
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Maaf. Bukan menolak, tapi memang saya belum punya niat untuk memilih siapa pun," ucap Komang lirih.
"Aku yakin kamu nolak aku karena lebih memilih Kusno kan?" Ucap Dadang.
"Saya sudah bilang tak ingin memilih siapa pun. Saya belum ingin terikat dengan seseorang," balas Komang.
"Kamu lihatlah sendiri. Apa saya melanggar janji saya tidak dalam waktu dekat ini. Saya masih berpikir untuk membahagiakan ibu saya saja," ucap Komang lagi.
“Jelaskan?” kata Komang.
“Bukan saya mau terima siapa, saya belum bisa membagi waktu saya untuk seorang kekasih. Hidup saya hanya untuk ibu saya saja,” Komang langsung masuk dia ditunggu Sri sahabatnya.
\*\*\*
“Kenapa?” Sri melihat sahabatnya masuk dengan wajah seperti baju baru diperas, belum dijemur apalagi disetrika.
“Entahlah, aku udah berapa kali bilang aku belum siap membuka hati buat siapa pun. Konsentrasiku hanya buat ibu aja. Tapi dia malah ngotot. Dia bilang aku nolak dia karena aku mau terima Kusno.”
“Kan konyol Aku belum ingin terima siapa pun,” kata Komang
“Udahlah nggak usah dipikirin,” hibur Sri.
“Justru itu jadi keqi aja karena dituduh yang enggak-enggak,’ kata Komang lagi.
“Ayo segera masuk nanti keburu istirahat kita habis, sebelum kita belum sempet makan,” ajak Sri.
\*\*\*
__ADS_1
Wayan mengirim pesan pada Komang dia tahu putrinya tidak setiap saat pegang bisa ponsel karena memang Komang pernah bilang dia tidak leluasa memegang ponsel.
Komang bilang dia bisa terima telepon kalau urgen saja. Itu pun hanya 5 menit. Namanya kerja di cafe orang ya nggak bisa sebebas di usaha sendiri. Sama seperti pegawainya juga pada nggak bisa terima telepon sembarang waktu.
‘*Papa sedang mempersiapkan untuk gugat cerai. Semoga cepat berhasil sehingga kita bisa bersama ya,’ t*ulis Wayan.
Wayan sudah hafal putrinya pasti hanya membaca, tak pernah membalas. Kalau membalas hanya tulisan YA, atau kadang juga memang tak ada respon. Buat Wayan yang penting Wayan sudah memberitahu semuanya agar mereka bisa ada komunikasi setelah puluhan tahun tak bisa komunikasi lancar.
‘*Ternyata pergantian uang damainya sangat besar. Bukan hanya sebesar modal usaha awal. Tapi juga ditambah keuntungan*.’
‘*Padahal keuntungan sudah diambil tiap bulan oleh dia. Benar-benar mencekik leher. Tapi enggak apa apa yang penting Papa bisa terbebas dari dewi ular ini*.’
‘*Doakan Papa segera bisa bersatu dengan kalian ya*.’
‘*Kamu enggak akan percaya, jumlahnya 3 kali lipat dari modal usaha benar-benar Papa nggak bisa bergerak. Selama ini Papa sudah jadi bonekanya. Sekarang Papa membulatkan tekad cuma demi bisa lepas dari dia, biar bisa bergabung dengan kalian*.’
\*\*\*
“Berhasil Pa?” tanya Mukti saat mereka bertemu di rumah malam ini.
“Enggak. Enggak berhasil. Ternyata dia sudah jual perusahaannya yang di Bandung,” jawab Abu.
“Kita blank ya Pa.”
“Iya, sama sekali nggak ada titik terang buat bertemu mereka.”
“Nanti pasti ketemu Pa. Tenang aja,” Mukti berupaya menghibur papanya.
“Yang penting besok janjian dengan lawyer jadi kan?”
__ADS_1
“Jadi tapi kan kita pagi ketemu sama Vio dulu Pa. Kita kasih tahu dulu bahwa kita tarik pengacaranya dan aku akan talak dia di depan Papa. Nikah siri kan juga harus talak cerai Pa.”
“Oke, besok pagi-pagi sekali aja biar kita bisa ketemu pengacaranya lebih cepat.”
“Pengacara aku udah bilangin dia bisa ketemu jam makan siang Pa. Kosongnya dia jam 12.00 sampai jam 02.00,” jawab Mukti.
\*\*\*
Vio terkejut melihat suaminya datang bersama Abu, sosok yang paling dia benci karena membuat mamanya frustasi dan pergi ke club. Menurut info yang Vio miliki, Abu telah menghisap madunya Imelda dan Diandra tapi lalu mencampakkan dua kekasihnya itu demi Ambar.
“Assalamu’alaykum Pak,” sapa Vio dengan takut karena Abu berwajah datar. Di kantor walau tak kenal dekat wajah Abu tak pernah sedingin ini.
‘Wa’alaykum salam. Maaf tak perlu basa basi, saya hanya menemani anak saya. Tak ada niat bicara dengan kamu sama sekali,” jawab Abu.
Vio terpana mendengar kata-kata Abu. Dia memandang Mukti yang juga tak memandangnya penuh cinta seperti biasanya. Bahkan tak ada senyum di wajah yang biasanya sangat mendamba dirinya itu.
“Aku kesini ingin kamu tahu, bahwa aku telah sadar, kalau selama ini semua yang aku lakukan di belakang keluarga besarku adalah SALAH BESAR.”
“Aku telah menikam kakak kandungku sendiri hanya karena percaya kamu tak pernah mencintainya dan tunangan dengan hanya demi misimu mendapatkan semua harta papaku.”
“Aku sadar, seorang perempuan yang bisa menikam ayah suaminya pasti bukan perempuan baik-baik. Bagaimana bia kamu menikam papa dan kakakku sedang kamu malah mengajak menikah denganku?”
“Kalau sejak awal aku tahu misi yang kau katakan adalah mengambil semua harta papaku, aku tak akan mau menikah denganmu walau aku mencintaimu.”
“Sekarang semua telah usai. Violine Ayaka dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan siapa pun, saya Lukito Harjomukti dengan ini mentalak kamu sebagai istri. Dan karena kamu bukan istri saya maka jelas saya tak akan menanggung apa pun biaya hidupmu termasuk pengacara.”
Tak ada sepatah kata pun yang sanggup Vio keluarkan. Dia hanya diam, bahkan tak dia jawab salam yang kedua lelaki trah Lukito itu ketika pamit akan meninggalkan ruangan itu.
Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA DITOLAK, DUKUN SANTET BERTINDAK
Kali ini ceritanya ada bau-bau mistis yaaa
__ADS_1
Biar enggak bosen