CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
AMARAH AKSA


__ADS_3

“Apa yang kamu lakukan?” kata Sonny melalui telepon. Sengaja Sonny membentuk grup hanya bersama Mukti dan Abu serta Angga tanpa Ambar. Mungkin dia ingin bicara sesama lelaki. Tentu juga tak ada Adelia istrinya tercinta.


“Aku nggak bisa ngomong Mas. Aku memang salah tetapi itu bukan kemauan aku. Aku dijebak Mas,” jelas Mukti. Sekarang dia harus siap setiap saat di sidang keluarga besarnya. Mereka melakukan hal itu bukan karena benci pada Mukti, sebaliknya mereka sangat mencintai Mukti.


“Dijebak atau tidak seharusnya kamu langsung bertindak. Seharusnya kamu langsung lapor kita, sehingga kita yang menanggulangi. Bukan kamu membiarkan Ayu sendirian. Sekarang ke mana dia? Saat ini Adelia sedang hamil. Aku tak mau dia dengar sesuatu apa pun tentang Ayu dan kamu. Kalau dia tahu itu akan berakibat buruk pada kehamilannya. Aku sekarang tidak bisa bergerak. Aku nggak mungkin lari ke Solo karena Adelia sedang seperti ini.”


“Aku juga nggak bisa cerita apa pun sama dia. Bisa bayangin bagaimana marahnya aku sama kamu?”


“Iya Mas, aku yakin kalau Mas ada di sini Mas pasti pukulin aku sama seperti yang Aksa lakukan tadi,” jelas Mukti.

__ADS_1


“Kamu dipukul Aksa?” tanya Sonny.


“Iya Mas. Saat Aksa tahu dari pak Parman kalau Ayya pergi membawa travel bag dan dia tahu keributan di rumah ini aku langsung dihajarnya. Aku nggak ngelawan Mas, karena aku memang salah,” kata Mukti sambil menangis.


“Rasanya aku kurang puas kalau hanya Aksa yang memukul kamu. Karena kamu dipukul seperti apa pun kelalaianmu itu nggak akan mungkin bisa diperbaiki.”


Aksa bertanya minta detailnya tapi Ambar tidak bercerita dia hanya bilang Ayya punya bukti kalau Mukti bermain dengan perempuan lain dan bukti itu sudah dikirim kepada Sonny, Ambar maupun Abu. Tentu saja Ambar tidak memperlihatkan bukti tersebut. Tidak etis rasanya anak SMA kelas 10 diperlihatkan video seperti itu.


Begitu mengetahui bahwa Ayya disakiti Aksa langsung menghampiri kamar Mukti dan menghajarnya. Abu dan Angga tak bisa bergerak saat Mukti dihajar habis-habisan oleh Aksa. Benar-benar dihajar dan Mukti pun tak berani melawan karena memang dia salah.

__ADS_1


Rasanya pukulan Aksa belum mewakili semuanya, belum mewakili kebencian Abu dan Angga, apalagi dukanya Ambar. Belum lagi nanti marahnya Adelia dan Sonny. Itu belum seberapa rasanya. Memang Mukti pantas menerima semua itu.


“Sekarang kamu punya pandangan nggak Ayu itu ada di mana?” tanya Sonny.


“Aku belum tahu Mas. Tadi pegawai aku sudah ke rumah papa di Badung dan ternyata semua orang di sana bilang belum melihat Ayya sama sekali. Papanya malah kaget begitu pegawaiku tanya Ayya ke mana. Karena papanya belum dapat berita apa pun. Papanya langsung menghubungi teleponnya Ayya ternyata memang tidak aktif. Jadi bukan karena dia memblokir. Ditelepon dari nomor pakdenya yang dekat rumah juga nomor itu nggak aktif nggak bisa dihubungi,” kata Mukti.


“Sekarang kamu pikirkan anak yang kita anggap sudah yatim piatu karena tak ada ibunya dan baru bertemu bapaknya. Nggak usah usah disebut yatim piatu lah. Anak  untang anting sendirian, dia ke mana? Kamu pikirin nggak? kamu bisa pikirin nggak bagaimana dukanya Adelia kalau tahu adiknya hilang?” kata Sonny memaki-maki. Dia benar-benar marah pada Mukti.


“Dan kamu sekarang pikirin bagaimana patah hatinya mama. Aku yakin di depan kalian dia tidak menangis. Tapi dia menangis darah dalam hatinya. Aku yakin itu karena cinta mama ke Ayu itu lebih besar dari pada cintanya ke Adelia. Aku bisa merasakan, begitu pun Adelia dan kami tidak iri karena cinta itu memang tidak bisa kita rekayasa. Itu sudah panggilan hati dan mama memang lebih sreg sama Ayu. Adelia sadar dan tidak marah sama sekali. Kami mencintai Ayu juga sama besarnya dengan mama,” kata Sonny. Mukti makin terpuruk mendengar kata-kata Sonny bagaimana sakitnya Adelia dan Ambar karena persoalaan ini.

__ADS_1


__ADS_2