
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Mukti melihat wajah pucat Ayya saat menerima ponsel dari tangannya yang terhubung dengan Ambar dan ponsel milik Ayya yang diletakkan di meja bergetar karena ada panggilan dari Arjun.
Mukti ingin melihat Ayya memilih yang mana. Dia tidak melarang sama sekali kalau memang panggilan dari Arjun akan diterima.
“Iya Ma. Mama sudah makan?” tanya Ayya sesudah memberi salam pada Ambar.
“ ….”
“Kami lagi pesan ikan bakar Ma, sama udang bakar. Mama mau?” tanya Komang Ayu atau Ayya Andira. Ayya membiarkan ponselnya terus bergetar dari panggilan Arjun, tidak di reject juga tidak diterima hingga nada getar terputus.
“ ….”
“Oke aku kirim ya, aku bilang Mas Mukti kirim pakai email. Mau berapa porsi Ma?” tanya Ayya. Mungkin di ujung telepon Ambar bilang minta dikirim makanan yang dipesan oleh Ayu dan Mukti.
Sekali lagi telepon dari Arjun berbunyi setelah tadi mati dengan sendirinya. Ayya kembali tidak menerimanya, dia biarkan saja hingga berhenti sendiri. Tak lama ada notifikasi pesan masuk.
“Mama sudah dengar sendiri kan Mas Mukti bilang aku enggak bisa berangkat duluan, bukan aku enggak mau kan?”
“ ….”
“Iya Ma. Semoga saja bisa H -5 ya Ma. Tapi kayanya sih kalau aku lihat belum bisa selesai. Yang pasti H -2 aja lah Ma.”
“ ….”
“Aku rasa kalau ukurannya sama dengan kemarin cukup lah Ma. Enggak mungkin enggak cukup. Biar kebaya sekali pun pasti cukup soalnya kan itu memang ukuranku.”
“ ….”
__ADS_1
“Iya Ma. Belum datang kok. Sebentar lagi, nanti kalau makanannya sudah datang aku bilang sama Mama. Kok enggak bakal aku tunda. Rugi dong Ma nunda makan. Nanti dihabisin semua sama Mas Mukti,” kata Ayya. Muktia hanya tersenyum, Ayya bisa santai bercanda dengan mamanya.
“ ….”
“Nah sekarang beneran datang nih Ma. Aku tutup dulu ya, kami makan dulu habis itu kami akan langsung pulang ke studio karena Mas Mukti mengejar pekerjaannya biar cepat selesai.”
“Salam buat eyang Angga ya Ma,” kata Ayya.
“ ….”
“Wah kalau Aksa enggak usah kirim salam Ma, nanti aku chat sendiri aja sama dia langsung. Enggak perlu lewat Mama. Rugi kalau lewat Mama kemahalan perangkonya.”
“ ….”
“Iya Ma, wa’alaykum salam.”
Ayya mengembalikan ponsel Mukti.
“Enggak sering sih. Ya paling tanya khabar sesekali aja,” jawab Ayya jujur.
“Sudah makan dulu, kita mau pulang kan nanti kalau sampai rumah eh maaf salah, sampai studio, langsung minum obat eh vitamin. Vitamin buat malam.”
“Iya Nyonya,” jawab Mukti sambil menerima piring berisi nasi dan sayur kangkung yang Ayya ambilkan.
“Sudah Mas. Enggak usah, aku bisa kok kupas sendiri,” kata Ayya. Dia tidak enak udangnya dikupasin oleh Mukti.
“Enggak apa-apa Yank, sekalian aja kok,” jawab Mukti.
‘Yank lagi. Aku jadi takut salah duga,’ batin Ayya.
“Kalau sekalian tu, Mas kupas dulu buat Mas, baru kupasin aku. Bukan kebalikannya,” protes Ayya.
“Sudah enggak apa-apa. Tenang aja, kamu makan aja. Kan prinsipnya ladies first,” kata Mukti, tanpa merasa bersalah telah membuat jantung Ayya berdegup lebih cepat.
__ADS_1
“Kalau kurang bilang, udang dan ikannya kurang enggak?” tanya Mukti.
“Sepertinya enggak kurang sih Mas. Gede banget ini ikannya buat berdua sih. Yang pasti aku suka bagian kepalanya,” kata Ayya.
“Eh itu jatah aku,” sela Mukti.
“Aku suka ngebersihin bagian kepala ikan dan aku suka hisap-hisap tulang kepalanya,” jelas Mukti.
“Iih kok samaan sih? Yah aku punya kompetitor dong?” sesa; Ayya.
‘Ini cewek nggak ada jaim-jaimnya enggak malu loh dia bilang suka bagian kepala ikan. Biasanya cewek-cewek kalau makan sama cowok pasti jaim,’ batin Mukti dengan sangat senang. Sikap apa adanya seperti ini memang yang dia damba sejak dulu.
“Ya sudah kita bikin konsensus. Malam ini kita suit dulu, siapa yang duluan makan kepala untuk kali ini, nanti saat makan ikan berikutnya giliran yang belum. Demikian seterusnya, tak perlu suit tiap makan,” jelas Mukti.
“Oke, siapa takut?” kata Ayu. Mereka pun suit dan ternyata dimenangkan oleh Ayya.
“Yeeeee, aku menang,” kata Ayya, dia pun langsung memotong bagian kepala duluan.
Mukti hanya tersenyum, bahkan dulu Vio tak berani berbuat se natural ini. Padahal mereka sudah sangat intim karena sudah melakukan hal suami istri. Bahkan setelah jadi istrinya pun Vio masih selalu jaga image tak mau se bebas Ayya.
‘Kamu seperti Kak Adel yang melakukan apa pun sesuai dengan jati dirinya. Tidak mau berpura-pura dan aku suka perempuan yang jujur dan natural seperti itu. Tidak munafik. Aku pikir Vio memang lembut dari aslinya ternyata dia culas,’ batin Mukti.
“Mas sayurnya dimakan loh,” Ayya menambahkan plecing kangkung dan diletakkan di piringnya Mukti.
Dari jauh dua pasang mata memperhatikan apa yang Mukti lakukan untuk Ayya dan apa yang Ayya lakukan untuk Mukti.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.
__ADS_1