
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Mana Mas?” tanya Ayya begitu dia naik ke mobil. Ayya menanyakan telepon genggam miliknya yang Mukti bilang dia simpan di mobil.
“Ada itu, buka saja dashboard. Ada di situ kok,” kata Mukti. Ayya membuka dashboard di depannya dan menemukan ponsel miliknya.
“Kemarin sempat aku charge. Jadi mungkin baterainya penuh takutnya pas nyala kamu butuh charger kamu enggak bawa,” kata Mukti.
“Matur nuwun Mas,” jawab Ayya sambil langsung menyalakan ponselnya.
Ayya melihat banyak notifikasi panggilan masuk, juga pesan masuk. Yang banyak adalah dari Arjun, ada dari Sri, dari mama Ambar, dari Kak Adel dari Aksa dan juga dari papanya.
“Wah banyak banget ini panggilan masuknya, juga pesan masuk,” kata Ayya spontan mendengar nada notifikasi ketika ponsel menyala.
“Pasti banyaklah, namanya dia kangen sama kamu,” jawab Mukti dengan nada kesal.
“Ye emang dia siapa? Ini notif bukan dari satu orang koq,” Ayya membantah ucapan bossnya itu.
“Panggilan masuk dari banyak orang, ada dari Aksa, dari Kak Adel dari mama terus dari papa. Papa aku maksudnya papa Wayan, terus dari Sri juga dari Arjun beberapa panggilan. Pesan juga banyak,” kata Ayya.
__ADS_1
Ayya mulai membuka pesan satu persatu tak dipedulikannya Mukti yang memasang wajah cemberut. Sampai di rumah sakit pesan belum terbaca semua. Apalagi dibalas.
Baru pesan Adel, Ambar dan Wayan yang dia balas. Ayya minta maaf baru pegang ponsel sebab kemarin ponsel ditahan Mukti. Ayya bilang hari ini akan bikin visum juga kontrol ulang ke dokter. Hanya itu yang Ayu kabari pada Ambar, Adel dan Wayan. Yang lainnya belum dibalas sama sekali terlebih Arjun. Belum sama sekali dia balas atau buka pesannya.
“Kita kunjungi dokter yang kemarin dulu ya untuk bikin visum. Nanti baru kita daftar ke bagian dokter kulit dan kecantikan sesuai dengan rujukan,” Mukti memberitahu planningnya pada Ayya setiba di rumah sakit. Mereka belum turun dari mobil. Berkas rujukan sudah ditangan Ayya.
“Iya Mas, manut,” jawab Ayya.
Mukti menyerahkan surat dari kepolisian yang minta divisum waktu kejadian kemarin pada petugas pendaftaran dan oleh petugas Mukti di minta langsung ke IGD setelah petugas menghubungi IGD.
“Saya panggil dokter yang memeriksa langsung saat kejadian ya Pak, biar tak usah diperiksa ulang. Beliau lebih tahu kondisi waktu saat pasien datang,” kata suster di IGD sambil melihat petunjuk tanggal kejadian serta dokter yang menanganinya. Suster langsung mencari dokter yang ketika itu bertugas menangani Ayya.
Sambil menunggu Ayya kembali membaca pesan di ponselnya.
‘*Maaf kalau dua hari ponselku tak bisa kamu hubungi. Aku dapat musibah dan baru pegang ponsel lagi saat ini*.’ Baru satu pesan dikirim oleh Ayya, Arjun langsung menghubunginya. Arjun langsung meneleponnya tak lagi membalas dengan chat.
“Maaf Jun, waktu itu aku memang kecelakaan jadi ponselku enggak aktif dan aku emang harus istirahat total,” ucap Komang Ayu saat selesai berbalas salam.
“Kamu kecelakaan kenapa? Terus bagaimana kondisimu saat ini?” tanya Arjun dengan nada sangat khawatir. Ingin rasanya dia langsung terbang ke Bali saat itu juga. Mukti yang mendengar itu di sebelahnya menjadi sebal. Walau tidak di speaker tentu pembicaraan mereka terdengar jelas oleh Mukti yang duduk tepat di sisi Ayya.
__ADS_1
“Cuma ketumpahan kopi panas aja kok dan langsung dibawa ke rumah sakit. Hanya luka bakar, sekarang juga lagi di rumah sakit untuk kontrol. Enggak apa apa kok, sudah lumayan sembuh. Kamu enggak perlu khawatir ,” Ayya berupaya menenangkan Arjun.
“Pantas kamu langsung enggak hubungi aku. Aku pikir kamu marah atau menghindar dariku,” jawab Arjun sedikit tenang.
“Aku beneran sakit dan sekarang juga ada di rumah sakit. Kamu dengar background di mana lokasi aku saat ini aja bisa tahu kalau aku sedang di rumah sakit.”
Arjun memang mendengar panggilan dari suster untuk pasien juga dorongan dari brankar yang di memang khas.
“Aku mengerti kok. ‘Kan aku bilang tadi, aku bilang waktu itu aku berpikir kamu menghindar. Bukan sekarang. Sekarang setelah dengan penjelasanmu ya hilang dugaan itu,” Arjun berupaya tidak membuat Ayya marah padanya. Bisa gawat bila Ayya marah.
“Aku enggak menghindar. Ya sudah ya Jun, sebentar lagi aku dipanggil suster karena habis ini giliranku. Kamu kerja aja yang benar, enggak usah pikirin aku, aku enggak apa apa kok,” Ayya meminta mereka segera mengakhiri percakapan.
“Iya, tapi kabar-kabarin terus ya,” pinta Arjun.
“Iya Jun, tapi jangan langsung telepon. Enggak enak aku. Ini karena lagi free aja aku bisa langsung terima telepon kamu,” Ayya protes spontanitas Arjun yang langsung menghubungi dirinya.
“Iya aku ngerti. Tadi kan kepikiran kamu memang lagi free karena baru balas pesan aku setelah dua hari enggak nyala HP-mu. Ya langsung aku telepon. Biasanya juga aku kan tanya dulu,” Arjun menyadari kesalahannya yang tak bertanya dulu seperti biasa.
“Ya sudah ya, assalamualaikum,” Ayya langsung menutup pembicaraan, dia tak enak di sebelahnya ada Mukti, tadi dia tidak menjauh dulu dari Mukti saat menerima telepon.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.
__ADS_1