
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Jadi kamu tinggal di sini?” tanya Wayan saat motor yang dia kendarai telah tiba di parkiran galery
“Enggak pasti sih Pa. Aku juga baru satu malam tidur di sini, aku enggak tahu aku harus menetap di mana, karena kan aku ikut bosku ke mana pun dia pergi. Nanti akan aku tinggal beberapa baju disini, lalu aku akan taruh baju di Uluwatu juga di Denpasar serta di Solo.” kata Ayya.
Tadi dia sudah bawa banyak baju harian dari rumahnya. Memang tak terlalu bagus tapi kalau untuk hari-hari di rumah setidaknya dia tidak repot. Ada banyak kaos dan celana yang nyaman dia pakai buat harian di rumah, bukan di tempat kerja. Selama ini kan dengan terpaksa dia pakai baju walau santai tapi tak terlalu nyaman karena semua masih baju kerjanya untuk di rumah dan tidur.
Ayya juga banyak membawa deterjen kecil-kecil yang satu atau dua kali pakai. Ayya tadi sudah beli banyak di warung, kalau di supermarket tak ada deterjen kemasan kecil-kecil yang sekali pakai. Harus deterjen besar dan itu tidak efisien buat dia bawa bepergian ke mana-mana.
Ayya juga membeli sabun mandi serta odol kemasan kecil-kecil banyak untuk dia taruh di setiap tasnya agar tak bingung dan tak terlupa bila ganti tas.
“Ayo Pa, aku kenalin sama penanggung jawab di sini namanya Bu Sita dia juga orang yang ditolong oleh pak Mukti. Mayoritas pegawai di sini itu masuk kerja karena pertolongan misalnya bu Sita saat itu lagi butuh pertolongan karena calon suaminya ditabrak orang lalu butuh uang buat rumah sakit.
“Boss kamu seperti itu kelakuannya?” kata Wayan dengan medok balinya.
“Iya Pa, dia memang seperti itu jadi bukan cuma ke aku. Pada semua orang dia menolong seperti itu Pa,” jawab Ayya.
“Dia sangat berjiwa besar, semoga hidupnya sangat bahagia,” Wayan mendoakan Mukti tulus saat mengetahui bagaimana luhurnya budi Mukti pada sesama.
“Seperti namanya ya Pa. Mukti itu kan orang yang sangat luhur jadi memang seperti itulah sifatnya. Dia menolong sesama tanpa mau memperhatikan kasta, siapa pun yang butuh pertolongan pasti ditolong.” kata Ayya.
“Kak Sita, kenalkan ini papa aku,” kata Ayya saat Sita datang.
Sita berkenalan dengan Wayan. Sita baru tahu bahwa papanya Ayya adalah asli Bali. Dia kira kedua orang tua Ayya asli Banyuwangi walau Ayya bernama Komang Ayu.
__ADS_1
“Saya pamit dulu, saya hanya ingin mengantar putri saya saja,” Wayan terburu-buru pamit seakan tak betah ada di galery itu.
“Tidak menunggu sampai boss kami pulang?” kata Sita.
“Oh tidak perlu. Nanti saya malah mengganggu beliau. Saya cukup mengantarkan putri saya saja. Nanti kalau putri saya sedang luang saya akan menjemputnya, saya sudah tahu tempat dia bekerja,” kata Wayan.
“Hati-hati ya Pa. Terus berkhabar. Sekarang kita kan hanya berdua,” Ayya berpesan pada Wayan saat lelaki itu bersiap pulang ke rumah meeka kembali.
“Iya, Papa akan selalu kabarin kamu juga tentang perkembangan kios kita,” sahut Wayan. Walau berat, tapi dia sadar putrinya masih harus bekerja untuk sementara waktu.
“Oh iya, Papa harus kasih tahu nomor rekening untuk nanti aku transfer bila Papa siap belanja barang buat isi toko,” Ayya mengingatkan sang papa.
“Iya. Nanti aja kalau sudah siap tokonya ya,” Wayan masih saja merahasiakan nomor rekening yang sudah sejak kemarin Ayya minta.
Ayya langsung salim pada papanya dan Wayan mencium kening putrinya.
Ayya tak tahu apa yang konsumen katakan pada Sita, dia mendengar Sita menjawab, “Bisa tinggalkan pesan untuk beliau?”
Sita kembali diam mendengar apa yang konsumen katakan.
“Sejak kemarin pagi pak Mukti di Uluwatu, mungin sampai beberapa hari ke depan masih disana,” jawab Sita.
\*‘Loh mas Mukti sejak kemarin pagi ada di Uluwatu? Apa sejak aku pergi? Dia bilang baru besok ada di Uluwatu. Jadi kemarin dia ke Badung ngapain ya?' \*Ayya kaget mendemgar percakapan Sita dan konsumen.
\*‘Katanya dua hari ini dia ada di Badung ternyata sejak kemarin pagi dia sudah di Uluwatu ngapain sih dia?’ \*pikir Ayya selanjutnya. Ayya segera berlalu ke kamarnya untuk menyimpan baju-baju miliknya.
__ADS_1
“Komang. Nanti malam kamu sama sopir galeri berangkat ke Uluwatu ya. Kalian berangkat sehabis makan.”
“Kenapa kak Sita?” tanya Ayya.
“Pak Mukti kemarin pagi itu berangkat ke Uluwatu, dia bilang kamu harus nyusul begitu tiba di sini.”
“Kenapa dia enggak ninggalin pesan langsung ke ponsel aku aja Kak? Jadi dari rumah aku tadi kan diantar langsung ke Uluwatu oleh papaku,” kata Komang Ayu bingung.
“Karena kamu diminta berangkat sama sopir sini bukan sama papa kamu,” kata Sita.
“Pak Mukti memang kemarin sudah pesan pada sopir jam 07.00 malam baru berangkat dari sini. Sekalian membawa berkas dan Pak Mukti bilang jangan lupa laptopmu di bawa,” lankit Sita.
“Laptop ada di kamar saya kok, tidak saya bawa liburan kemarin,” jelas Ayya.
“Kalau kamu berangkat dari rumahmu, berarti kamu enggak bawa laptop kan?” kata Sita dengan senyum simpul.
“Iya juga sih. Ya sudah saya bersiap deh kak Sita,” Komang Ayu pamit pas Sita, dia akan mempersiapkan baju serta laptop dan peralatan lainnya untuk dibawa ke Uluwatu.
‘*Pa, aku ke Uluwatu. Ternyata malam ini juga aku harus berangkat ke Uluwatu. Aku berangkat sama sopir. Sekarang aku lagi di mobil*,’ itu pesan yang barusan Wayan terima dari putrinya.
\*‘Kamu hanya berdua sopir?’ \*balas Wayan.
‘*Iya Pa, ternyata Bos aku dari kemarin pagi sudah di Uluwatu*.’
‘*Ya sudah hati-hati*.’ Begitu pesan yang Wayan kirim buat Ayya putri kandungnya itu
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.
__ADS_1