CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SELUK BELUK STUDIO


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Studio milik Mukti terletak di ujung bukit tapi juga dekat pantai jadi deburan ombak tetap terdengar cuma karena di tempat tinggi jadi tak basah oleh air laut.



Ayya kagum memandangi pemandangan indah di sekitar studio. Lokasinya luas, udara sejuk dan banyak bahan mentah kayu untuk bahan pahatan Mukti.



Ayya melihat banyak pekerja yang sedang membuat kerajinan pahatan kecil-kecil yang dibuat dengan beberapa alat. Biasanya kerajinan kecil-kecil itu dijual partai bukan ecer pada para pedagang.



“Ada berapa pekerja Mas?” tanya Ayya ketika mereka telah tiba di pendopo studio.



“Yang tinggal di sini 4, tapi jumlah pekerjanya pengrajinnya 11 orang. Ada 1 koki atau tukang masak yaitu bu Pinem. Dan ada satu yang buat bagian bersih-bersih. Jadi jumlahnya 13 pegawai selain aku,” kata Mukti.



“Baik akan saya eh aku ingat,” jawab Ayya.



“Mbak Komang, kamar depannya sudah saya bersihkan sesuai dengan permintaan dan Pak Mukti semalam. Katanya kamar mbak Komang ada di sebelah kamar pak Mukti,” kata bu Pinem yang tadi menyambut mereka saat Mukti baru tiba.



Ayya dan bu Pinem sudah berkenalan. Bu Pinem tinggal di sini bersama seorang anak gadisnya yang berumur 9 tahun. Suaminya baru meninggal 2 tahun lalu. Dulu suaminya juga bekerja di sini sebagai penanggung jawab studio.



“Iya Bu, terima kasih,” jawab Komang Ayu.



Komang Ayu terbiasa dipanggil Komang atau Ayu atau siapa lah terserah saja karena memang tiap lingkungan dia beda panggilanya. Tak perlu bingung.



“Ayo saya antar berkeliling melihat semua fasilitas di sini,”  aja Bu Pinem pada Ayya.

__ADS_1



“Ini dapurnya dan ini gelas milik pak Mukti yang tak boleh dipakai oleh siapa pun.”



“Kalau piring apa ada pengecualian?” tanya Ayya agar tak salah.



“Enggak Mbak kalau piring campur. Hanya gelas yang enggak boleh dipakai oleh siapa pun. Baik gelas minum maupun cangkir untuk minum kopinya.”



“Oke, terus apa lagi?”



“Enggak ada sih, itu tempat cuci baju. Di sini ada Bu ikhlas namanya yang bersih-bersih dan cuci baju. Hari ini dia sedang ke pasar karena saya bertugas menunggu kedatangan pak Mukti.”



“Kalau baju pak Mukti biasanya dicuci dan setrika Bu Ikhlas.”




“Pak Mukti bilang mbak Komang hanya bagian urusin makan dan minum dia saja bukan urusan yang lain kecuali pas saat mau pergi nanti Mbak yang siapin bajunya tapi kalau cuci dan setrika bukan urusan Mbak,” kata Bu Pinem. Rupanya Mukti sudah antisipasi agar Ayya tak dianggap pemalas atau tak mau kerja tapi tak boleh mengejakan selain mengingatkan jadwal makan dan salat saja.



“Kalau mbak mau cuci baju, maksudnya tempatnya di situ,” jelas Pinem sambil menunjuk mesin cuci.



“Iya Bu, saya mengerti,” jawab Ayya.



“Kamar mandi ada di dalam setiap kamar utama Mbak. Untuk tamu yang datang ada kamar mandi di luar studio atau kamar mandi umum di depan sini. Untuk kami para pegawai ada lamar mandi di belakang.”



“Saya mengerti Bu.”


__ADS_1


“Di sini selain menggunakan PAM, juga ada sumur cuma sangat berat karena sangat dalam. Ada pompa air juga. Ada tiga cara untuk mendapatkan air karena kadang listrik padam dan PAM tidak mengalir jadi harus menggunakan cadangan dari timba. Tapi yang lebih umum kami pakai adalah PAM.”



“Kalau belanja bahan masakan ke mana ya? Atau belanja kebutuhan pribadi misalnya saya mau beli sesuatu.”



“Nanti di antar putri saya saja untuk memberitahu letak toko atau warung sayur.”



“Siapa nama putrinya Bu?”



“Menik, dia masih sekolah.  Umurnya 9 tahun. Sebentar lagi dia pulang.”



“Baik Bu nanti kapan-kapan saya ajak Menik sambil jalan-jalan melihat lingkungan sini. Belum hari ini koq,” jawab Ayya.



“Kalau mau keluar ada sepeda Mbak. Biasa buat kita pakai ke warung. Tapi bisa juga pakai motor kalau mau jauh perginya.”



“Baik Ibu. Terima kasih,” Ayya senang mendapat keterangan dari bu Pinem.



“Semoga saya tidak merepotkan Ibu ya.”



“Tak  akan merepotkan, saya tahu kalau yang di bawa pak Mukti itu pasti orang pilihan. Dia enggak akan bawa orang sembarangan untuk tinggal di dalam lingkungannya, saya tahu itu.”



“Terima kasih atas kepercayaannya Bu.”


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok.


__ADS_1


__ADS_2