
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Kayaknya Papa mau balik ke Surabaya hari ini aja. Papa mau ke kantor dulu lalu siang balik ke Surabaya," kata Abu pada Mukti saat mereka sedang sarapan di hotel.
"Hati-hati bicara sama eyang Airlangga Pa. Papa jangan emosi," kata Mukti. Dia takut eyang Airlangga emosi karena istri tercintanya dituduh tak benar.
"Iyalah Papa tahu," kata Abu.
"Selama ini kita nggak ngerti kalau eyang Menur itu seperti itu. Kemarin aku ingat sih Pa, mama bilang mbok Darmi aja tahu kok kelakuan eyang Menur," Papar Mukti.
"Mbok Darmi kan ikut mama dari sebelum kamu lahir. Pasti bu Darmi tahu lah semua kejadian di rumah," Abu ingat mbok Darmi ikut dia sejak Sonny berusia empat bulan.
Mereka sarapan di hotel lalu Abu langsung check out. Dia ke kantor dulu untuk membatalkan surat pemindahan administrasi kantor miliknya.
\*\*\*
"Kenapa Pa?" tanya Mukti begitu papanya malam ini menghubungi dari Surabaya.
"Kami habis nangkap bandit," kata Abu.
__ADS_1
"Maksud Papa gimana?" Mukti malah tak mengerti apa maksud Abu.
"Kamu tahu kan eyang Menur bagaimana kondisinya? No respon kan? " Abu menggiring pikiran putranya.
"Iya Pa," kata Mukti. Sejak di rumah sakit, selama perjalanan ke Surabaya. Bahkan setiba di rumah Surabaya eyang Menur memang tak ada respon apa pun.
"Barusan eyang Airlangga masuk ke kamar. Eyang Airlangga bingung ponsel eyang Menur seperi baru aja dipakai. Di situ terlihat ada chat yang baru dihapus. Eyang Airlangga langsung keluar bawa ponsel itu. Sekarang ponselnya ada di Papa.”
"Kalau eyang Menur nggak bisa ngerespon masa ada chat baru dihapus padahal di kamar itu juga enggak ada orang."
"Papa udah ganti passwordnya jadi kalau ada yang mau buka layar kodenya udah berubah. Eyang Menur pun enggak akan bisa mbuka lagi."
"Iya ya Pa. Dia enggak akan bisa dituntut akan tindak kejahatan."
"Iyalah, orang sakit jiwa kan nanti bisa diminta rekomendasi ke rumah sakit agar enggak bisa diadili enggak bisa di penjara," sahut Abu.
"Wah licik banget ya Pa."
"Nah itulah. Eyang Airlangga langsung kaget saat Papa bilang itu sekarang." Jelas Abu.
__ADS_1
"Rasanya cium kaki mama tuh belum ada artinya dengan lukanya mama ya Pa." Mukti menyadari bagaimana penderitaan Ambar selama ini.
"Rasanya Papa juga mau minta maaf khusus ke Mama. Papa mau jelasin semuanya. Selama ini kita di kadalin sama eyang Menur," kata Abu.
"Iya Pa, nanti pas Aksa udah selesai ujian kita langsung aja Pa," ajak Mukti.
"Kita bilang dulu sama mas Sonny Pa. Kita ceritain tentang kelakuan eyang Menur selama ini. Nanti kalau mas Sonny kasih jalan baru kita ketemu mama.," Mukti memberi saran agar mereka tak langsung menemui Ambar.
"Oke lusa kita ketemu aja di Jogja. Mumpung Mama masih di Bali." Usul Abu.
"Siap kita ketemu di Jogja aja," Abu dan Mukti pun janjian jam dan tempatnya untuk bertemu di Jogja.
\*\*\*
“Kalian tolong atur waktu lagi bagi konsumen luar negeri yang mau datang dan bertemu saya. Reschedulle jadwal. Sepertinya satu bulan kedepan saya masih wira wiri Bali ~ Surabaya ~ Jogja karena eyang sakit,” pagi ini Mukti minta pada administrasi galerynya untuk menjadwal ulang semua janjinya.
“Kasihan kalau penjadwalan ulangnya mepet. Kalau masih jauh hari kan mereka bisa atur jadwal kegiatan mereka di negaranya,” lanjut Mukti lagi.
“Baik Pak,” sahut pegawainya.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok
__ADS_1