
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Nah ini Kek tempat kami berkumpul untuk kegiatan kali ini. Ayok kita turun,” ajak Mukti ketika telah tiba di area pameran kali ini.
“Teman-teman ini ada pemahat senior kita. Beliau dulu lama di sini waktu kita belum lahir,” Mukti membuka perkenalan Rustam pada semua teman yang sudah berkumpul untuk acara penting doa malam ini.
“Namanya kakek Rustam. Beliau tinggal di Cirebon. Putranya kerja di Bandung. Padahal mereka asli Malang,” kata Mukti memperkenalkan kakek kandungnya itu pada semua teman-temannya.
Semua teman seniman yang sedang berkumpul di situ menyambut Rustam dengan sukacita. Saat itu ada pemahat atau pematung, ada pelukis ada penari dan sebagainya pokoknya tumpah ruah seniman berkumpul di situ sebelum besok akan Grand Opening pameran. Malam nanti ada resik-resik atau yang doa bersama lintas agama agar pameran yang akan mereka dadakan berjalan lancar tanpa hambatan.
Rustam dengan mudah cepat membaur dengan para seniman muda. mereka bertukar cerita, bertukar pengalaman dan bertukar ilmu. Hanya Mukti yang tahu bahwa kakek yang sedang asyik bercengkerama dengan mereka adalah kakek kandungnya.
Sehabis salat magrib bagi yang muslim maka doa lintas agama dimulai dipimpin oleh pemuka adat wilayah itu dan beberapa pemuka agama yang ditunjuk. Sesudah itu Mukti mengajak semuanya makan malam ambil beramah tamah.
“Teman-teman, ayo ini sudah terlalu larut untuk kita sebaiknya kita bersiap pulang dan agar tubuh kita fresh besok pagi-pagi sekali,” kata Mukti.
__ADS_1
“Kamu enggak salah?” kata Bagus.
“Ini baru jam 09.00 malam,” Bagus melanjutkan protesnya.
“Benar saat ini baru jam 09.00 malam, tapi besok pagi jam 07.00 pagi kita sudah harus siap di sini. Setidaknya sehabis salat subuh kalau aku dan Made kami harus sudah berangkat.”
“Kalian yang tidak beragama Islam bersiap juga sejak dinihari kan? Besok kita butuh stamina yang kuat buat pembukaan. Dan sebelum pembukaan emosi kita sudah terkuras.”
“Banyak orang penting yang kita undang termasuk gubernur. Kita juga berharap asisten Menteri Pariwisata datang. Kalau kita loyo dan tidak sehat bagaimana kita mau menyambut mereka?” tanya Mukti.
Jam 09.00 malam buat mereka itu sangat cepat karena biasanya mereka bisa begadang sampai jam 1 atau jam 2 pagi untuk mengobrol.
Mukti membawa Rustam ke villa. Tadi teman-teman semua juga memanggilnya KAKEK Rustam, sesuai dengan permintaannya.
Tadi Mukti membuat foto dia berdua dengan kakek Rustam dan dia kirim pada grup chat keluarganya.
__ADS_1
‘*Kamu sangat mirip dengan dia daripada Ferry*,’ kata Abu yang sudah melihat Ferry secara langsung.
‘*Benarkah*?’ tanya Mukti tak percaya.
\* ’Ya sangat mirip. Kalau Ferry dia enggak seperti kamu. Mungkin Ferry lebih kuat genetik ibunya,’\* duga Abu.
‘*Bisa jadi, karena om Ferry juga tidak suka seni kan? Enggak seperti kakek Rustam*.’
‘*Oh ya, jangan berpikir yang enggak enggak soal panggilan kakek pada pak Rustam. Dia memang meminta kepada kami semua para seniman memanggilnya kakek. Jadi bukan aku saja yang memanggil kakek*,’ jelas Mukti di chat keluarga malam itu.
\*‘Kalau cuma kamu saja yang memanggilnya kakek juga itu wajar kok. Enggak masalah buat eyang pribadi atau buat kami semua,’ \*kata Angga.
‘*Iya enggak masalah kok. Malah itu lebih baik*,’ kata Ambar.
‘*Tapi bermasalah buat aku*,’ jawab Mukti.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok
__ADS_1