CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BUKAN HANYA CANTIK PENAMPILANNYA SAJA


__ADS_3

“Kami nggak ganggu kan?” kata Lukas saat mereka sudah duduk di teras studio.


“Enggak kok. Enggak ganggu. Ya kayak begini lah persiapan kami,” kata Ayya. Dia dan beberapa anak galeri memang sedang menyusun data. Tapi sudah hampir selesai. Setidaknya teman-temannya itu melihat memang dia masih bekerja.


Hari itu Lukas datang bersama Carlo kali ini juga bersama Mbak Niken dan Mbak Hanum dari bagian dari PH-nya.


“Kenapa nggak sama artisnya sih jalannya?” tanya Mukti.


“Artisnya suka pada songong. Mereka memanfaatkan nama aktor. Biasanya panjat sosial,” kata Niken.


“Kalau sama emak-emak begini kan nggak ada yang bikin gosip atau rumors,” mbak Hanum melengkapi jawaban temannya.


Azan maghrib berkumandang Mukti baru saja selesai mandi, karena dia memang tadi sibuk produksi jenis-jenis kecil.


“Ada yang mau ikut salat jamaah magriban bareng?” tanya Ayya.


“Ini aku sudah keluarkan mukena dan sajadah kalau ada yang mau. Aku dan Pak Mukti salat dulu,” Ayya menuju ruang salat di pojok belakang.


Ternyata Carlo dan Mbak Niken ikutan salat. Mbak Hanum sedang berhalangan katanya. Di situ Ayya baru tahu bahwa Carlo juga muslim. Karena dia pikir pemuda dari Batak itu non muslim. Kalau Lukas memang jelas dia dari Manado dan bukan muslim.

__ADS_1


“Silakan mau jadi imam,” Mukti memberi kesempatan pada Karo


“Saya makmum saja,” kata Carlo.


Mereka pun salat berlima karena Bu Ikhlas belum pulang. Bu Ikhlas memang bilang tadi akan pulang terlambat karena akan banyak tamu kasihan bu Pinem bila sendirian.


“Maaf ya aku nggak keluarin snack biar kalian lapar.” kata Ayya setelah dia kembali berkumpul bersama Lucas dan Mbak Hanum.


“Aku juga minta maaf sama Carlo karena masakannya nanti sudah pernah dia cicipi ketika pertama kali datang ke sini. Aku sudah janji mau masakin ini buat Lukas. Jadi hari ini memang spesial buat Lukas,” kata Ayya.


“Semoga aku nggak dijatuhin, sudah diangkat tinggi-tinggi lalu terhempas jatuh. Itu sakit banget,” kata Lukas. Semuanya pun tertawa.


Mereka menyiapkan 6 piring iga bakar dengan platting sayuran steak serta kentang goreng yang ukuran besar. Tetap tersedia nasi karena ada sop kambing. Selain itu Mukti juga makan iga bakarnya pakai nasi. Tidak cukup hanya dengan kentang.


“Ayya seriusan ini masakan kamu?” kata Niken.


“Yahhhh, tadi aku lupa bikin video waktu aku masak sebagai bukti,” kata Ayya dengan mimik menyesal. Membuat semua tertawa.


“Ayo silakan langsung makan,” kata Mukti. Padahal dia sendiri belum memulai.

__ADS_1


Ayya mengambilkan sedikit nasi di piring untuk diberikan pada Mukti. Semua tentu memperhatikan itu terlebih-lebih Carlo.


“Carlo, Lukas kalian makan pakai nasi lo. Kalau cuma kentang seperti itu pasti nggak kenyang, walau kentang gorengnya masih banyak kok,” kata Ayya memperlihatkan kentang yang ada di piring panjang.


“Aku pikir cuma penampilannya saja yang cantik.” kata Mbak Hanum saat mulai mencicipi hidangan miliknya.


“Ternyata rasanya super-super cantik.”


“Secantik yang masak ya,” kata Carlo.


“Ya bener secantik yang masak,” jawab Mukti sambil mengusap tangan kanan Ayya yang berada di sebelah kirinya dengan penuh senyum. Tatapan penuh cinta tak pernha hilang dari mata pemahat itu.


Ayya menoleh pada Mukti dan membalas dengan senyum manis.


“Yang suka pedas mohon maaf, hari ini jadi nggak ada sambel-sambelan,” kata Ayya.


Lukas mengambil sop kambing di mangkok kecil yang tersedia.


“Komang! Ini super. Wah sop kambingnya maknyus banget. Kalah deh sop kambing yang di Jakarta yang biasa aku beli. Yang paling top di sana ternyata rasanya kalah,” kata Lukas sambil makan sop kambing tanpa nasi. Dia memang penggila hidangan berbahan dasar kambing.

__ADS_1


__ADS_2