
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Apa sikapku kurang jelas untuknya sampai dia bilang begitu?” gumam Mukti ketika Ayya meninggalkan dirinya ke kamar.
“Apa dia pikir yang aku ucapkan di mobil hanya karena aku kasihan padanya?”
“Apa perhatianku kurang bukti?” Terus aja Mukti berpikir tanpa bisa mencerna kata-kata yang Ayya ucap tadi bahwa Ayya tak punya perasaan apa pun pada dirinya.
“Apa karena dia hanya punya rasa cinta buat Arjun saja?”
“Ah Andai aku bisa buka password ponselnya pasti aku langsung blokir nomor itu,” kata Mukti. Ponselnya Ayya masih di tangannya tapi tetap saja kalau dinyalakan tak akan bisa dia buka karena kan dikunci layarnya.
Rupanya Ayya juga lupa minta ponselnya.
“Apa jangan-jangan dia pakai nomor lain kok dia tenang aja. Jangan-jangan dia masukin nomor baru di ponsel lamanya,” Mukti malah berburuk sangka pada Ayya yang tak merengek minta ponselnya.
“Selamat pagi Pak,” sapa Mukti menerima panggilan telepon saat mereka sedang sarapan. Mereka sarapan berempat bersama Mbok Darmi dan suaminya.
“Pagi pak Mukti, Saya minta visumnya jadi hari ini ya,” Kata orang yang menghubungi Mukti. Rupanya dia adalah pengacara papa Abu.
“Habis sarapan ini saya akan berangkat ke dokter karena memang jadwal ke dokternya hari ini dan saya akan langsung buat visumnya Pak. Sehabis itu saya akan tanya posisi Bapak di mana agar kita bisa bertemu untuk menyerahkan bukti fisik visum bukan hanya foto saja,” kata Mukti sambil menerima sarapan yang Ayya ulurkan dengan senyum dan mengangguk.
“Nah begitu saja, jadi begitu dapat visum Mas bukti hubungi saya biar kita atur tempat pertemuan. Kalau bisa sekalian dengan mbak Komang Ayunya biar saya bisa bertanya-tanya pada saksi korban secara langsung.”
__ADS_1
“Komang Ayu pasti sama saya lah Pak, kan kami periksanya ke dokternya bersama. Bikin visum kan lihat lukanya, masa bikinnya pakai tubuh saya kan enggak mungkin,” kata Mukti bercanda dan dia mendengar jawaban tawa dari si pengacara.
“Nah iya begitu maksud saya, karena kan saya ingin juga bertanya pada mbak Komang Ayu secara langsung. Biar lebih jelas karena kalau saya dengar dia belum pernah bertemu dengan pelaku sebelum peristiwa ini terjadi ya?”
“Benar Komang Ayu belum pernah ketemu dengan Saras sebelumnya. Mereka baru bertemu saat di tempat kejadian.”
“Baik, nanti jangan lupa hubungi saya.”
“Iya Pak, saya akan langsung hubungi. Selamat pagi.” jawab Mukti. Pengacara yang Abu tunjuk untuk mengurus kasus ini adalah Putut Adhyaksa SH.
“Kamu dengar sendiri kan, barusan pengacara sudah minta hasil visum,” kata Mukti pada Ayya yang duduk di seberangnya.
“Mbok Darmi habis ini Ayya enggak bantuin beres-beres dan cuci piring ya. Kami mau langsung berangkat ke rumah sakit. Kalau enggak aku bilang seperti ini Ayya pasti ngotot mau bantu cuci piring,” Mukti langsung bicara dengan Mbok Darmi bahwa dia yang melarang Ayya untuk beberes.
“Iya Mas saya ngerti kok Mbak Ayu ini lho memang senengane mbantu enggak bisa diem. Kalau dilarang tuh tetap aja mau bantu. Ibu yo kemaren mesen ke Mbok jangan boleh dibantu mbak Ayu karena dia lagi sakit. Ibu bilang mbak Ayu enggak bisa diam dan beberapa kali malah masakin buat semua saat di rumah Solo,” mbok Darmi malah cerita kalau dia sudah di wanti-wanti bu Ambar.
“Ya dia sama persis sama mama. Persis!” kata Mukti. Dia ingat kemarin mas Sonny dan papanya juga bilang dalam hal diam pun Ayya dan Ambar mirip.
“Iya, memang anaknya Bu Ambar ini,” jawab mbok Darmi yang diberi jawaban senyum oleh Ayya.
‘Aduh tobat Gustiiiiiiiiiii, jangan anak Bu Ambar dong. Dia itu calon mantu Bu Ambar,’ batin Mukti mendengar perkataan Mbok Darmi. Anak dengan menantu kan beda status.
__ADS_1
Ayya yang mendengar perkataan Mukti hanya tersenyum.
“Maaf ya mbok aku enggak bantuin, karena aku harus cepat-cepat ke rumah sakit. Hasilnya sudah ditunggu oleh pak pengacara,” Ayya tetap minta maaf.
“Enggak apa apa Mbak Ayu, kan sudah Mbok bilang enggak usah suka bantu-bantu karena ibu juga sudah pesan begitu.”
“Enggak bisa lah enggak bantu-bantu. Rasanya piye gitu,” kata Ayya
“Ya sudah dibiasain aja,” jawab Mbok Darmi.
“Iya mbok.”
“Mas nanti perlu bawa laptop enggak” tanya Ayya.
“Enggak perlu, kita kan mau periksa aja terus langsung ketemu pengacara, jadi enggak perlu bawa laptop.”
“Berarti aku cuma bawa dompet aja ya. Eh iya sama ponsel aku Mas. Masih di Mas loh ponselku. Katanya waktu itu mau langsung di kasih ke aku,” Ayya baru ingat mau meminta ponselnya.
“Aku malah lupa, ada di mobil kayanya. Dari waktu itu enggak Mas turunin kok,” jawab Mukti.
Padahal ada di sakunya. Mukti senang memandang foto profil dalam ponselnya Ayya, yaitu Ayya menggunakan seragam SMA masih lugu dan sangat manis. Sekarang pun tetap manis sih cuma saat itu foto sma-nya tuh bener-bener keren buat Mukti.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.
__ADS_1