
“Alhamdulillah,” kata Ayya begitu pesawat landing di kota Solo.
Kali ini mereka harus menunggu bagasi karena banyak barang yang mereka bawa selain yang ada di kabin. Beberapa persiapan sengaja Mukti bahwa duluan jadi mereka punya bagasi yang cukup banyak.
“Kamu duduk situ saja. Mas urus bagasi dulu,” kata Mukti sambil membawa trolly.
“Iya Mas,” jawab Ayya. Dia menjaga travel bag milik mereka berdua. Bagasi mereka banyak. Ada beberapa koper juga dus. Tadi Mukti sampai bayar overweight di bandara Denpasar.
“Ma, kami sudah sampai bandara,” lapor Ayya. Dia langsung menghubungi Ambar.
“Iya sayang. Sudah dijemput sama Pak Parman, nanti biar dia yang bantu kalian,” ucap Ambar.
Iya Ma. Mas Mukti-nya lagi urus bagasi,” jawab Ayya.
“Ya sudah Mama tunggu ya. Hati-hati,” jawab Ambar.
“Mau makan siang di sekitaran sini atau langsung ke rumah?” Tanya pak Parman pada Mukti.
__ADS_1
“Enaknya bagaimana Yank? Mau makan di luar dulu atau kita nunggu sampai rumah?” Mukti malah melempar pertanyaan itu pada sang nyonya.
“Aku manut Mas. Tapi kayaknya mama sudah nyiapin makan siang. Kalau kita makan di luar kasihan mama akan kecewa,” balas Ayya.
“Itu Pak jawabannya. Bapak dengar sendiri kan menantunya lebih menyukai langsung pulang takut ditungguin sama mertuanya,” goda Mukti.
“Ya iyalah. Aku mah sayang mertua. Nggak kayak anaknya yang nggak peduli sama ibunya sendiri,” jawab Ayya sambil membuang muka ke luar jendela mobil. Pak Parman hanya tersenyum saja mendengarkan kedua majikannya itu.
Mukti yang gemas langsung memeluk kekasih hatinya dan dia acak-acak rambut Ayya yang tentu saja protes.
“Mas ih, bikin aku berantakan kayak habis bangun tidur,” protes Ayya melihat penampilannya di ponsel. Mukti membuat momment itu langsung jadi foto selfie dirinya dan Ayya.
“Wah anak Mama sudah datang,” jawab Ambar. Dia pun bergegas menuju pintu dan yang dipeluk pertama adalah Ayya! Bukan Mukti.
“Lihatkan, yang anak Mama siapa, yang dipeluk siapa?” protes Mukti.
Eyang Angga terkekeh mendengar protes cucunya itu.
__ADS_1
Mukti langsung memberi salim pada Angga. Tentu saja Abu dan Aksa tak ada karena hari ini hari sekolah dan kerja. Jam makan siang, mana ada mereka di rumah.
“Kamu istirahat dulu, lalu kita langsung makan yuk,” kata Ambar. Seperti dugaan Ayya, Ambar memang telah menyiapkan makan siang buat Ayya dan Mukti.
“Ya Ma. Aku taruh barang dulu,” kata Ayya membawa travel bag-nya menuju kamar belakang tempat dia biasa tidur dulu saat sebelum rumah ini jadi. Memang saat itu dia menempati kamar di dekat dapur itu.
“Eh kamarmu sudah dipindahin papa ke depan. Ngapain kamu ke belakang sana?” kata Ambar.
“Kok dipindah Ma?” tanya Ayya.
“Kamu dulu itu masuk ke kamar belakang karena waktu itu kamar belum jadi dan barang belum masuk. Sekarang ya kamu di depan lah. Kamu kan anak Mama,” jawab Ambar.
“Dia bukan anak Mama kan? Dia calon menantu Mama!” protes Mukti.
“Ya pokoknya yang pasti dia anak Mama,” kata Ambar.
“Ya sudah, kamarnya yang di mana Ma?” tanya Ayya. Kalau tak seperti itu mukti terus akan berdebat.
__ADS_1
“Di sebelah kamar Mukti dan Aksa. Jadi kamar kamu berada di tengah kamar mereka,” kata Ambar.
Ayya pun langsung menuju kamar yang diberitahu Ambar itu. Dia tahu posisinya di mana karena waktu itu memang belum jadi. Ayya juga tahu di mana kamar Mas Sonny dan kak Adel karena sejak awal Sonny sudah menempatkan barang-barangnya di kamar sebelah kamar mama dan papanya diapit oleh kamar eyang Angga.