CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MEMBANTU TAK PERLU JADI PACAR


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Kamu istirahat kamu terlalu memaksakan diri. Besok kamu full libur kan?” kata Sri pada sahabatnya.



“Alhamdulillah, besok aku nggak libur,” jawab Komang.



“Kenapa?” tanya Sri. Malam itu mereka sedang dalam perjalanan pulang ke kost-an mereka di belakang cafe tapi beda pagar. Jadi mereka harus mutar, keluar dari pintu depan cafe lalu masuk ke gang disamping cafe untuk menuju belakang. Disana kost khusus perempuan.



Dadang tidak kost, dia tinggal di rumah orang tuanya. Dan Kusno tinggal di kamar cafe bersama seorang koki pegawai lama. Memang di cafe ada 1 kamar untuk pegawai agar ada yang jaga di dalam selain ada satpaam di depan juga satpam lingkungan.



“Kebetulan Sari anak baru itu besok tidak bisa masuk. Tadi dia lapor sama Dadang bahwa besok akan izin. Jadi aku tawarkan tenagaku untuk menggantikan Sari. Nanti Sari yang akan membayar kepada aku karena anak baru kan belum boleh tukeran. Dan aku enggak tukeran, anggap aja absen sebagai Sari,” Komang menjelaskan mengapa besok dia tidak libur.



Kenapa sih kamu tuh nggak mau istirahat?” tanya Sri bingung.



“Bukan enggak mau istirahat dan aku bukan nggak butuh istirahat, yang pasti aku butuh duit sangat banyak agar bisa membawa ibuku dirawat di rumah sakit.” Ujar Komang.



“Mengapa kamu enggak berpikir untuk menjual rumahmu?” Sri tahu di Badung sana Komang dan ibunya bukan kontrak rumah tapi punya rumah sendiri walau kecil dan sederhana.


__ADS_1


“Tidak saat membeli rumah itu menggunakan uang tabungan ibu saat masih gadis, saat dia masih bekerja pada papa dan istrinya. Itu adalah kebanggaan ibu. Jadi aku enggak mau menjualnya dan tentu aku juga tidak berani menggadaikan takut tidak bisa ketebus, malah nanti rumahku hilang. Kasihan Ibu jadi kepikiran,” jelas Komang.



Memang sejak tahu Sukma punya anak, orang tuanya melarang Sukma mengirim gajinya. Jadi semua uang gaji Sukma dia tabung. Juga semua pemberian Wayan, dia tabung karena untuk makan dan tempat tinggal dia tak mengeluarkan biaya sejak kelahiran Yaya sampai mereka pindah dari Gianyar ke Badung.



Saat masih tinggal bersama Wayan juga memberi nafkah sebagai suami dan ayah. Sehingga tabungan Sukma cukup untuk beli rumah sederhana di Badung.



“Oh gitu, tapi bisa aja sih kamu cari pinjaman sedikit dengan agunan rumah itu,” kata Sri.



“Enggak bisa, nanti kalau enggak ketemu yang buat bayar kan malah bahaya. Kalau ibu dengar juga akan jadi beban buat dia,” jawab Komang Ayu.



“Iya sih kebanyakan seperti itu. Lebih baik tidak cari resiko,” akhirnya Sri setuju dengan pendapat Komang.



\*\*\*



“Kamu kenapa sih ngotot banget harus masuk kerja?”  tanya Dadang siang itu.



“Kamu kan tahu aku sangat butuh uang buat berobat ibuku,” jawab Komang Ayu tanpa malu. Memang beberapa kali dia meminjam uang teman sesama pegawai bila ibunya butuh obat saat dia belum gajian. Sehingga bukan jadi rahasia lagi kalau ibunya Komang butuh biaya besar.



“Aku akan bantu kamu full, kalau kamu jadi kekasihku,” bujuk Dadang.

__ADS_1



“Kekasih itu tak ada keharusan membantu pacarnya. Kamu bukan suamiku dan juga bukan menantu ibuku. Aku tak mau hutang budi pada siapa pun,” kata Komang Ayu dengan jelas.



“Kalau kamu mau membantu, tak perlu harus menjadi kekasih. Bantu saja semua orang yang memang kamu rasa perlu dibantu. Tak perlu hanya membantu aku,” kata Komang Ayu. Mereka memang sedang istirahat. Pegawai di cafe ini istirahat bergantian.



Dadang merasa tertampar dengan kalimat yang keluar dari mulut Komang Ayu. Memang seharusnya membantu itu tidak harus jadi kekasih dan ternyata Komang Ayu tidak merasa tergiur dengan teknik yang dia berikan. Komang Ayu merasa lebih baik bekerja jungkir balik daripada dia bantu full. Sungguh tak terduga. Membuat Dadang semakin tak mau mundur memiliki gadis baik dan sopan ini.



“Lagian gaji itu milikmu. Selama ini kamu pasti ada membantu entah adikmu entah ibumu atau siapa pun. Atau mungkin buat kamu hidup hura-hura. Kalau kamu bantu aku pasti pos itu akan berkurang. Aku tak mau membuat kamu jadi harus berpikir ulang mencari pos pengganti.”



“Soal hubungan kita, cukup! Seperti yang aku bilang, aku tidak akan menerima siapa pun jadi please nggak usah mulai bahas lagi,” kata Komang.



“Dadang, Komang, tolong bantu kami. Maaf istirahat kalian belum selesai tapi ada rombongan datang kami butuh bantuan tenaga,” kata Kusno saat menghampiri keduanya.



“Bilang aja kamu nggak suka kan aku dekat dengan Komang Ayu?” Dadang sedikit membentak Kusno.



“Terserah kalau itu yang kamu pikirkan. Kenyataannya ada tamu rombongan berjumlah 17 orang. Mari,” kata Kusno pamit dan Komang langsung ikut di belakang Kusno.



Perseteruan dua pemuda itu memang semakin tajam sejak Ayu menolak keduanya. masing-masing berpikir kalau Ayu akan memilih kompetitornya bukan memilih dirinya.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok

__ADS_1



__ADS_2