di mana pun dia sering melihat hal-hal seperti itu dan waktu Mukti mencium bahkan menjadikannya foto Ayya juga tak merasa panas dingin seperti tadi.


Entah mengapa ketika jemarinya dikecup Ayya langsung panas dingin dan membuatnya tak bisa tidur. Dia membayangkan bagaimana hangatnya bibir Mukti berada di punggung tangannya. Tanpa sadar bekas bibir Mukti dia cium!


“Ih aku ngapain sih?” kata Ayya ketika sadar dia malah menciumi bekas bibir Mukti di tangannya dan Ayya menjadi malu sendiri dia langsung menutup wajahnya dengan bantal.


“Yank … Yank,” ketok Mukti pagi ini.


“Yank,” ketuk Mukti lagi, karena tak ada respon dari dalam kamar Ayya.


Bu Pinem melihat semuanya. Boss dan tunangannya tak tidur dalam satu kamar.


“Eh kenapa Mas?” tanya Ayya yang terlompat kaget ketika mendengar ketukan dari pintu kamarnya.


“Kamu apa lagi libur salat?” tanya Mukti. Rupanya karena tak bisa tidur akhirnya Ayya bangun kesiangan.


“Eh maaf, Mas duluan aja kalau keburu-buru. Aku kesiangan,” kata Ayya. Dia jadi malu sendiri karena bangun kesiangan.


“Nggak, sudah sana wudhu. Mas tungguin,” kata Mukti.

__ADS_1


Ayya pun berlari ke kamar mandi di kamarnya dia langsung bersih-bersih badan dan juga sekalian wudhu.


“Maaf ya Mas, kesiangan.” kata Ayya sambil memakai mukenanya. Mukti hanya tersenyum, dia tahu pasti Ayya tak bisa tidur sehingga bangun kesiangan.


Sehabis salat Ayya langsung membuatkan kopi untuk Mukti, kali ini berteman dengan roti bakar berisi keju.


“Kamu nggak makan roti?” tanya Mukti.


“Nanti Mas. Aku sekalian sarapan aja, lagi bingung mau bikin apa sarapannya. Apa biarin Bu Pinem aja ya? Aku nggak usah masak atau Mas mau request sesuatu?”


“Mas lagi nggak kepengen apa-apa sih. Cuma pengin ngeliatin muka kamu aja,” kata Mukti menggoda Ayya dia lihat wajah natural Ayya tertunduk malu. Ada semburat merah di pipinya yang sangat samar karena kulit Ayya tak putih, sehingga tak terlihat jelas.


“Ih, orang pengin ngeliatin muka kamu kok bikin mual?” kata Mukti.


“Cepatan Mas mau bikin apa, eh mau minta bikin apa?” kata Ayya. Dia  jadi salah-salah ngomong saking groginya.


“Sudah ngikutin Bu Pinem aja. Dia bikin apa. Mas hari ini mulai kerja di bahan,” Mukti memberitahu kalau pagi ini dia akan mulai berproduksi.


“Oh ya sudah nanti aku siapin jusnya yang pakai botol jadi nggak tumpah-tumpah kalau ditaruh sembarangan di depan.”

__ADS_1


“Tapi nanti jam 10-an makan salad ya? Kemarin kan kurang banyak jus buahnya.”


“Kamu bikin salad apa?” tanya Mukti.


“Mau bikin yang baru salad sayur? Salad buah kemarin masih ada sih,” jelas Ayya.


“Ya udah habis kan salad buah dulu aja, baru kamu bikin salad sayur nya,” kata Mukti.


“Sayang nanti malah jadi asam nggak kemakan kalau sudah ada yang baru.”


“Ya wis kalau gitu,” kata Ayya.


“Kalau nggak salah hari ini anak galeri pada datang ya Mas. Kenapa sih nggak langsung di kirim saat berangkat aja. Kenapa harus ditumpuk ke sini dulu semuanya?” baru kali ini Ayya akan berangkat pameran. Jadi dia belum tahu tata cara kerja tiap cabang.


“Biar bisa terkontrol benar nggak, masih bagus nggak barangnya. Takutnya kalau mereka langsung kirim dari cabang ke lokasi pameran ternyata ada yang rusak mereka pasti akan lempar-lempar kesalahan bahwa dari ekspedisi yang ngerusakin. Kalau memang kita jadiin satu di sini semua pastikan bisa kekontrol mutunya,” jelas Mukti memberi alasan mengapa semua harus dijadikan satu di sini.


“Oh gitu ya. Oke aku mengerti,” jawab Ayya.


“Ingat nanti kamu harus jadi QC,  benar-benar harus teliti!”

__ADS_1


“Siap bos,” jawab Ayya.


__ADS_2