CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ENGGAK BOLEH NGOMONG


__ADS_3

Sidang pertama kasus banding hanya membacakan rincian kasus juga pembacaan keputusan dari sidang sebelumnya serta data-data lain. Hakim juga membacakan jati diri tersangka yang mengajukan banding dan jati diri pelapor, pengacara masing-masing yang maju.


‘Ada perbedaan pada diri Saras, pipinya jadi lebih chubby padahal dia ada di dalam penjara,’ batin Ayya. Dia mengamati Saras dengan saksama saat perempuan itu berdiri menyalami hakim.


“Mas aku boleh ngomong nggak?” tanyya Ayya ketika mereka telah keluar dari ruang sidang.


“Kalau Mas bilang nggak bagaimana?” canda Mukti.


“Ya udah aku akan teriak-teriak, enggak ngomong biasa,” jawab Ayya santai.


“Nanti saja ya ngomongnya, kita temuin Pak Putut dulu.” balas Mukti saat berhenti menunggu di depan ruang sidang, pak Putut masih bicara di dalam.


Mukti dan Ayya menunggu Putut keluar dari ruang sidang. Saat itulah Saras lewat bersama kedua orang tua dan pengacaranya. Ayya kembali memperhatikan benar tidak dugaannya terhadap Saras.


“Wah rupanya saya ditungguin. Saya kira kalian sudah langsung pulang,” Pak Putut langsung bereaksi melihat Mukti dan Ayya yang berdiri di depan ruang sidang.

__ADS_1


“Enggak Pak Putut. Tadi sebelum datang kan kita belum sempat ngobrol karena sudah langsung masuk. Pak Putut sibuk dengan berkas, maka kita ngobrol sekarang yuk sambil ngopi,” kata Mukti.


“Nggak ngopi lah Mas siang-siang begini. Kita ngejus saja biar sehat,” kata Ayya pelan.


“Iya. Cuma ngomongnya doang. Istilahnya ngopi padahal kita ngejus atau minum yang lain,” balas Mukti sambil memeluk bahu tunangannya. Dari jauh Saras masih sempat melihat itu. Bahkan tepat saat Saras menengok saat itu Mukti sedang mencium kening Ayya lembut.


“Ih sekarang dia di depan umum pun berani berbuat seperti itu,” ujar Saras sangat lirih, melihat bagaimana sayangnya Mukti terhadap perempuan yang dia benci itu.


“Pak Putut mau makan nggak?” tanya Ayya saat masuk ke cafe.


“Gimana kalau kita ngemil pizza saja?” tanya Ayya.


Ayya mengirim pesan pada seseorang saat dia duduk sehabis pesan pizza tadi.


Akhirnya mereka pun ngemil pizza dan minum coke untuk membahas tentang rencana persidangan selanjutnya.

__ADS_1


“Pak Putut, saya cuma mau kasih tahu, untuk sidang selanjutnya kemungkinan besar Ayya atau saya tidak bisa hadir sama sekali. karena dua minggu lagi kami berangkat ke Solo untuk pameran selama 3 bulan. Bisa saja sih kami bolak-balik terbang untuk menghadiri persidangan, cuma bukan sayang uangnya melainkan waktunya yang terlalu mepet. Takutnya pas di sana kerjaan nggak bisa ditinggal,” kata Mukti memberitahu pada Putut soal kegiatannya dia dua minggu kedepan.


“Saya rasa sidang minggu depan atau minggu berikutnya Mbak Ayu masih bisa datang. ‘Kan belum berangkat ke Solo. Nanti sidang lanjutannya baru mbak Ayu bisa nggak datang. Saya akan bikin jadwal Mbak Ayu dua kali sidang ini bisa hadir,” kata Putut.


“Oh bagus kalau masih bisa seperti itu. Takutnya sidangnya bukan minggu depan,” jawab Mukti sambil mengunyah pizza miliknya.


“Minggu depan sidang dimulai biar cepat selesai. Saya juga nggak mau lama-lama nanganin satu kasus. Masih banyak kasus lain yang harus saya handle,” jawab Putut.


“Oke kalau kayak gitu, clear masalahnya.” jawab Mukti.


“Terima kasih ya Pak Putut, sudah membantu saya sampai tahap ini,” kata Ayya saat mereka akan berpisah di parkiran cafe.


“Sama-sama Mbak Ayu, sudah jadi tugas saya kok,” kata Putut yang sekarang ikut memanggil Ayu karena setiap bicara dengan Abu dan Ambar selalu mereka menyebut Ayu, bukan Komang. Jadi sekarang Putut pun ikut memanggil Ayu.


Mereka pun berpisah di parkiran menuju mobil masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2