
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Assalamu’alaykum,” Ayya memberi salam sambil mengetuk pintu rumahnya.
“Wa’alaykumsalam,” suara seorang lelaki membalas salam itu dari dalam rumah.
Wayan dia tak percaya putrinya berdiri tegak di depan pintu rumah mereka.
“Ayyaaaaaaaaaaa,” teriak Wayan tertahan.
“Papaaaaaaa,” balas Ayya, dia langsung memberi salim dan memeluk papanya. Kedua insan yang lama terpisah jarak dan waktu berpelukan dalam derai tangis karena tak percaya mulai saat ini mereka akan bersama.
“Papa kangen kamu,” kata Wayan dengan suara bergetar menahan haru.
“Ayya sayang Papa,” bisik Ayya tanpa ragu.
Wayan memperhatikan putri tunggalnya. Ayya adalah belahan wajah Sukma istrinya. Perempuan yang sangat dia cintai. Komang Ayu dan Sukma memang sama-sama cantik dan wajah mereka mirip. Hanya postur tubuhnya sangat jauh berbeda. Ayya Andira putrinya mengikuti tinggi dan warna kulit Wayan yang agak putih sedangkan Sukma agak pendek dan kulitnya coklat sawo matang.
“Aku taruh barang dulu ya Pa,” kata Ayya Andira, dia tak kuat melihat papanya yang menangis.
Mereka akhirnya berbincang awalnya basa-basi saling bertanya khabar dan kesehatan. Wayan bercerita dengan rinci apa yang dia miliki saat ini setelah semua harta dan tabungannya ludes untuk mengurus perpisahannya dengan Dewi ular mantan istrinya dulu.
“Papa sekarang usaha apa. Atau mau usaha apa?” tanya Ayya Andira.
“Papa sedang melihat usaha apa yang enak di lakukan di rumah aja, enggak perlu Papa keluar rumah setiap hari,” jelas Wayan.
“Bagaimana kalau toko sembako kecil aja? Papa enggak perlu jauh-jauh keluar rumah dan enggak perlu tiap hari belanja,” saran Ayya Andira. Di depan Wayan, Komang Ayu Ngurah adalah Ayya Andira Ngurah. Karena AYYA adalah singkatan nama AY dari Sukma Ayu dan YA dari Wayan.
“Di sini toko sembako jauh, jadi Papa belanja seminggu sekali aja. Bisa tiap hari Jumat atau hari apa lah terserah Papa. Hari itu seharian toko tutup enggak perlu buka. Jadi Papa meninggal rumah santai dan tak perlu terburu-buru. Selain belanja hari ini Papa bebas melakukan hal apa pun agar tak terbebani dengan toko.”
__ADS_1
“Dan nanti beberapa barang kan juga bisa diantar oleh marketing dari produk tersebut misalnya pasti nanti ada marketing kopi, marketing minyak dan lain-lain. Mereka pasti akan ngedrop barang, kita tinggal bayar sesuai yang laku,” Ayya Andira merinci rencananya.
“Papa juga tadinya mikir gitu, tapi mau tanya kamu dulu karena rencananya nanti ruang depan Papa sekat untuk jadi toko. Tapi sekarang Papa akan bangun toko saja di halaman agar tak tergabung dengan rumah,” jelas Wayan.
“Papa atur aja. Aku enggak tiap saat di sini. Untuk saat ini aku harus balas jasa pada orang yang mengeluarkanku dari kesulitan saat ibu meninggal. Tanpa dia aku tak akan bisa menghadiri pemakaman ibu.”
“Aku ada sedikit modal buat tambah-tambah moda. Papa enggak boleh menolak, kita harus bangun usaha berdua. Aku tahu kondisi Papa juga enggak sedang bagus,” tegas Ayya Andira selanjutnya.
