CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MISI MAMA AMBAR


__ADS_3

“Mama?” tanya Mukti tak percaya ketika Ambar masuk kamarnya


Ambar mendekati tempat tidur Mukti dia biarkan putranya mencium tangannya lalu dia memeluk Mukti dengan erat.


“Kamu kenapa?” bisik Ambar


“Nggak apa-apa Ma,” Mukti menghindar menjawab pertanyaan mamanya.


“Kamu itu anak mama dari hari pertama lahir. Mama tahu kenapa kamu sakit. Saat semua orang tidak tahu, Mama yang tahu kan?” tegas Ambar lagi.


Tak bisa menahan emosinya Mukti pun menitikan air mata.


‘Perempuan ini, ya hanya perempuan ini yang mengerti bagaimana diriku saat aku bahagia maupun saat terpuruk!’

__ADS_1


“Aku di luar aja ya Ma. mungkin Mama mau bicara sama Mas Mukti,” Komang Ayu. Dia tahu bahwa lelaki itu tak mau bercerita bila ada dirinya. Ayya pun keluar tanpa menunggu jawaban Mukti dan Ambar, dia tutup pintunya.


“Ingat saat kamu kelas 2 SMP dulu pertama kali dan kejadian satu-satunya kamu dipanggil oleh sekolah. K amu tak bisa menahan ketakutanmu sehingga kamu demam tinggi,” kata Ambar setelah Ayya keluar. Mukti ingat saat itu dia SMP kelas 2 dan tanpa sengaja dia memecahkan kaca jendela sekolah.


Saat itu dia sedang bermain dengan teman-temannya ada bola voli yang mendekati dirinya dia tendang sekuat-kuatnya bola tersebut sehingga memecahkan kaca jendela dan ada pecahan kacanya yang mengenai dua siswa di dekat situ sehingga Mukti pun dipanggil oleh sekolah untuk mempertanggungjawabkan kaca pecahnya bukan untuk masalah melukai  teman-temannya karena itu side effect kaca pecah dan tak di rencanakan.


Karena terlalu ketakutan maka saat itu Mukti sampai demam tinggi dan tak berani cerita ke mamanya serta memberikan surat panggilan dari sekolah. Bukan harga ganti rugi yang Mukti takutkan, karena dengan uang tabungan pribadi dia bisa mengganti. Tapi rasa bersalah membuat orang tuanya malu yang membuat Mukti sangat depresi saat itu.


Rahasia itu baru ketahuan ketika dokter datang ke rumah, karena Mukti tak mau dibawa ke rumah sakit. Dia berontak ketakutan saat akan dibawa ke rumah sakit. Padahal biasanya tak seperti itu.


“Kalau kamu nggak apa-apa, nggak mungkin sampai demam tinggi seperti ini. Hanya satu kali Mama tahu kamu ketakutan yaitu saat kelas 2 SMP itu. Selebihnya kamu selalu menghadapi semua permasalahanmu dengan tegar.”


“Bahkan kemarin saat terpuruk karena kasus DNA juga karena kasus Vio kamu tidak terpuruk seperti ini. Kamu tetap bisa menanganinya, kamu bisa menghadapinya. Sekarang ada apa?” desak Ambar tapi dengan lembut, sehingga Mukti tak merasa terbebani.

__ADS_1


‘Kenapa kamu bisa tahu sih Ma? Padahal aku bukan siapa-siapamu lho,” Mukti bicara dalam hatinya sambil memandang sosok mama yang sangat mengerti semua anaknya satu persatu.


“Aku nggak bisa Ma, aku nggak bisa cerita,” tolak Mukti sambil menggeleng lemah.


“Dokter Mukhlis dulu bilang apa? Selama kamu belum ungkapkan, itu nggak akan mungkin bisa hilang dari pikiranmu. Sehingga penyakitmu tetap akan bersarang di tubuh.”


“Mau kamu minum obat satu botol pun tak akan bisa  bisa sembuh karena obatnya itu ada di pikiranmu sendiri. Obat tak bisa menghalau sumber penyakitmu karena pusatnya ada di otakmu,” kata Ambar.


Dokter Mukhlis adalah dokter yang dipanggil Ambar untuk menangani kegoncangan jiwa Mukti saat SMP dulu.


“Mama tahu kamu sedang persiapan untuk pameran event besar yang kamu tunggu-tunggu. Walaupun bukan event tunggal kamu, tapi bersama banyak teman dan juga bersama Pemda Bali. Mama tahu kamu ingin mempertunjukkan taringmu baik di depan Pemda maupun depan Ayu yang baru pertama kali ini menjadi pendampingmu dalam suatu event.”


“Jadi Mama yakin kamu nggak ingin memelihara penyakitmu. Kamu pasti ingin mengusir penyakitmu. Kalau ingin mengusir penyakitmu keluarkan!”

__ADS_1


“Itu sebabnya Mama segera terbang ke sini cuma buat kamu, karena cuma Mama yang tahu bagaimana cara mengusir penyakitmu ini,” kata Ambar dengan lembut. Ambar tak pernah memberitahu siapa pun soal penyakit anaknya ini. Dia tak ingin penyakit ini ketahuan oleh siapa pun termasuk oleh Abu. Dia pegang erat semua rahasia Mukti rapat-rapat. Dia kasihan bila Mukti tambah tertekan dengan adanya orang yang tahu penyakitnya!


__ADS_2