
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Tanpa buang waktu Komang Ayu dan Kusno bahu-membahu membantu tim yang sedang bekerja. Mereka benar-benar all out. Komang Ayu benar-benar membantu padahal hari itu hanya sekedar absen mengganti Sari. Komang ayu tetap dengan benar-benar bekerja dengan tekun.
“Kamar mandinya di mana ya Mbak?” tanya seorang pengunjung dari rombongan tadi.
“Oh silakan Bu, itu yang di pintu merah belok kiri nanti itu kamar mandi perempuan. Kalau belok kanan itu tempat laki-laki Bu,” jawab Komang dengan santunnya.
“Baik. Terima kasih ya Mbak,” kata si pengunjung tadi.
Komang lalu langsung membersihkan diri tangan dia tadi habis bawa piring kotor. Komang langsung cuci piring.
“Aduh kepengen pipis lagi,” kata Komang yang langsung menuju toilet karyawan. Toilet karyawan sedang isi. Toilet karyawan itu digabung untuk perempuan dan laki-laki tapi sedang ada isinya. Lalu Komang terpaksa pergi ke toilet pengunjung yang perempuan. Setengah berlari Komang masuk toilet karena ingin segera menuntaskan panggilan alamnya.
Saat cuci tangan di wastafel, Komang melihat handphone dan dompet. Komang langsung mengambil dan bergegas keluar mencari ibu yang tadi dia arahkan untuk ke toilet ini.
__ADS_1
“Maaf Ibu,” sapa Komang sopan.
“Iya kenapa?” tanya ibu tersebut.
“Ibu maaf ini dompet dan ponsel ibu tertinggal di wastafel,” kata Komang sambil menyodorkan handphone dan dompet yang memang tadi Komang lihat ibu tersebut bawa ke toilet.
“Masya Allah, kamu itu baik sekali,” si ibu menerima handphone terbaru dengan harga puluhan juta dan dompet cukuplah kalau untuk 3 bulan gajinya Komang.
Ibu itu lalu mengambil satu bundel uang dan dia selipkan kepada jemarinya Komang.
“Tidak Bu, tidak perlu seperti ini,” tolak Komang.
“Ini bukan soal uang di dompet Nak,” kata si Ibu.
__ADS_1
“Tapi kartu identitas saya serta banyak kartu bank. Saya males kalau urus-urus lagi. Harus lapor polisi lalu urus ke RT RW dan seterusnya walau pun bisa menyuruh orang, tetap aja kan harus datang buat tanda tangan. Belum lagi ponsel. Di ponsel banyak data yang saya simpan. Data bank, data email dan sebagainya. Jadi terima aja ya Nak,” kata si ibu.
“Terima kasih Bu,” kata Komang. Uang merah 20 lembar yang diselipkan ke tangan Komang itu tak ada artinya bagi si ibu. Sedang ponselnya aja 10 kali lipat lebih harga dari 2 juta itu. Ditambah isi dompet juga kartu identitas, kartu-kartu debit dan kartu kredit miliknya kalau harus urus baru kan ngerepotin.
Komang bersyukur tak disangka niat baiknya cari uang buat sang ibu mendapat berkah karena menggantikan Sari yang sedang berhalangan datang bekerja.
“Kenapa kamu?” kata Sri.
“Aku enggak sengaja nemuin dompet tebal sekali, juga ponsel mahal, lalu aku diberi uang tips,” kata Komang jujur.
“Alhamdulillah,” jawab Sri. Dia merasa ikut senang, karena Komang menangis pun dia akan ikut menangis. Jadi Komang bahagia dia juga bahagia.
“Besok aku akan setor untuk Pakde Saino buat Ibu,” kata Komang lagi.
Komang memberikan satu juta setengah untuk dikirim ke Pak Saino, 400 nya dia kembalikan ke banyak teman. Alhamdulillah uang di tangannya tinggal 100 untuk jaga-jaga keperluan kebutuhan pribadinya.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok
__ADS_1