“Iya Nak, Papa memang minus kemarin, tapi sekarang sudah enggak kok. Papa sudah mulai mau bangkit,” kata Wayan dengan optimis. Wayan tadi jelas mendengar Ayya pernah ditolong seseorang saat mendapat khabar ibunya meninggal padahal tak punya uang sama sekali dan masih banyak utang pada managemen dan beberapa temannya.
“Papa sudah makan? Aku masak dulu ya?”
“Pagi Papa sudah makan kok, tadi bu Ati yang antar sarapan,” jawab Wayan jujur.
“Ya sudah aku mau masak buat makan siang dan makan malam kita,” Ayya Andira beranjak akan masak buat makan mereka. Ayya membuka kulkas, dia kaget banyak buah mahal di kulkas kecil miliknya.
Begitupun di dapur sembakonya lengkap, tempat beras penuh, minyak, gula, dan kopi semuanya penuh.
“Itu kemarin ada yang, eh iya abis belanja,” kata Wayan tergagap.
‘Papa bikin curiga gitu sih? Barusan mau bilang apa yang habis kata kemarin ya?’ Pikir Ayya Andira.
Ayya melihat di freezer ada ayam, daging, udang juga beberapa bentuk olahan misalnya nugget, bakso, fillet ayam, juga daging slice, daging dan ayam giling.
Ada keju juga susu di kulkas, semua membuat Ayya bingung.
Ayya melihat sayuran yang ada, dan dia olah itu sesuai dengan bahan baku karena dia tidak ingin keluar warung dulu.
\*‘Papa buang-buang uang untuk barang-barang ini apa karena aku datang aja?’ \*pikir Ayya sambil masak hari ini dia bikin capcay juga tempe dan kerupuk goreng.
__ADS_1
Sehabis selesai masak Komang Ayu langsung memisahkan satu mangkok kecil untuk dikirim ke Bude Ati dan Pakde Saino.
“Loh Nduk. Kamu kapan datang?” Bude Ati memeluk dan menciumi Ayya dengan penuh kerinduan.
“Tadi pagi Bude dan ini tadi aku baru masak buat makan Papa jadi aku kirim ke sini ya. Pakde ke mana?” tanya Ayya.
“Pakde lagi nganter barang Nak,” jawab Ati. Dia tadi protes Ayya tak memberitahu lebih dulu sehingga Saino tak di rumah dan dia tak masak apa pun untuk Ayya.
“Aku langsung pulang ya Bude aku tak berani di luar. Nanti malam aku dan papa akan ngobrol dengan pakde disini.” jelas Ayya.
“Kamu enggak perlu takut Nduk. Orang itu sudah dipenjara,” bude tahu Ayya tak mau menyebut nama sosok yang membuatnya kabus saat pengajian ibunya belum selesai.
“Kenapa?” tanya Ayya kaget bercampur senang.
“Dia mencoba melecehkan seorang gadis dan kebetulan ada yang melihat serta melangsung menangkapnya. Kebetulan yang melihat adalah seorang polisi yang sedang pulang kerja.”
“Alhamdulillah, jadi kampung kita aman,” Ayya menarik napas panjang. Dia bahagia karena orang yang sudah beberapa kali melecehkannya akhirnya tertangkap polisi.
Tadi dia belum cerita soal ini dengan Wayan, jadinya belum tahu cerita orang tersebut.
“Ya sudah Bude aku pulang ya, masih kangen sama papa,” pamit Ayya.
“Iya Nduk, Bude mengerti. Terima kasih ya sayurnya. Dan Bude tunggu malam nanti makan malam di sini,” pinta bude. Mendengar itu Ayya berniat akan membuat satu jenis masakan untuk dia bawa makan malam nanti.
“Terima kasih apa tho Bude? Tiap pagi kan Bude yang anter sarapan buat papaku,” Ayya malah memaparkan fakta yang selama ini terjadi saat dia jauh dengan papanya.
“Kalau pas ada sarapan saja bude anter, kalau makan siang dan makan malam papamu melarang karena dia bilang biarin dia ngolah sendiri.”
“Iya Bude, sekali lagi matur nuwun.”
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.
__ADS_1