CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MINTA KERINGANAN


__ADS_3

“Ibu sudah pulang belanja ya? Tanya Ayya pada bu Pinem, dia lihat perempuan itu sedang merapikan dan memilah belanjaan dari pasar.


“Iya Mbak dan semuanya  yang Mbak tulis di data ditambah yang saya bikin listnya semuanya sudah ada,” jawab perempuan setenah baya itu.


“Tadi pagi bu Ambar telepon. Dia tanya Mbak Ayu, saya bilang belum bangun karena tadi malam Mbak minum obat lagi.” bu Pinem memberitahu kalau sang mama mencari dirinya karena telepon ke ponselnya tak diangkat.


“Iya mama telepon ke nomor aku. Tapi aku nggak dengar. Benar-benar nggak dengar. Barusan aku lihat banyak banget panggilan dari mama dan kak Adel,” balas Ayya sambil mengambil bubur untuk dirinya dan Mukti.


“Ya dia tanya kondisi Mbak Ayu pagi ini. Saya bilang belum bangun.”


“Sekarang sedang ditelepon Mas Mukti kok. Kak Adel, Mas Sonny maupun mama aku suruh dia telepon. Yang bangun siang kan Mas Mukti. Kalau aku kan nggak bangun siang dalam arti sebenarnya. Aku bangun siang karena aku minum obat,” kilah Ayya. Dia tambahkan banyak cairan gula merah kental di atas bubur miliknya. Yang milik Mukti dia belum beri gula.


Ayya pun mulai makan bubur, dia tinggal Mukti makan lebih dulu.


“Bu aku minta air jahe gula merah lagi ya,” kata Ayya.


“Baik Mbak,” jawab Bu Pinem.


“Yank, kok Mas ditinggal?” protes Mukti seakan ditinggal kemana saja.

__ADS_1


“Kan Mas lagi telepon mama sama kak Adel. Ini lho aku kemarin pesan bubur sumsum. Pagi ini makan bubur sumsum ya. Nanti jam 10-an baru aku siapkan makanan beratnya. Karena pagi ini aku belum masak.”


“Hmmm ….” Jawab Mukti. Dia pun menyuap bubur sumsum yang tersedia di meja setelah dia beri sedikit cairan gula.


“Kamu mau masak apa Yank?” tanya Mukti.


“Enaknya apa Mas? Mas mau ayam masak nanas atau ayamnya di rica super pedas?”


“Kalau dimasak nanas  jadi manis. Rasa pedasnya apa Yank. Kayanya makan kalau nggak pedas itu nggak enak,” balas Mukti.


“Tempe penyet mau?” tanya Ayya.


“Aku nggak apa-apa kok, sudah sembuh,” protes Ayya.


“Mana bisa. Kamu masih panas,” balas Mukti.


“Tadi mama sama kak Adel bilang apa?” Ayya berupaya mengalihkan pembicaraan. Agar dia tetap bisa masak. Setidaknya dia yang racik bumbu, bu Pinem biar yang eksekusi.


“Ya absen lah seperti biasa. Mereka tanya kenapa bangunnya siang.  Mas bilang tadi malam kamu minum obat lagi jadi nggak bangun cepat. Mas ikut tidur aja di sebelah kamu, nggak bangun-bangun juga. Mama ngakak. Kalau kak Adel bilang ah kamu sih memang maunya!” jawab Mukti, membuat Ayya tersenyum.

__ADS_1


“Kirain ada penting.”


“Itu super penting Yank. Mereka tuh mengungkapkan rasa sayang pada kamu dengan kekhawatiran yang tinggi akan kesehatanmu.”


“Aku tahu itu super penting. Maksud aku kirain ada berita yang baru apa gitu,” ralat Ayya.


“Mas Sonny bilang, katanya orang tua Karenina datang minta untuk diringankan dan dimaafkan.”


“Mas Sonny bilang soal itu bukan urusan dia, suruh ngomong langsung ke pengacara. Terus kata orang tua Karenina bilang mereka sudah ke pengacaranya Mas Sonny tapi pengacara bilang kliennya nggak mau meringankan atau mencabut gugatan sama sekali!.


“Aku juga nggak setuju. Nggak setuju pakai bingit!” kata Ayya dengan nada tinggi.


“Dia sudah berkomplot untuk merusak hubungan kita. Aku nggak mau. Pokoknya apa pun yang terjadi nggak mau kalau Mas ringankan hukuman mereka. Kalau perlu mereka harus dapat sanksi sosial yang lebih banyak. Aku pengen ada video-video mereka yang disebar. Aku tuh sudah sakit hati banget, sakit banget!” kata Ayya. Dia bukan sakit karena Mukti menjadi korban. Tapi sakit karena trauma yang dia alami! Itu sangat fatal.


Siapa pun pasti tak akan bisa menerima saat tunangannya terlihat dalam video sedang beradegan dengan intim dengan perempuan lain. Itu menjadi trauma Ayya yang sulit dihilangkan. Bahkan Adelia menyarankan untuk melakukan hipnoterapi. Tetapi Ayya dan Mukti punya kiat khusus yaitu mereka berupaya mengakrabkan diri sebelum pernikahan.


Itu sebabnya sejak di Solo mereka berjanji untuk tidur bersama dalam artian benar-benar tidur. Dengan mata terpejam dan bukan melakukan hubungan terlarang.


Semua itu bertujuan untuk menghapus trauma dengan membuat Ayya nyaman terhadap Mukti, guna menghapus sedikit demi trauma yang ada dalam pikiran Ayya.

__ADS_1


__ADS_2