
“Ada orang yang mengirim video kamu sedang melakukan hubungan dengan temanmu,” jawab Angga karena Abu, Ambar terlebih Mukti tak ada yang mau bicara menjawab pertanyaan Ayya.
“Teman? Siapa?” Ayya tak percaya ada video dirinya melakukan hubungan denga seseorang. Bahkan yang pertama menyentuh pipi, kening hanya Mukti seorang kecuali para sesepuhnya seperti papa, pakde dan pamannya. Selain itu tak ada.
Dan yang pertama dan satu-satunya pria yang pernah menyentuh bibirnya hanya Mukti. Bagaimana dia bisa berhubungan dengan orang lain?
“Eyang lupa namanya,” jawab Angga.
“Boleh aku lihat videonya Ma?” pinta Ayya tegar. Biar bagaimana pun dia harus melihatnya.
“Kalau kamu nggak kuat, nggak usah lihat. Karena itu akan membuat kamu makin tak percaya diri,” kata Mukti. Dia berupaya mencegah Ayya terluka.
“Sebenarnya ada apa sih Pa? Mas? Aku harus lihat karena itu berkaitan dengan aku,” kata Ayya. Dia pun meminta ponsel Mukti di Abu.
__ADS_1
Abu memberikan dengan ragu tapi Mukti mengangguk memberi izin bahwa Ayya boleh mengetahui semua agar jelas.
Ayya tak percaya diri, dia menutup mulutnya dengan telapaak tangan kiri. Tangan kanannya bergetar memegang ponsel Mukti. Bagaimana mungkin dia making love dengan Lukas sedang dia tak pernah keluar rumah?
“Mama tahu kan aku nggak pernah keluar rumah? Selama ini aku keluar rumah sekali-kalinya tidak dengan Mas Mukti hanya bersama Sri. Sri bisa jadi saksi aku nggak ke mana-mana Ma,” tangis Ayya pecah seketika melihat video itu.
“Tadi Mukti bilang kan kalau kamu nggak kuat, kamu nggak usah lihat. Sekarang tenangkan dirimu. Mama, Papa dan Eyang yakin kamu nggak ke mana-mana. Jadi tenangkan hatimu,” kata Abu membujuk Ayya yang sudah mulai menangis histeris.
“Sudah … sudah, tenang Yank. Tenang,” kata Mukti. Dia kembali memeluk Ayya erat.
“Video sudah dikirim sama Papa ke Mas Sonny, jadi nanti biar Mas Sonny lacak akurasi video tersebut dan siapa pengirimnya karena nomornya beda dengan video yang dikirim ke ponselnya Ayu,” Abu memberi keterangan pada semuanya bahwa dia tadi langsung memforward video tersebut pada Sonny.
“Kenapa jadi gini Mas? Kenapa aku jadi korban begini?” ronta Ayya tak percaya diri. Dia berupaya melepaskan pelukan Mukti.
__ADS_1
“Sabar Sayank, dan tenang ya, kami nggak percaya itu kamu. Tenang,” bujuk Mukti.
Bu Parman membawakan air putih dalam botol dan tiga gelas kosong dan diletakkan di meja.
Angga menuang, satu gelas dia berikan pada Abu untuk diminumkan ke Ambar dan satu gelas dia berikan pada Mukti untuk diminumkan pada Ayya.
“Mohon meluncur pulang sekarang juga. Ada peristiwa genting di rumah. Aku nggak bisa cerita apa pun pada kalian berdua. Cepat pulang tapi tetap hati-hati,” pinta Mukti pada Made saat sahabatnya itu mengangkat teleponnya. Mukti meminta Made dan Wayan untuk segera pulang.
“Ada apa ya Yan? Kok Mukti sampai panik seperti itu?” tanya Made sambil masuk mobil.
“Aku kan dari tadi sama kamu, mana aku tahu jawab Wayan menutup pintu mobil. Sejak berangkat tadi Made yang mengemudi mobil orang tua Made.
“Maksud aku, kamu bisa berpikir nggak, ada masalah apa yang membuat Mukti sampai menghubungi kita. Padahal kita memang sudah mau pamit pulang,” balas Made.
__ADS_1
“Ya sudah ayo kita pulang cepat-cepat, tapi tetap hati-hati. Aku takut terjadi kenapa kenapa dengan Mukti dan Komang.” jawab Wayan.