
Ayya membereskan sisa makanan dan piring kotor lalu dia beranjak masuk kamarnya. Dia tutup rapat pintu kamar dan dia kunci. Biar bagaimana pun dia belum siap. Mukti hanya tersenyum, dia tetap tidak akan memaksa tapi mendengar pintu terkunci dia tahu bahwa Ayya tak mau memberi peluang. Dia pun tak ingin mengetuk atau mencoba minta izin masuk. Tidak akan pernah, itu akan membuat Ayya tidak nyaman.
Ayya memasang alarm untuk bangun subuh tapi ternyata belum waktunya dia sudah bangun.
Ayya segera membersihkan diri untuk siap-siap melakukan salat subuh baru dia akan membangunkan Mukti. Di luar dia melihat ternyata lelaki itu sudah duduk di sajadahnya.
“Mas nggak tidur?” tanya Ayya.
“Tidur kok,” jawab Mukti lirih.
“Tidur berapa jam? Dari sore nggak tidur. Tadi jam 02.30 baru masuk kamar kan masa jam 04.00 udah di sini?” selidik Ayya.
“Tenang aja, Mas tidur kok. Nanti siang juga tidur lagi,” kata Mukti. Mereka pun mulai melakukan salat.
“Ibu masak apa?” tanya Ayya. Dia ingin memberikan Mukti sarapan awal sehabis salat agar Mukti bisa langsung tidur.
“Cuma nasi uduk dan goreng tempe saja, sama dadar telur,” jawab bu Pinem.
“Wah enak itu Bu,” kata Ayya.
Menu sederhana nasi uduk, tempe goreng dan dadar telur itu sarapan pagi ini. Ayya sengaja memberikan Mukti pagi-pagi agar habis ini Mukti tidur.
__ADS_1
“Bu aku ambilkan Mas Mukti duluan ya biar dia tidur, dia belum tidur sama sekali.”
“Baik mbak,” kata ibu Pinem.
“Ibu tahu jam berapa Mas Mukti keluar kamar?”
“Saat saya keluar kamar jam 03.30, pak Mukti sedang berdoa di sajadahnya Mbak,” jawab bu Pinem.
“Kok nggak ada kopi Yank?” tanya Mukti melihat dia dibawakan nasi uduk dengan full lauk dan secangkir kecil teh.
“Nggak usah ngopi Mas, makan dulu sarapannya langsung tidur.” perintah Ayya.
“Mas nggak apa apa kok,” kata Mukti pelan.
“Nggak Mas nggak marah sama kamu. Mas hanya marah pada diri sendiri,” kata Mukti.
Ayya hanya diam. Dia belum sarapan jam segitu dia hanya minum teh madu sama seperti yang dia buatkan untuk Mukti.
“Tambah ya?” tanya Ayya.
“Cukup.” jawab Mukti pendek dan datar.
__ADS_1
“Kalau Mas nggak marah, jawabannya nggak sependek itu,” ucap Ayya.
“Serius Yank, Mas nggak marah sama kamu. Mas hanya membenci diri sendiri,” ucap Mukti lagi.
“Kenapa?” tanya Ayya.
“Nggak. Nggak apa-apa.” jawab Mukti sambil menggeleng pelan.
“Mas tidur ya,” pamit Mukti.
Ayya tak menjawab. Dia hanya membawa piring kotor ke belakang.
“Mbak Komang kok tumben pagi-pagi minum teh, biasanya bikin su5u coklat panas,” ujar bu Pinem.
“Tadi sekalian bikinkan mas Mukti,” jawab Ayya. Dia memang juga aneh biasanya pagi-pagi dia selalu minum su5u coklat tapi melihat Mukti yang diam dan hanya duduk di sajadah membuat Ayya makin bingung sehingga tak sadar bikin teh dua cangkir. Akhirnya yang satu ya dia minum saja.
“Jam berapa ibu keluar dan melihat mas Mukti?” tanya Ayya pada Bu Pinem. Dia lupa tadi sudah tanya hal ini. Ayya juga benar-benar tak bisa konsentrasi.
“Saya lihat jam 03.30 sudah duduk di sajadah Mbak.”
“Berarti dia sama sekali nggak tidur Bu. Saya tinggalin mas Mukti sehabis masak itu jam 02.00.” kata Ayya.
__ADS_1
“Ada apa ya Mbak?” tanya Bu Pinem.
“Mana saya tahu Bu? Kalau saya tahu juga saya nggak nanya barusan. Saya tanya, dia nggak mau bilang apa-apa.” kata Ayya.